Hujan Meteor Eta Aquariid ‘Meledak’ Pekan ini, Tertutup Purnama?

Besok bakal jadi puncak hujan meteor Geminid. Cek rincian waktu dan lokasi pemantauannya di Indonesia.

Jakarta, CNN Indonesia

Hujan meteor Eta Aquariid akan menghiasi langit dan berada pada puncaknya pada 6-7 Mei, di saat Bulan berada pada fase purnama.

Fenomena langit yang terjadi tiap tahun ini sendiri biasanya aktif pada 19 April hingga 28 Mei. Pasalnya, Bumi mengorbit wilayah puing komet yang sama setiap tahunnya.

Eta Aquariid merupakan salah satu dari dua hujan meteor yang dihasilkan oleh puing-puing Komet Halley.

Selain pada periode April dan Mei, Bumi juga melewati jalur puing komet Halley mengelilingi Matahari pada Oktober. Pada periode ini, pergerakan Bumi menciptakan hujan meteor Orionid, yang mencapai puncaknya pada tanggal 20 Oktober.

Dikutip dari Time and Date, Eta Aquariid sendiri plek-plekan mengambil nama bintang paling terang di rasi Aquarius yang jadi lokasi jatuhnya hujan meteor itu.

Fenomena langit ini juga dikategorikan sebagai hujan meteor yang kuat. Ia paling baik dilihat dari belahan bumi selatan atau dekat dengan garis khatulistiwa. Meski demikian, orang-orang di beberapa wilayah lintang utara juga dapat mengamatinya.

Dikutip dari Space, intensitas maksimum hujan meteor di langit yang cerah adalah sekitar 50 per jam. Meteor-meteor ini diperkirakan melesat di langit dengan kecepatan sekitar 66 kilometer per detik.

Pengaruh Bulan

Menurut kepala Kantor Lingkungan Meteoroid di Pusat Penerbangan Luar Angkasa Marshall NASA di Huntsville, Alabama, Bill Cooke, Bulan akan mencapai tingkat kecerahan 100 persen pada saat puncak hujan meteor.

Berdasarkan data Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (ORPA BRIN), salah satu momen puncak hujan meteor, yakni Sabtu (6/5), nyaris berbarengan dengan fase purnama.

Bulan Purnama sendiri diperkirakan mencapai puncaknya pada Sabtu (6/5) pukul 00.34 WIB atau 01.34 WITA atau 02.34 WIT.

Pada saat bersamaan, Gerhana Bulan Penumbra juga akan berlangsung selama 4 jam 18 menit.

Kontak awal penumbra akan terjadi pada Jumat (5/5) pukul 22.14.08 WIB / 23.14.08 WITA/ 00.14.08 WIT. Puncak Gerhana akan berlangsung pada Sabtu (6/5) pada pukul 00.22.55 WIB / 03.31.40 WITA / 04.31.40 WIT.

Meski Bulan sedang terang-terangnya, Cooke menyebut Eta Aquariid tetap layak dinanti karena kemungkinan bakal ada peningkatan intensitas yang signifikan.

Menurut dia, potensi ‘ledakan’ ini disebabkan oleh partikel yang dikeluarkan dari Komet Halley pada 390 SM. Alhasil, intensitas meteor bisa lebih dari dua kali lipat dari biasanya, yakni mencapai sekitar 120 Zenith Hourly Rate (ZHR).

(lom/arh)





Sumber: www.cnnindonesia.com