Hujan Mulai Rutin Sapa Jakarta, Apakah Kualitas Udara Membaik?

Apakah hujan-hujan ini berdampak positif pada perbaikan kualitas udara? Temukan jawabannya di sini.


Jakarta, CNN Indonesia

Hujan mulai rutin menyapa wilayah Jakarta dan sekitarnya dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Apakah hujan-hujan ini berdampak positif pada perbaikan kualitas udara?

Merujuk laman pemantau kualitas udara IQAir, dalam satu bulan terakhir, tercatat 8 November sampai hari ini, Kamis (7/12), kualitas udara Jakarta cenderung membaik. Meski begitu, ada satu dua hari yang menunjukkan bahwa udara Jakarta masih cukup buruk.

Misalnya, pada 8 November kualitas udara Jakarta masih tergolong tidak sehat dengan AQI 153 dan PM2.5 58,7µg/m³. Kualitas udara Jakarta bahkan memburuk selama dua hari setelahnya, yakni 9 November dengan AQI 159 dan 10 November dengan AQI 162.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian, kualitas udara Jakarta mulai membaik sampai pertengahan November. Namun, setelah beberapa hari, kualitas udara Jakarta kembali memburuk pada 23 dan 24 November.

Saat itu kualitas udara Jakarta masuk kategori tidak sehat dengan AQI 159 dan AQI 158.

Memasuki awal Desember, kualitas Jakarta juga kembali membaik. Bahkan, pada Minggu (3/12) kualitas udara Jakarta mencapai level AQI 79.

Kendati begitu, sehari berselang, polusi udara kembali menghantui warga Ibu Kota. Menurut catatan IQAir, kualitas udara Jakarta pada Senin (4/12) memburuk di level tidak sehat dengan AQI 153.

Lalu, apakah hujan yang mulai rutin mengguyur Jakarta bisa membuat kualitas udara membaik?

Menurut ahli kondisi hujan ini berpengaruh pada perbaikan kualitas udara Jakarta. Hujan disebut memiliki peran dalam menurunkan jumlah polutan PM 2,5 dan PM 10.

“Iya memang hujan berkorelasi positif terhadap penurunan jumlah polutan baik [PM]2.5 ataupun PM10,”kata Deni Septiadi, pengajar di Sekolah Tinggi Meteorologi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG) beberapa waktu lalu.

Menurutnya, PM2.5 merupakan aerosol atmosferik yang bersifat higroskopis.

Artinya, “keberadaannya yang tidak terikat uap air dengan kelembapan yang rendah (kering) mengakibatkan partikulat ini mengambang di [lapisan] troposfer menjadi partikulat pencemar.”

Pengamat iklim dan lingkungan Universitas Gadjah Mada(UGM)Emilya Nurjani juga mengatakan hujan berpengaruh pada penurunan polusi udara. Menurutnya, musim kemarau dengan curah hujan dan kecepatan angin yang rendah memang sedikit banyak memengaruhi tingkat pencemaran udara.

“Secara teori memang benar, karena jika ada hujan maka gas hasil pembakaran akan larut dengan air dan diturunkan ke permukaan sehingga udara kembali bersih. Dengan kondisi sekarang di mana sudah lama tidak hujan dan kelembaban juga cukup rendah, keberadaan gas tadi jadi banyak,” ujar dia, dikutip dari situs UGM.

Meski demikian, ia menekankan cuaca dan iklim bukan menjadi satu-satunya penyebab tingginya angka pencemaran udara.

“Kecenderungannya di musim penghujan kualitas udara lebih bagus dibanding musim kemarau, tapi pada saat pandemi kita melihat bahwa kualitas udara juga cukup baik bahkan saat musim kemarau.”

“Jadi itu bukan satu-satunya variabel, meskipun musim penghujan tetap jika sumber pencemaran cukup tinggi maka kualitas udara bisa buruk juga,” imbuhnya.

NAFAS Indonesia, platform pemantau kualitas udara RI, mengungkap hujan hanya berpengaruh 8,7persen terhadap penurunan PM2.5.

“Beberapa penelitian menunjukkan bahwa hujan mempunyai dampak yang relatif kecil terhadap penurunan polutan udara (0-30persen). Dampak paling nyata adalah setelah curah hujan tinggi, dimana polutan udara berkurang hingga 30persen.”

(tim/dmi)

[Gambas:Video CNN]



Sumber: www.cnnindonesia.com