El Nino Menguat Tipis, Jawa Diprediksi Miskin Hujan Hingga Pekan Depan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi beberapa daerah di Indonesia, termasuk Pulau Jawa tak akan diguyur hujan hingga pekan depan.

Jakarta, CNN Indonesia

Memasuki bulan Agustus, El Nino mulai menguat tipis. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun memprediksi sejumlah daerah di Indonesia, termasuk di Pulau Jawa tidak akan diguyur hujan hingga pekan depan.

El Nino merupakan fenomena pemanasan muka air laut di Samudera Pasifik yang berdampak pada penurunan curah hujan global, termasuk di Indonesia. 

“Pada sepekan ke depan kondisi cuaca di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara cerah berawan hingga berawan,” demikian dikutip dari Prospek Cuaca Seminggu ke Depan Periode 4-10 Agustus, dikutip dari laman resmi BMKG, Jumat (4/8).

“Sedangkan sebagian wilayah Sumatera, Sulawesi bag Tengah, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua terdapat potensi hujan sedang – lebat pada siang hingga malam hari,” lanjut keterangan itu.

Merujuk Ikhtisar Cuaca Harian BMKG untuk Kamis (3/8), Indeks NINO 3,4 yang mengindikasikan tingkat El Nino berada pada angka +1,05. Angka ini naik tipis dari pekan sebelumnya yang masih berada pada angka +1,0, kendati begitu El Nino yang muncul masih dalam kondisi lemah. 

“El Nino lemah,” ungkap BMKG. 

Penanda El Nino lainnya, Southern Oscillation Index (SOI) ada pada angka -5,6 alias tidak signifikan. Dipole Mode Index (DMI), yang menunjukkan tingkat fenomena pemicu curah hujan di Samudera Hindia, Indian Ocean Dipole (IOD) juga tak signifikan (+0,16).

“Dalam skala global, nilai SOI, IOD, dan NINO 3.4 tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia,” tulis BMKG.

Beberapa aktivitas fenomena atmosfer regional dan lokal juga tidak memengaruhi sebagian besar wilayah Tanah Air.

Menurut BMKG, selama sepekan ke depan, aktivitas gelombang atmosfer Rossby Ekuator diprakirakan aktif di sebagian wilayah Papua. Sementara, gelombang Kelvin diprakirakan masih akan aktif di sebagian Sumatera bagian timur, Kalimantan bagian utara dan selatan, Sulawesi bagian utara dan tengah, Maluku, Maluku Utara, Papua barat, dan Papua.

Sirkulasi Siklonik yang berada di Teluk Cenderawasih membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) memanjang dari Papua Barat hingga Papua, sehingga membentuk daerah pertemuan angin (konfluensi) di Papua. Daerah konvergensi lain memanjang dari Perairan barat Bengkulu hingga Sumatera Barat, dari Riau hingga Perairan timur Malaysia, di utara Pulau Kalimantan, dari Laut Banda hingga Sulawesi Tengah, dari Maluku hingga Maluku Utara, di Papua, dan di Samudera Pasifik utara Papua.

Daerah konfluensi lain berada di Laut Sulu dan Samudra Pasifik utara Teluk Cenderawasih.

“Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi/konfluensi tersebut,” kata BMKG.

Alhasil, BMKG memprediksi daerah yang berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat adalah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Sebelumnya, BMKG memprediksi puncak El Nino bakal terjadi Agustus hingga September 2023. Sementara, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi El Nino baru akan menyapa Indonesia mulai September hingga Oktober.

El Nino diprakirakan akan terjadi hingga akhir tahun. Menurut BMKG saat ini sekitar 63 persen wilayah Tanah Air sudah masuk musim kemarau dan terdampak El Nino.




Waspada El Nino di Indonesia (Foto: CNN Indonesia/ Agder Maulana)

(tim/dmi)


[Gambas:Video CNN]




Sumber: www.cnnindonesia.com