IKN Ditargetkan Karbon Negatif di 2045, Simak Arti dan Strateginya

Ibu Kota Nusantara (IKN), yang disebut punya hutan yang terpoteksi, diklaim bakal didukung jaringan internet ngebut.

Jakarta, CNN Indonesia

Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) menargetkan ibu kota baru tersebut bisa karbon negatif pada 2045 dengan sejumlah strategi, mulai dari reforestasi, penggunaan energi, hingga penggunaan sistem agrikultur ramah lingkungan.

Dalam sebuah seminar di kantor OIKN pada Jumat (24/11), Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam OIKN Myrna Asnawati menunjukkan tiga skenario pengembangan kota beserta emisi yang dihasilkan.

Skenario pertama diberi nama Business-As-Usual di mana tidak ada langkah yang dilakukan untuk menekan emisi. Pada skenario ini, 4,3 juta ton karbon dioksida akan dihasilkan pada 2024 dan diperkirakan emisi tersebut akan meningkat menjadi 10,8 juta ton CO2 pada 2045.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Skenario kedua yang diberi nama Counter Measure 1 (CM1) adalah ketika sejumlah strategi dilakukan OIKN untuk mengurangi emisi.

Strategi yang disesuaikan dengan Peraturan Presiden Nomor 63 tahun 2022 ini ditargetkan akan bisa membuat IKN menjadi karbon negatif -1,1 juta ton CO2 pada 2045.

Sementara itu, pada skenario ketiga atau Counter Measure 2 (CM2) yang lebih ambisius, OIKN menargetkan karbon negatif hingga -1,6 juta ton CO2.

Dikutip dari International Energy Agency (IEA), karbon netral berarti setiap CO2 yang dilepaskan ke atmosfer dari aktivitas manusia diimbangi dengan jumlah yang setara dengan jumlah yang dihilangkan.

Sementara, menjadi karbon negatif berarti sebuah perusahaan, sektor, atau negara harus menghilangkan lebih banyak CO2 dari atmosfer daripada yang dikeluarkannya.

Merujuk pada definisi ini, target OIKN untuk menjadi karbon negatif dengan jumlah sangat besar tersebut tampak sangat ambisius.

Meski demikian, Myrna dan OIKN mempunyai sejumlah strategi utama yang akan diterapkan untuk mewujudkan ambisi tersebut.

“Strategi secara umum untuk mencapai NZC (Net Zero Carbon), kami fokus pada lima sektor, yakni FOLU, energi, IPPU, waste, dan agrikultur,” ujar Myrna dalam media briefing persiapan OIKN jelang COP 28 di kantor OIKN, Jakarta, Jumat (24/11).

Strategi pertama menyoroti sektor FOLU atau Food and Land Use Coalition.

Pada sektor ini OIKN akan melakukan sejumlah langkah, mulai dari mengurangi deforestasi; melakukan reforestasi setidaknya dalam 45 persen dari hutan dan lahan kritis yang ada saat ini; hingga melindungi ekosistem mangrove yang tersisa.

Selain itu, OIKN juga menyoroti pentingnya penegakkan hukum di sektor ini serta keterlibatan masyarakat melalui manajemen hutan berbasis komunitas.

Kemudian, pada sektor energi IKN memiliki target untuk 100 persen menggunakan energi terbarukan. OIKN juga menargetkan 10 minutes city design serta 80 persen mobilitas dengan transportasi umum.

Salah satu yang paling ambisius adalah target 100 persen kendaraan listrik di IKN pada 2045.

Sektor ketiga menyoroti Proses Industri dan Penggunaan Produk atau IPPU yang lebih fokus pada sektor konstruksi.

“Untuk IPPU kami fokus kepada sektor konstruksi sebenarnya, karena ini sangat penting bagi IKN. Karena itu penggunaan dari material yang lebih ramah lingkungan itu juga diharapkan. Terutama penggunaan-penggunaan bahan-bahan semen yang lebih ramah lingkungan,” katanya.

Dari sektor waste, OIKN mempunyai strategi pengelolaan sampah di mana mereka ingin mengurangi 80 persen sampah organik dengan proses komposting. Kemudian, OIKN juga melakukan pemilahan pada 80 persen limbah padat dan recycle pada 60 persen sampah.

Sektor terakhir yang akan menjadi senjata OIKN untuk mewujudkan ambisi karbon negatif adalah agrikultur. Pada sektor ini, OIKN akan menggunakan regenerative agricultural practices serta irigasi nol emisi dengan menggunakan solar water pump.

“Sementara untuk skenario 2, kurang lebih sama, tetapi dengan target-target yang lebih ambisius daripada skenario pertama,” pungkasnya.

Karbon, dalam beberapa bentuknya seperti CO2 dan CO, merupakan gas yang memicu efek rumah kaca pada Bumi. Dia membuat panas Matahari terperangkap di bawah atmosfer dan tak terlepas ke luar angkasa.

Hasilnya, Bumi perlahan memanas, iklim global berubah, ketidakseimbangan yang memicu bencana alam terjadi di mana-mana. Itulah krisis iklim. 

[Gambas:Video CNN]

(lom/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com