Deret Prediksi Kemajuan AI yang Semakin Ngeri di 2024

Inggris diberikan akses awal oleh Open AI dan Google untuk mempelajari bahaya kecerdasan buatan (AI).

Daftar Isi



Jakarta, CNN Indonesia

Kecerdasan buatan (AI) mendapat popularitas yang besar pada 2023 dan diprediksi kian populer pada tahun ini imbas sederet kemajuan yang membuat teknologi ini semakin ngeri.

AI sebenarnya sudah ada selama beberapa dekade. Namun, 2023 melahirkan banyak terobosan untuk teknologi ini, di antaranya ChatGPT dari OpenAI yang membuatnya dapat diakses dan praktis bagi masyarakat.

Namun, AI sebetulnya memiliki sejarah yang tidak mulus, dan teknologi yang ada saat ini didahului oleh rekam jejak eksperimen yang gagal.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagian besar inovasi dalam AI tampak siap untuk meningkatkan hal-hal seperti diagnostik medis dan penemuan ilmiah. Salah satu model AI dapat, misalnya, mendeteksi apakah Anda berisiko tinggi terkena kanker paru-paru dengan menganalisis pemindaian sinar-X.

Selama pandemi Covid-19, para ilmuwan juga membangun algoritma yang dapat mendiagnosis virus dengan mendengarkan perbedaan halus dalam suara batuk seseorang.

AI juga telah digunakan untuk merancang eksperimen fisika kuantum di luar apa yang dapat dibayangkan oleh manusia.

Masalahnya, tidak semua inovasi itu begitu jinak dan bermanfaat. Ada beberapa inovasi yang menyeramkan bagi umat manusia, mulai dari drone pembunuh hingga AI yang mengancam masa depan umat manusia.

Dikutip dari Live Science, berikut adalah beberapa terobosan AI paling menakutkan yang mungkin terjadi pada 2024:

Era kecerdasan buatan umum (AGI)

Beberapa waktu lalu, CEO OpenAI Sam Altman diberhentikan dan dipekerjakan kembali di perusahaan tersebut, tetapi tidak diketahui apa alasan yang jelas dari peristiwa tersebut.

Namun di tengah kekisruhan itu, beredar rumor tentang teknologi canggih yang dapat mengancam masa depan umat manusia.

Sistem OpenAI, yang disebut Q* (diucapkan Q-star) dapat mewujudkan realisasi kecerdasan umum buatan (AGI) yang berpotensi menjadi terobosan baru.

Tidak banyak yang diketahui tentang sistem misterius ini, tetapi jika laporan tersebut benar, sistem ini dapat meningkatkan kemampuan AI hingga beberapa tingkat.

AGI disebut sebagai titik kritis hipotetis, yang juga dikenal sebagai “Singularitas”, di mana AI menjadi lebih pintar daripada manusia.

Generasi AI saat ini masih tertinggal di bidang-bidang yang menjadi keunggulan manusia, seperti penalaran berbasis konteks dan kreativitas. Saat ini sebagian besar konten yang dihasilkan AI hanya mengkreasi kembali data yang digunakan untuk melatihnya.

Namun, menurut para ilmuwan, AGI berpotensi melakukan pekerjaan tertentu dengan lebih baik daripada kebanyakan orang. Ia juga dapat dipersenjatai dan digunakan.

Misalnya, untuk menciptakan patogen yang disempurnakan, meluncurkan serangan siber besar-besaran, atau mengatur manipulasi massal.

Gagasan tentang AGI telah lama hadir pada karya fiksi ilmiah, dan banyak ilmuwan percaya kita tidak akan pernah mencapai titik ini.

Deepfake makin mirip dengan aslinya

Salah satu ancaman siber yang paling mendesak di era AI adalah deepfake, yang adalah gambar atau video yang sepenuhnya dibuat-buat dengan kecerdasan buatan.

Teknologi deepfake AI tahun ini dinilai bakal makin oke, termasuk dalam menghasilkan wajah manusia yang kian sulit dibedakan asli atau palsunya.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science pada 13 November menemukan fenomena “hiperrealisme,” dengan konten yang dihasilkan AI lebih cenderung dianggap “nyata” daripada konten yang sebenarnya.

Hal ini akan membuat orang hampir tidak mungkin membedakan fakta dan fiksi dengan mata telanjang. Meski alat dapat membantu orang mendeteksi deepfake, namun metode ini belum umum digunakan.

Robot pembunuh bertenaga AI

Pemerintah di seluruh dunia semakin sering menggunakan AI sebagai alat untuk berperang.

AS mengumumkan pada 22 November bahwa 47 negara telah mendukung deklarasi tentang penggunaan AI yang bertanggung jawab dalam militer, yang pertama kali diluncurkan di Den Haag pada Februari.

Mengapa deklarasi semacam itu diperlukan?

Hal ini dikarenakan penggunaan yang “tidak bertanggung jawab” adalah prospek yang nyata dan menakutkan. Kita telah melihat, misalnya, drone AI yang diduga memburu tentara di Libya tanpa campur tangan manusia.

AI dapat mengenali pola, belajar mandiri, membuat prediksi, atau menghasilkan rekomendasi dalam konteks militer, dan perlombaan senjata AI sudah berlangsung.

Pada 2024, kemungkinan kita tidak hanya akan melihat AI digunakan dalam sistem persenjataan, tetapi juga dalam logistik dan sistem pendukung keputusan, serta penelitian dan pengembangan. Sebagai contoh, pada 2022, AI menghasilkan 40.000 senjata kimia hipotetis baru.

Berbagai cabang militer AS telah memesan drone yang dapat melakukan pengenalan target dan pelacakan pertempuran lebih baik daripada manusia.

Israel juga menggunakan AI untuk mengidentifikasi target dengan cepat, setidaknya 50 kali lebih cepat daripada yang dapat dilakukan manusia dalam perang Israel-Hamas yang tengah berlangsung.

Beberapa perkembangan tersebut menunjukkan bahwa tahun ini mungkin merupakan terobosan bagi robot pembunuh.

[Gambas:Video CNN]

(lom/dmi)



Sumber: www.cnnindonesia.com