Indeks

‘Ending’ Tragis Kodok Raksasa Toadzilla, Disuntik Mati demi Lingkungan

Kodok raksasa bernama Toadzilla yang berbobot 2,7 kg di Australia akhirnya disuntuk mati karena tidak punya predator alami.

Jakarta, CNN Indonesia

Kodok raksasa yang ditemukan di Conway National Park, Australia, berakhir dengan disuntik mati lantaran dianggap berbahaya untuk lingkungan.

Toadzilla, kodok raksasa berukuran 2,7 kilogram itu, sebelumnya ditemukan oleh polisi hutan bernama Kylee Gray yang tengah bekerja di Taman Nasional Conway. Namun usai beberapa hari ditemukan, kodok itu harus menjalani euthanasia karena tidak memiliki predator alami.

Hewan dengan berat 2,7 kilogram itu telah di-eutanasia karena dampak lingkungan yang mereka timbulkan,” ujar Departemen Lingkungan dan Ilmu Pengetahuan Pemerintah Queensland lewat akun Twitter-nya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO RESUME CONTENT

Euthanasia merupakan langkah suntik mati yang diambil untuk menjaga ekosistem, lantaran hewan itu dianggap dapat mempengaruhi kondisi satwa lain di lingkungan hidupnya.

Toadzilla ditemukan di tempat yang tak biasa, yakni di ketinggian 393 meter. Usia Toadzilla tidak diketahui tetapi kodok tebu ini diperkirakan bisa berumur hingga 15 tahun.

Dikutip dari CBS News, kodok tebu biasanya hanya tumbuh sekitar 1,3 kilogram. Namun, Toadzilla memiliki berat hampir dua kali lipat dan seukuran bayi manusia yang baru lahir.

Pemerintah Queensland mengatakan berdasarkan analisis bobot tubuh Todzilla itu berjenis kelamin betina.

“Kodok tebu seukuran itu akan memakan apa saja yang bisa masuk ke mulutnya. Itu termasuk serangga, reptil, dan mamalia kecil,” kata Gray.

Todzilla menjadi kodok terbesar yang pernah tercatat. Menurut Guinness World Records, kodok terbesar pernah tercatat pada Maret 1991, dengan nama Prinsen. Kodok itu tinggal di Swedia dan beratnya mencapai 2,6 kilogram.

ABC melaporkan Kodok tebu dianggap sebagai salah satu spesies invasif terburuk di dunia. Setidaknya, sekitar 2.400 kodok dilepaskan ke Queensland utara pada 1935 dengan tujuan dapat membantu mengendalikan populasi kumbang tebu.

Kendati demikian, karena kodok tidak memiliki predator alami di wilayah tersebut populasinya semakin meningkat sehingga bertelur antara 8 hingga 30 ribu sepanjang tahun.

Hewan amfibi itu dikenal karena toksisitasnya karena mengeluarkan racun seperti susu yang bisa membuat psikedelik hingga detak jantung musuh berhenti.

(can/pta)






Sumber: www.cnnindonesia.com

Exit mobile version