Hujan Diprediksi Guyur Hampir Semua Daerah Sepekan ke Depan, Ada Apa?

Kenapa hujan fase awal memunculkan aroma unik petrichor? Akibat interaksi air dengan mikroba di tanah ataukah reaksi dengan mineral tertentu?

Jakarta, CNN Indonesia

Meski sudah mengeluarkan peringatan dini soal kemarau kering, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tetap menyebut hujan berpotensi terjadi setidaknya sepekan ke depan.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto, dikutip dari Antara, Sabtu (28/1), mengungkap sejumlah fenomena yang berkontribusi terhadap curah hujan itu.

Pertama, katanya, Osilasi Madden-Julian (MJO) yang diprediksi mulai aktif kembali di wilayah barat Indonesia.

Kedua, Monsun Asia yang saat ini masih cukup aktif dengan identifikasi terdapat aliran lintas ekuator. Ketig, perlambatan angin dan belokan angin yang terbentuk di sekitar wilayah Indonesia.

Keempat, bibit siklon tropis 94S di Samudera Hindia sebelah barat daya Lampung dengan kecepatan angin maksimum 37 kilometer per jam dan tekanan udara minimum 1.005 milibar.

Kelima, bibit siklon tropis 90B yang berada di Samudera Hindia sebelah barat Aceh dengan kecepatan angin maksimum 37 kilometer per jam dan tekanan udara minimum 1.006 milibar.

Guswanto menuturkan potensi kedua bibit siklon tropis tersebut untuk tumbuh menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan berada dalam kategori rendah.

“Kondisi tersebut dapat berkontribusi meningkatkan pertumbuhan awan hujan dan potensi cuaca signifikan dalam sepekan ke depan,” tutur dia.

Daftar wilayah

Berdasarkan prakiraan berbasis dampak, Guswanto mengungkap wilayah dengan potensi siaga hujan lebat untuk periode 28-30 Januari 2023.

Yakni, sebagian wilayah Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Kepulauan Riau, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Utara.

Selain itu, potensi hujan sedang hingga lebat berpotensi “terjadi hampir di seluruh daerah” dalam rentang waktu 28 Januari sampai 2 Februari 2023.

Tak ketinggalan, potensi gelombang tinggi diprakirakan terjadi di wilayah perairan Indonesia pada 28 Januari sampai 1 Februari. Ketinggiannya, kata Guswanto, antara 2,5 meter sampai lebih dari 6 meter.

Gelombang laut ekstrem dengan ketinggian di atas 6 meter tersebut berpotensi terjadi di Laut Natuna Utara.

Sebelumnya, BMKG memperingatkan potensi kedatangan El Nino, yang memicu musim kemarau kering, paling cepat Februari terutama di wilayah Jatim dan Nusa Tenggara. Daerah lainnya menyusul pada bulan-bulan berikutnya.

(Antara/arh)






Sumber: www.cnnindonesia.com