Dunia Tak Siap Hadapi Pandemi Berikutnya, Cek Deret Potensi Pemicunya

IFRC menilai dunia tak siap jika harus menghadapi pandemi berikutnya usai Covid-19. Apa saja potensi pemicu wabah global itu?

Jakarta, CNN Indonesia

Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) menyebut umat manusia tak siap jika harus menghadapi pandemi berikutnya usai habis-habisan melawan Covid-19 selama 3 tahun.

Organisasi kemanusiaan tersebut mengatakan dalam Laporan Bencana Dunia yang dirilis pada Senin (30/1) bahwa “semua negara tetap tidak siap menghadapi pandemi di masa depan”.

IFRC mengatakan negara-negara “harus mulai bersiap sekarang, karena dunia kita menjadi semakin berbahaya.” Bahaya ini tak hanya wabah penyakit, tetapi juga bencana terkait iklim dan cuaca.

“Pandemi COVID-19 harus menjadi peringatan bagi komunitas global untuk mempersiapkan diri menghadapi krisis kesehatan berikutnya,” kata Jagan Chapagain, Sekretaris Jenderal IFRC, seperti dikutip ScienceAlert.

Chapagain juga mengatakan “rekomendasi kami kepada para pemimpin dunia berpusat pada membangun kepercayaan, mengatasi ketidaksetaraan, dan memanfaatkan aktor dan komunitas lokal untuk melakukan pekerjaan penyelamatan jiwa.”

Menurut data terbaru yang dikumpulkan oleh Universitas Johns Hopkins, lebih dari 6,8 juta orang telah meninggal akibat Covid-19 di seluruh dunia sejak pandemi dimulai pada awal 2020.

IFRC menyebut jumlah korban ini lebih banyak daripada gempa bumi, kekeringan, atau badai apa pun yang tercatat dalam sejarah.

Lembaga itu juga mengimbau setiap negara harus memperbarui rencana kesiapsiagaan pandemi dan “seharusnya meninjau undang-undang yang relevan untuk melihat apakah itu juga perlu diperbarui.”

Rencana kesiapsiagaan pandemi harus mencakup langkah-langkah konkret untuk memperkuat kesetaraan, kepercayaan, dan tindakan lokal.

Ancaman manusia

Pandemi Covid-19 menjadi salah satu pukulan telak bagi peradaban umat manusia. Malangnya, risiko kemunculan penyakit menular semacam ini selalu ada.

Sebuah studi pada 2014 mengumpulkan data penyakit selama 33 tahun dari tahun 1980 hingga 2013. Ini mencakup 12.102 wabah dari 215 penyakit menular manusia.

Dilansir dari laporan IFRC, para peneliti berupaya mengendalikan pemicu seperti perbaikan dalam pengawasan penyakit. Dalam studi tersebut, para peneliti menemukan peningkatan yang signifikan dalam jumlah wabah dan keragaman penyakit.

Pada awal 1980-an, ada kurang dari 1.000 wabah penyakit per tahun, tetapi pada akhir tahun 2000-an jumlahnya meningkat tiga kali lipat menjadi lebih dari 3.000.

Bakteri dan virus menjadi penyebab 88 persen wabah. Sementara, zoonosis atau penyakit yang masuk ke populasi manusia dari hewan yang bertanggung jawab atas 56 persen dari wabah.

Selain itu, analisis Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2018 mengatakan “epidemi penyakit menular lebih sering terjadi, dan menyebar lebih cepat dan lebih jauh dari sebelumnya, di berbagai daerah di dunia”.

Analisis menemukan 1.307 kejadian epidemi antara tahun 2011 dan 2017. Hal itu disebabkan oleh berbagai penyakit, termasuk demam kuning, kolera dan shigellosis. Itu setara dengan rata-rata 187 kejadian epidemi per tahun.

Para ahli menyebut tren epidemik ini berkaitan dengan di mana orang-orang tinggal dan seberapa sering mereka melakukan perjalanan.

Pada 2007, kepadatan penduduk secara umum terus meningkat, lebih banyak orang tinggal di daerah perkotaan daripada pedesaan yang menciptakan kondisi penyebaran yang cepat.

Di sisi lain, maskapai penerbangan berlipat ganda sejak tahun 2000, memungkinkan penyakit menyebar secara internasional dengan cepat.

Faktor lain termasuk perubahan iklim, yang mempengaruhi kemunculan dan distribusi patogen baru atau yang dimodifikasi, dan betapa rentannya orang terhadap mereka.

(lom/arh)



[Gambas:Video CNN]




Sumber: www.cnnindonesia.com