Google Bantah Monopoli Iklan, Sebut Argumen Pemerintah AS Lemah

Google dituntut oleh Jaksa Agung Texas, Ken Paxton karena telah melanggar undang-undang privasi biometrik.

Jakarta, CNN Indonesia

Google bereaksi terhadap gugatan Departemen Kehakiman (Department of Justice) Amerika Serikat (AS) soal monopoli industri periklanan digital. Google menyebut, tuntutan tersebut didasarkan kepada “argumen yang lemah”.

Sebelumnya, Departemen Kehakiman AS (DOJ) beserta delapan negara bagian menuntut Google pada Selasa (24/1) waktu setempat. Mereka menuding Google telah secara ilegal memonopoli teknologi yang menjadi penggerak industri iklan daring.

Dikutip dari New York Times, tuntutan itu mengatakan Google telah “mengorupsi kompetisi yang sah dalam industri periklanan digital dengan terlibat dalam kampanye sistematis untuk menguasai kontrol terhadap beragam teknologi tinggi yang digunakan oleh penerbit, pengiklan, dan para broker untuk memfasilitas iklan digital”.

Tuntutan tersebut juga meminta Pengadilan Distrik di Virginia dapat memaksa Google menjual beragam perangkat produk teknologinya yang termasuk perangkat lunak untuk membeli dan menjual iklan, pasar untuk menuntaskan transaksi, dan layanan untuk menampilkan iklan di internet.

Merespon tuntutan itu, Dan Taylor selaku Wakil Presiden Global Ads Google mengatakan Departemen Kehakiman AS justru akan menghancurkan industri periklanan digital. 

“Tuntutan hari ini dari Departemen Kehakiman merupakan usaha untuk memilih yang mana yang jadi pemenang dan pecundang dalam sektor periklanan yang sangat kompetitif,” tulisnya dalam blog resmi Google.

Dan juga menyebut, Departemen Kehakiman bersandar kepada “argumen yang lemah yang akan memperlambat inovasi, meningkatkan biaya iklan dan membuat bisnis dan penerbit kecil yang jumlahnya ribuan sulit untuk berkembang”

Menurut Dan, Google telah merespon kepada komplain dan klaim yang sama, yang sebelumnya dibuat oleh Jaksa Agung di Texas. Sebelumnya tuntutan serupa memang telah diajukan oleh Jaksa Agung di Texas pada 2020, namun mental di pengadilan federal.

Lebih lanjut, Dan juga menganggap Departemen Kehakiman mencoba menulis ulang sejarah karna meminta akuisis dua perusahaan yakni AdMeld dan DoubleClick dibatalkan.

Padahal menurut Dan, akuisisi itu justru berdampak positif terhadap industri periklanan digital.

“DOJ meminta kami untuk membatalkan dua akuisisi yang telah dikaji oleh pihak berwenang 12 tahun lalu (AdMeld) dan 15 tahun lalu (DoubleClick). Dalam upaya membatalkan dua akuisisi ini, DOJ mencoba menulis ulang sejarah dengan mengorbankan penerbit, pengiklan, dan pengguna internet,”

“Kedua akuisisi ini membuat kami bisa berinvestasi jor-joran dalam mengembangkan teknologi ikan baru dan inovatif. Dua akuisisi itu juga telah dikaji oleh pihak berwenang, termasuk oleh DOJ sendiri dan telah diizinkan. Sejak saat itu, kompetisi di sektor ini hanya terus bertumbuh,”

Dan juga membantah Google memonopoli industri iklan digital dan menyingkirkan para kompetitor. Sebaliknya, Dan menyebut teknologi yang dibangun Google didesain untuk bekerja dengan produk dari kompetitor.

“Teknologi pengiklan kami dibangun untuk bekerja sama dengan produk dari kompetitor. Kami memudahkan para partner untuk memilih produk yang akan mereka gunakan yang terdiri dari 80 produk berasal dari rival untuk penerbit, dan 700 lebih produk berasal dari rival untuk pengiklan,” tulis Dan.

“Tidak ada yang dipaksa untuk menggunakan teknologi kami. Mereka menggunakannya karena efektivitas teknologi itu. Faktanya, para penerbit dan pengikat bekerja dengan beragam teknologi secara terus menerus untuk mencapai konsumen dan menghasilkan lebih banyak uang,”

[Gambas:Video CNN]






Sumber: www.cnnindonesia.com