Fakta Jamur Cordyceps, Bisa Bikin Jadi Zombie Mirip di The Last of Us?

Jamur Cordyceps yang diceritakan di film The Last of Us benar-benar ada. Bisakah ia megubah manusia jadi zombie?

Jakarta, CNN Indonesia

The Last of Us, salah satu serial yang populer saat ini, mengungkap infeksi jamur Cordyceps yang dapat menyebabkan manusia menjadi zombie. Betulkah demikian?

Serial yang tayang di HBO ini dibintangi oleh Pedro Pascal dan Bella Ramsey yang berperan sebagai dua tokoh utamanya, Joel dan Ellie.

Cerita ini diambil berdasarkan video game keluaran Sony dengan judul yang sama. Diceritakan, planet Bumi dilanda pandemi yang disebabkan infeksi jamur Cordyceps.

Bukan sembarang pandemi. Jamur itu membuat pasien positif terinfeksi berubah menjadi makhluk sejenis zombie dengan tingkatan skill berbeda, yakni runners, stalkers, clickers, bloaters, shamblers, hingga rat king.

Joel bertugas menyelamatkan Ellie yang sepertinya imun alias tak mempan infeksi. Ellie pun dianggap sebagai harapan umat manusia untuk mengembangkan vaksin dan mengakhiri mimpi buruk pandemi jamur ini.

Meski serial tersebut fiksi, jamur cordyceps sebetulnya benar-benar ada. Dalam jurnal berjudul Cordyceps spp.: A Review on Its Immune-Stimulatory and Other Biological Potentials, para pakar justru mengungkapkan manfaat dari jamur ini.

Nama Cordyceps berasal dari bahasa Yunani ‘kordyle’ yang berarti klub dan bahasa Latin ‘ceps’ yang berarti kepala. Jamur ini memang ‘menginfeksi’ makhluk lain, terutama serangga artropoda dan jamur lainnya.

Mereka bisa lolos dari sistem imun inangnya dengan cara mengharmonisasi siklus hidup inang tersebut dengan intensi bertahan hidup dan multiplikasi.

Cordyceps tumbuh dan berkembang biak mengikuti tumbuhan yang menjadi inangnya. Siklus hidup mereka terbagi ke dalam tiga fase.

Pada fase pertama, Cordycseps spp. menginfeksi tumbuhan dalam tahap larva lewat ascospores. Itu dilepaskan di udara dari jamur dewasa selama musim panas dan awal musim gugur dan dari kecambah.

Pada beberapa kasus, infeksi Cordyceps spp. terjadi lewat pencernaan makanan yang telah terkontaminasi. Selanjutnya pada fase parasitisme, Cordyceps spp. makan dari usus inangnya.

Sel jamurnya lalu menyebar ke seluruh tubuh dan berkembang biak secara cepat saat musim dingin. Caranya, mereka mengonsumsi semua organ internal dari larva, meninggalkan kerangka luar yang utuh.

Selama proses ini, kondisi lingkungan tergolong buruk, dan jamur harus tahan terhadap salju serta kondisi dingin.

Ketika musim semi dimulai dan suhu luar meningkat, endosklerotium berkecambah dan keluar melalui rongga mulut inang, matang di musim panas, membentuk tubuh buah, dan mulai melepaskan askospora (tahap saprofit).

Cordyceps spp biasa ditemukan di ketinggian 3600 hingga 4000 meter di atas permukaan laut. Mereka juga bisa ditemukan di Amerika Utara,Eropa, Asia terutama di negara-negara seperti China, Jepang, Nepal, Bhutan, Vietnam, Korea, dan Thailand.

Di India, Cordyceps spp tumbuh di region seperti Kumaun Himalaya dan Garhwal Himalaya. Selanjutnya, Cordyceps spesies C. gunni juga ditemukan di Australia.

Jadi obat

Mengutip artikel di situs MDPI, pemanfaatan Cordyceps spp. sebagai obat merupakan tradisi yang cukup lama di Asia karena kemampuan adaptogenik, efek tonik, dan kemampuannya mengurangi lelah serta menstimulasi sistem imun manusia.

Mereka yang memanfaatkan Cordyceps spp. adalah masyarakat di China, Tibet, Nepal, dan India.

Masyarakat di daerah tersebut biasa mengambil Cordyceps spp saat sedang menggembala. Di antara spesies Cordcyeps spp. yang sering dimanfaatkan sebagai obat adalah C. Sinensis dan C.Militaris.

Masyarakat di daerah tersebut memanfaatkan Cordyceps spp. selama berabad-abad untuk mengadaptasi tubuh mereka dengan kondisi ekstrem di pegunungan.

Selain itu, pengobatan tradisional China juga merekomendasikan penggunaan Cordyceps spp untuk merawat beberapa gangguan di manusia seperti penyakit kardiovaskuler dan pernafasan, gangguan pada ginjal dan lever, kanker, diabetes, penyakit infeksi dan parasit, serta disfungsi seksual.

Karena manfaat itulah, para ahli meneliti kandungan dari C. Militaris, dan C. Sinensis. Diketahui, C. Militaris ternyata punya kandungan yang lebih banyak dari C. Sinensis.

C. Militaris antara lain memiliki nucleosida, polysaccharida, carotenoid, dan selenium organik yang tinggi. Karena itulah, C. Militaris punya lebih banyak manfaat dibanding C. Sinensis.

“Studi saintifik menunjukkan ada aktivitas biologis yang lebih beragam di C. Militaris dibanding C. Sinensis. C. Militaris telah terbukti melakukan aktivitas berikut: ergogenik, imunostimulasi, antitumor, antioksidan, antiinflamasi, antivirus, pelindung saraf, dan hipolipemik,” demikian ditulis para pakar dalam artikel berjudul Cordyceps militaris: An Overview of Its Chemical Constituents in Relation to Biological Activity.

Namun demikian, studi toksikologi tetap perlu dilakukan untuk menjamin keamanannya sebagai obat.

(lth/arh)






Sumber: www.cnnindonesia.com