Detik-detik Bayangan Tiang Lampu di Jakarta ‘Raib’ Efek Kulminasi

Berikut kronologi hilangnya bayangan objek-objek yang berdiri tegak akibat fenomena kulminasi yang terjadi di Jakarta, Senin (9/10).
Jakarta, CNN Indonesia

Hari tanpa bayangan di DKI Jakarta membuat objek yang berdiri tegak tak memiliki bayangan, mulai dari pohon hingga tiang lampu penerangan jalan buntut fenomena kulminasi. Berikut kronologinya.

Pantauan CNNIndonesia.com pada Senin (9/10) pukul 11.41 WIB bayangan sejumlah benda di kawasan Palmerah, Jakarta Barat perlahan mulai hilang. Padahal di waktu sebelumnya bayangan itu masih sempat terlihat.

Fenomena itu tak berlangsung lama. Perlahan bayangan kembali terlihat sekira 11.46 WIB, dengan begitu, durasi tanpa bayangan di Palmerah, Jakarta Barat hanya berlangsung sekitar lima menit.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suhu di kawasan ini pun terbilang panas. Aplikasi pemantau suhu dan cuaca di iOS menunjukkan mencapai 34 derajat Celsius, sedangkan di aplikasi Android mencapai 36 derajat Celsius.

Hilangnya bayangan ini buntut fenomena kulminasi.Matahari pun pada momen ini benar-benar berada di atas kepala.

Fenomena ini terkait dengan kulminasi atau hari tanpa bayangan. Hal ini terjadi akibat gerak semua Matahari, yang sebenarnya efek gerakan Bumi mengelilingi Matahari.

Bentuk lainnya adalah fenomena ekuinoks,yakni saat posisi titik semu Matahari yang melintasi garis khatulistiwa atau ekuator.

Hari tanpa bayangan juga akan terjadi di Kota Bogor pada keesokan harinya, Selasa (10/10) pukul 11.39 WIB.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena kulminasi ini berdampak pada kondisi suhu udara yang lebih panas dari biasanya.

“Kulminasi utama terjadi saat kedudukan Matahari tepat di atas kepala kita. Pada saat itu sudut datang sinar matahari akan tegak lurus dengan permukaan bumi, sehingga energi sinar Matahari akan terkonsentrasi pada area yang sempit,”demikian keterangan BMKG dalam sebuah Buletin pada 2020.

“Hal ini menyebabkan permukaan bumi menerima energi yang lebih besar, sehingga kondisi suhu udara lebih panas dari biasanya,” lanjut keterangan itu.




Detik-detik sebelum bayangan ‘hilang’ akibat fenomena kulminasi yang terjadi di Jakarta, Senin (9/10). (Foto: CNN Indonesia/Chandra Erlangga)

Walau begitu, Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan fenomena ini tak selalu mengakibatkan peningkatan suhu udara secara drastis atau ekstrem.

“Faktor-faktor lain seperti kecepatan angin, tutupan awan, dan tingkat kelembapan udara memiliki dampak yang lebih besar terhadap suhu di suatu wilayah,”urai dia, pekan lalu.

“Tidak ada perubahan suhu maksimum di Indonesia yang besar saat fenomena ekuinoks terjadi, biasanya kisaran 32-36 C,” imbuhnya.

Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG untuk Senin (9/10), suhu minimum di berbagai daerah administratif Jakarta mencapai 24 hingga 26 derajat Celsius, dengan suhu maksimum 29 sampai 33 derajat Celsius.

Namun, yang perlu diwaspadai adalah faktor kelembapan udara yang berkisar 55-90 persen. Semakin tinggi kelembapan, semakin panas udara terasa meski angka suhunya tetap sama.

(can/dmi)


[Gambas:Video CNN]



Sumber: www.cnnindonesia.com