Enggak Ada yang Namanya Gambar Riil

Pimpinan Samsung membela posisi perusahaan tentang AI di Galaxy S24 dan implikasinya. Simak penjelasan berikut.


Jakarta, CNN Indonesia

Kemunculan Samsung Galaxy S24 Series yang hadir dengan beragam fitur kecerdasan buatan (AI), termasuk modifikasi hasil foto, memicu kontroversi. Apa kata perusahaan?

Salah satu fitur AI yang hadir dan mendapat sorotan itu adalah Generative Edit yang memungkinkan pengguna menghapus, menyusun ulang bagian dari sebuah gambar secara artifisial untuk mencapai ‘kesempurnaan fotografis’.

Sebetulnya, pengeditan seperti ini bukan hal baru dan setiap pengeditan akan menghasilkan watermark dan perubahan metadata. Namun, kemampuan Galaxy S24 untuk melakukan pengeditan seperti itu membuat sejumlah pihak merasa khawatir.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski begitu, Samsung meyakini fitur Generative Edit yang baru ini adalah sesuatu yang etis, dibutuhkan, bahkan diperlukan di dunia yang penuh misinformasi.

Patrick Chomet, Head of Customer Experience Samsung, membela posisi perusahaan tentang AI dan implikasinya.

Mulanya, dia menjelaskan sebuah video dari YouTuber Marques Brownlee yang diunggah tahun lalu. Video tersebut menjelaskan proses pengambilan foto bulan yang begitu jelas hanya dengan menggunakan Samsung S23 Ultra.

“Semua orang bertanya, ‘Apakah itu palsu? Apakah itu tidak palsu?’ Ada perdebatan tentang apa yang dimaksud dengan gambar asli. Dan sebenarnya, tidak ada yang namanya foto riil. Segera setelah Anda memiliki sensor untuk menangkap sesuatu, Anda mereproduksi [apa yang Anda lihat], dan itu tidak berarti apa-apa,” kata Chomet, mengutip TechRadar, Selasa (6/2).

“Tidak ada gambar yang nyata. Anda bisa mencoba mendefinisikan gambar nyata dengan mengatakan, ‘Saya mengambil gambar itu’, tetapi jika Anda menggunakan AI untuk mengoptimalkan zoom, fokus otomatis, pemandangan – apakah itu nyata? Ataukah itu semua adalah filter? Tidak ada gambar yang nyata, titik,” cetus dia.

Namun, menurutnya, tetap saja pertanyaan seputar keaslian foto sangat penting. Chomet mengatakan perusahaan melakukan hal ini dengan memahami kebutuhan konsumen dan niat konsumen yang berbeda.

Keduanya, kata dia, bukanlah hal yang baru, tapi AI generatif akan mempercepat salah satunya.

Menurut dia, salah satu keinginan konsumen adalah mengabadikan momen, misalnya ingin mengambil gambar seakurat dan selengkap mungkin. Untuk melakukan itu, Samsung menggunakan banyak filtering AI, modifikasi, dan pengoptimalan untuk menghapus bayangan, pantulan, dan sebagainya.

Kendati begitu, Chomet menegaskan bahwa Samsung “tetap berpegang teguh pada tujuan pengguna, yaitu mengabadikan momen tersebut”.

Kemudian, hal lainnya adalah ingin membuat sesuatu. Ketika orang membuka Instagram, mereka menambahkan banyak proses editing dalam foto mereka. Hal ini menunjukkan bahwa ada juga pengguna yang niatnya bukan menciptakan ulang realitas, tapi membuat sesuatu yang baru.

“Jadi [Generative Edit] bukanlah ide yang benar-benar baru. Alat-alat AI Generatif akan mempercepat niat tersebut secara eksponensial dalam beberapa tahun ke depan, sehingga ada kebutuhan pelanggan yang besar untuk membedakan antara yang nyata dan yang baru,” jelas Chomet.

“Itulah mengapa fitur Generative Edit kami menambahkan watermark dan mengedit metadata, dan kami bekerja sama dengan badan pengatur untuk memastikan orang-orang memahami perbedaannya,” tuturnya menambahkan.

Sementara itu, mengenai masalah regulasi AI, Chomet mengatakan bahwa Samsung “sangat selaras dengan peraturan Eropa tentang AI,” dan mencatat bahwa pemerintah sudah tepat untuk mengekspresikan keprihatinan awal mengenai potensi implikasi penggunaan AI secara luas.

“Industri ini harus bertanggung jawab dan perlu diatur,” tambah Chomet.

Di sisi lain, Ia juga mengatakan menambahkan bahwa Samsung secara aktif mengupayakan hal tersebut. Chomet meyakini teknologi baru mereka luar biasa dan kuat, tapi seperti halnya dengan teknologi lain, teknologi ini dapat digunakan dengan cara yang baik dan buruk.

“Jadi, sudah sepantasnya kita memikirkan secara mendalam tentang cara-cara yang buruk,” pungkas dia.

Isu nyata atau tidaknya hasil foto kamera Hp Samsung itu muncul sejak lama, setidaknya perilisan Samsung Galaxy S21, tiga tahun lalu, dan kembali menghangat tahun lalu imbas klaim ‘Space Zoom’ di Samsung Galaxy S23.

Pada intinya, para tech reviewer membuktikan hasil foto Bulan yang mendetil pakai kamera Samsung adalah hasil paduan foto asli Hp dan diduga default pada gadget yang kemudian diolah ulang oleh kecerdasan buatan.

Hasilnya, foto zoom ‘to the moon’ yang detil. Padahal, kata pe-review, bukan riil.

[Gambas:Video CNN]

(tim/dmi)



Sumber: www.cnnindonesia.com