Duet Jupiter-Bulan Bakal ‘Tenggelamkan’ Hujan Meteor Malam Ini

Fenomena duet Jupiter-Bulan ini kemungkinan bakal meredupkan hujan meteor yang juga bakal terjadi malam nanti.


Jakarta, CNN Indonesia

Sejumlah fenomena langit bakal menyapa Bumi hari ini, Jumat (22/12), di antaranya duet Jupiter dan Bulan. Fenomena ini kemungkinan bakal meredupkan hujan meteor yang juga bakal terjadi malam nanti.

Dari sisi belahan Bumi utara, Matahari akan berada pada posisi terendah di langit saat fenomena Solstis Desember. Hal ini membuat Bulan tampak tinggi di langit selama musim dingin di wilayah ini, sehingga menciptakan peluang pengamatan langit yang menarik.

Saat titik balik Matahari,bulan akan bersinar di sebelah kanan Jupiter. Planet terbesar di Tata Surya ini pun akan menjadi planet paling terang di langit malam itu


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika Anda melewatkannya, ada kesempatan kedua pada keesokan harinya saat Bulan berpindah ke sebelah kiri Jupiter.

Momen yang sama juga merupakan H-1 puncak hujan meteor Ursid, salah satu hujan meteor mayor atau besar, yakni pada Sabtu (23/12). BRIN menyebut frekuensinya bisa mencapai tiga meteor per jam jika mengamati dari Sabang, Aceh.

Masalahnya,Bulan yang terang mendekati purnama diprakirakan akan ‘mengubur’ cahaya hujan meteor itu.

Menurut jadwal BRIN, Jumat (22/12) jadi hari menjelang purnama, atau pertengahan antara Perbani Awal (Bulan separuh) pada 20 Desember pukul 01.39 WIB dan Bulan Purnama 27 Desember pukul 07.33 WIB.

Di saat bersamaan, fenomena solstis (solstice) Desember yang menjadi penanda awal musim dingin di belahan Bumi utara yang terjadi hari ini, Jumat (22/12).

Bumi mengorbit Matahari (revolusi) setiap 365 hari sambil berputar pada sumbunya yang miring 23,44 derajat.

Menurut keterangan Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa di Badan Riset dan Inovasi Nasional (ORPA BRIN), solstis adalah fenomena ketika Matahari melintasi Garis Balik Utara atau Garis Balik Selatan.

Kedua garis ini merupakan garis khayal pada bola Bumi yang terletak pada lintang yang senilai dengan kemiringan sumbu Bumi, yaitu 23,44 Lintang Utara dan 23,44 Lintang Selatan.

Fenomena Solstis merupakan tanda pergantian musim bagi negara-negara subtropis dan berlintang tinggi. Solstis rutin terjadi dua kali setiap tahun, yakni tiap Juni dan Desember.

Saat solstis atau titik balik Matahari musim dingin Desember, poros utara Bumi miring menjauhi Matahari. Hasilnya, siang dengan durasi paling singkat dan malam terpanjang dalam setahun di belahan Bumi utara seperti di Kanada, AS, dan Eropa.

Pada saat bersamaan, poros selatan Bumi seperti Australia, Afrika bagian selatan mengarah ke Matahari. Ini berarti hari dengan jam siang paling banyak dan malam terpendek di belahan Bumi selatan.

(tim/dmi)

[Gambas:Video CNN]



Sumber: www.cnnindonesia.com