Emoji Jempol Sah Dianggap Persetujuan Perjanjian, Berlaku di Mana?

Hakim mengesahkan emoji jempol sebagai tanda persetujuan terhadap kontrak. Cek wilayah hukum yang terdampaknya.

Jakarta, CNN Indonesia

Hakim memutus bahwa emoji jempol sama sahnya dengan tanda tangan sebagai persetujuan perjanjian. Di mana saja ketentuan itu berlaku?

Alasan putusan itu adalah karena pengadilan perlu beradaptasi dengan ‘realitas baru’ tentang bagaimana orang berkomunikasi lewat pesan singkat.

Dalam sebuah kasus baru-baru ini, dikutip dari The Guardian, Pengadilan King’s Bench di provinsi Saskatchewan menangani kasus transaksi pembeli biji-bijian dari South West Terminal.

Seorang penjual mengirimkan pesan teks massal kepada klien pada Maret 2021, yang isinya perusahaan tersebut ingin membeli 86 ton jerami dengan harga US$12,73 (sekitar Rp191 ribu) per paket.

Pembeli tersebut, Kent Mickleborough, berbicara dengan petani Chris Achter melalui telepon dan mengirimkan kontrak pengiriman jerami pada November, dan meminta petani untuk “mengonfirmasi kontrak” dalam pesan tersebut.

Achter, yang tinggal di komunitas Swift Current, merespons dengan emoji jempol. Namun, Achter tidak mengirimkan jerami pada November, hingga pada saat itu harga tanaman sudah naik.

Mickleborough dan Achter memperdebatkan makna emoji tersebut. Pembeli merujuk pada kontrak sebelumnya yang dikonfirmasi melalui pesan teks, menunjukkan bahwa dengan emoji tersebut berarti Achter menyetujui persyaratan kontrak.

Namun, Achter mengatakan bahwa emoji tersebut hanya menunjukkan bahwa ia telah menerima kontrak dalam pesan teks.

“Saya menyangkal bahwa dia menerima emoji jempol sebagai tanda tangan digital dari kontrak yang belum selesai,” kata Achter dalam pernyataan tertulis.

“Saya tidak punya waktu untuk meninjau Kontrak Flax dan hanya ingin menunjukkan bahwa saya memang menerima pesan teksnya,” sambungnya.

Pada satu titik dalam proses persidangan, pengacara Achter keberatan dengan pemeriksaan silang terhadap kliennya mengenai makna jempol, dengan alasan bahwa kliennya “bukan ahli emoji”.

“Pengadilan ini dengan mudah mengakui bahwa emoji (jempol) adalah cara non-profesional untuk ‘menandatangani’ dokumen, namun dalam keadaan ini, ini adalah cara yang sah untuk menyampaikan dua tujuan ‘tanda tangan’,” tulisnya.

Dikutip dari Businness Insider, Keene juga khawatir penggunaan emoji jempol menjadi ‘pintu masuk’ interpretasi baru dari emoji lain, termasuk ‘kepalan tangan’ dan ‘jabat tangan’.

Dalam memutuskan jempol ke atas dapat digunakan untuk menandatangani kontrak, Keene mengatakan pengadilan “tidak dapat (dan tidak boleh) mencoba membendung gelombang teknologi dan penggunaan umum” emoji.

“Ini tampaknya merupakan realitas baru dalam masyarakat Kanada dan pengadilan harus siap untuk menghadapi tantangan baru yang mungkin timbul dari penggunaan emoji dan sejenisnya,” kata dia.

[Gambas:Video CNN]

(can/arh)





Sumber: www.cnnindonesia.com