Gas Rumah Kaca Tetap Pekat Meski Ada Pandemi, Ahli Ungkap Sumbernya

Viral video Senator Australia yang mengklaim level karbon di atmosfer, yang merupakan gas pemicu pemanasan global, tak berkurang saat pandemi. Simak faktanya.

Jakarta, CNN Indonesia

Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia membuat banyak aktivitas berhenti ternyata tak otomatis menurunkan kepekatan gas rumah kaca pemicu pemanasan global. Apa sebabnya?

Sebelumnya, viral video yang menampilkan Senator asal Queensland, Australia, Malcolm Roberts yang mengklaim berkurangnya aktivitas karena pandemi tak serta merta membuat tingkat pemanasan global menurun.

“Apa yang terjadi pada tahun 2020 ketika kita mengalami resesi besar, hampir depresi di seluruh dunia sebagai akibat dari pembatasan Covid yang dilakukan oleh pemerintah?” kata Roberts dalam sebuah unggahan dari akun Twitter @goddeketal, Selasa (25/7).

“Kita melihat pengurangan yang sama dalam penggunaan bahan bakar hidrokarbon oleh manusia, pengurangan yang sama dalam produksi karbon dioksida dari manusia, namun karbon dioksida di atmosfer terus meningkat,” cetusnya.

“Manusia tidak dapat dan tidak mempengaruhi tingkat karbon dioksida di atmosfer. Hal ini sepenuhnya dikendalikan oleh alam,” tambahnya.

Roberts menyebut apa yang terjadi saat pandemi sama dengan yang terjadi pada 2009 ketika penggunaan bahan bakar hidrokarbon berkurang karena resesi yang terjadi setelah krisis keuangan global.

Saat itu lebih sedikit karbon dioksida yang dihasilkan dari penggunaan hidrokarbon oleh manusia, tetapi tingkat karbon dioksida di atmosfer tetap meningkat.

Masalah pemanasan global pun diragukannya. Apa benar demikian korelasinya?

Gas rumah kaca merupakan sebutan untuk Karbon Dioksida (CO2), Nitrogen Oksida (NOx), hingga Metana (CH4), yang berkumpul di atmosfer yang memerangkap panas Matahari di Bumi, tak terlepas ke angkasa.

Hal ini menyebabkan Bumi makin panas seperti kondisi dalam oven tertutup. 

Dalam sebuah studi yang dilakukan peneliti NASA pada 2021, pandemi memang menurunkan emisi (pelepasan gas ke atmosfer) karbon. Contohnya pada 2020, emisi karbon dioksida turun 5,4 persen.




Infografis pemanasan global. (CNNIndonesia/Basith Subastian)

Di saat yang sama, jumlah CO2 di atmosfer malah terus bertambah dengan kecepatan yang hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Selama gangguan sosio-ekonomi sebelumnya, seperti [di era] kekurangan minyak pada 1973, Anda dapat segera melihat perubahan dalam tingkat pertumbuhan CO2,” kata David Schimel, kepala kelompok karbon Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA dan salah satu penulis studi tersebut.

“Kita semua berharap untuk melihatnya kali ini (masa pandemi) juga,” imbuhnya.

Dengan menggunakan data dari satelit Orbiting Carbon Observatory-2 milik NASA yang diluncurkan pada 2014 dan model atmosfer NASA Goddard Earth Observing System, para peneliti mengidentifikasi beberapa alasan untuk hasil tersebut.

Pertama, meskipun penurunan emisi sebesar 5,4 persen cukup signifikan, pertumbuhan konsentrasi atmosfer masih berada dalam kisaran normal dari tahun ke tahun yang disebabkan oleh proses alami.

Selain itu, peneliti mendeteksi lautan tidak menyerap CO2 dari atmosfer sebanyak yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Pakar jelaskan penyebab GRK tetap tinggi di halaman berikutnya…


Penyebab Hingga Solusi Jangka Panjang

BACA HALAMAN BERIKUTNYA



Sumber: www.cnnindonesia.com