Hujan ‘Pergi’ dari Jawa Sepekan ke Depan, Simak Faktor Pemicunya

Apakah Indonesia sudah masuk musim kemarau, mengingat beberapa wilayah Indonesia sempat diterpa panas beberapa hari?


Jakarta, CNN Indonesia

Meski sudah masuk musim hujan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan secara umum wilayah Pulau Jawa akan mengalami cuaca cerah berawan seminggu ke depan.

Daerah-daerah di Jawa, termasuk Jabodetabek, pada umumnya mengalami musim hujan sejak tengah November.

Namun, berdasarkan prediksi akumulasi curah hujan untuk wilayah Indonesia periode 16-21 Desember 2023 di akun Instagram-nya, BMKG menunjukkan pulau Jawa “secara umum cerah berawan” pada 16-21 Desember.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

[Gambas:Instagram]

Meski demikian, dalam Prospek Cuaca Sepekan ke Depan periode 15–21 Desember, BMKG menyebut wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur memiliki potensi hujan intensitas sedang hingga lebat.

Sementara itu, wilayah Jawa bagian Barat seperti Jabodetabek cenderung cerah berawan. Di wilayah ini, hanya Bogor yang berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan pada 18–20 Desember.

Hujan intensitas ringan sendiri didefinisikan dengan hujan dengan intensitas berkisar antara 0,5 hingga 20 milimeter per hari.

“Pada sepekan ke depan sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa bag. tengah hingga timur, Bali dan Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat,” ungkap BMKG.

Peringatan dini cuaca ekstrem, seperti puting beliung, hujan lebat disertai kilat/petir, hujan es, dari BMKG pun didominasi wilayah non-Jawa. Berikut rinciannya:

16 Desember

Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Jawa Timur, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan;

Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

17–18 Desember

Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Kep. Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Barat, dan Papua.

19–21 Desember

Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Kep. Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara;

Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Faktor pemicu

BMKG menjelaskan sejumlah faktor yang mendorong fenomena peningkatan curah hujan periode ini.

Pertama, aktivitas gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial. Fenomena ini diprakirakan aktif di wilayah Kalimantan bagian utara, Sulawesi bagian utara, Maluku Utara, dan Papua Barat bagian utara dan selatan dalam sepekan ke depan.

Kedua, gelombang atmosfer Kelvin yang aktif di wilayah Jawa, Bali, Nusa tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua hingga sepekan ke depan.

“Faktor-faktor tersebut mendukung potensi pertumbuhan awan hujan.”

Ketiga, sirkulasi siklonik terpantau di Samudera Hindia sebelah barat Aceh, Laut Natuna, Samudera Pasifik Sebelah utara Papua, Australia bagian utara dan di Teluk Carpentaria.

Fenomena ini membentuk daerah pertemuan/perlambatan kecepatan angin (konvergensi) memanjang di Laut Natuna, laut Cina Selatan, Pulau Sumatra bagian tengah, Laut Jawa, Laut Flores, Laut Banda, dan Laut Arafuru.

Daerah konvergensi lainnya memanjang ke Kalimantan bagian tengah dan selatan, Sulawesi bagian tengah-selatan, dan Maluku. Sementara, daerah konfluensi terpantau di Maluku utara.

“Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi/konfluensi,” menurut BMKG.

[Gambas:Video CNN]

(lom/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com