Dengan Algoritma, Peneliti Denmark Prediksi Kapan Orang Mungkin Mati

Pengalaman sejumlah perusahaan dan survei menunjukkan AI justru membuat pekerjaan makin banyak. Sementara, tak ada peningkatan gaji pegawai.


Jakarta, CNN Indonesia

Para ilmuwan di Denmark dapat ‘melihat’ kapan seseorang akan mungkin meninggal menggunakan perhitungan algoritma. Bahkan prediksi mereka diklaim sangat akurat.

Dilansir dari CNN, Sabtu (23/12), hasil studi peneliti Denmark berjudul ‘Nature Computational Science’ yang baru saja diterbitkan, merinci bagaimana model algoritma pembelajaran mesin yang disebut life2vec bisa memprediksi kehidupan dan perilaku seseorang menggunakan data spesifik tentang mereka.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Dengan data (pribadi seseorang tersebut), kita dapat membuat prediksi apapun,” kata Sune Lehmann, penulis utama studi tersebut dan profesor di Technical University of Denmark.

Namun, para peneliti menekankan bahwa ini adalah ‘prototipe penelitian’ yang tidak dapat digunakan di dunia nyata dalam kondisi saat ini.

Pada penelitiannya, Lehmann dan rekan penulisnya menggunakan data dari daftar nasional di Denmark yang merinci kelompok beragam yang terdiri dari 6 juta orang. Data tersebut mencakup informasi dari 2008 hingga 2016 terkait aspek-aspek utama kehidupan seperti pendidikan, kesehatan, pendapatan, dan pekerjaan.

Para peneliti mengadaptasi teknik pemrosesan bahasa dan menghasilkan kosa kata untuk peristiwa kehidupan sehingga life2vec dapat menafsirkan kalimat berdasarkan data.

Beberapa contoh hasil pemrosesan seperti ‘Pada September 2012, Francisco menerima dua puluh ribu kroner Denmark sebagai penjaga di sebuah kastil di Elsinore’ atau ‘Selama periode tahun ketiganya di sekolah asrama menengah, Hermione mengikuti lima kelas pilihan’.

“Algoritma tersebut kemudian belajar dari data tersebut sehingga mampu membuat prediksi tentang aspek-aspek tertentu dalam kehidupan seseorang, termasuk bagaimana mereka berpikir, merasakan dan berperilaku, dan bahkan apakah orang tersebut akan meninggal dalam beberapa tahun mendatang,” kata Lehmann.

Untuk memprediksi seberapa dini seseorang mungkin meninggal, tim menggunakan data dari 1 Januari 2008 hingga 31 Desember 2015 pada lebih dari 2,3 juta orang berusia antara 35 dan 65 tahun. Kelompok ini dipilih karena angka kematian pada rentang usia tersebut lebih sulit diprediksi.

Dari data itu, peneliti meminta algoritma untuk membuat prediksi individual siapa saja yang akan meninggal dan siapa yang berhasil hidup dan melewati 2016.

“Hasilnya sangat mengesankan, algoritma tersebut 78 persen benar. Life2vec juga mengungguli model dan data dasar canggih lainnya setidaknya sebesar 11 persen dengan memprediksi hasil kematian secara lebih akurat,” pungkas Lehmann dalam laporannya.

(ldy/pmg)

[Gambas:Video CNN]



Sumber: www.cnnindonesia.com