Data Ungkap AI Memang Bakal Picu ‘Bencana’, tapi Ada Titik Terang

Inggris diberikan akses awal oleh Open AI dan Google untuk mempelajari bahaya kecerdasan buatan (AI).


Jakarta, CNN Indonesia

Kekhawatiran manusia bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat menggantikan mereka di sejumlah pekerjaan amat potensial terbukti meski tetap ada harapan.

Laporan dari ResumeBuilder menyebut kecerdasan buatan akan membuat banyak pekerjaan hilang. Menurut laporan terbaru yang melibatkan 750 pemimpin bisnis ini, 37 persen mengatakan bahwa teknologi AI akan menggantikan para pekerja pada 2023.

Sementara itu, 44 persen menyebut akan ada pemutusan hubungan kerja pada 2024 sebagai akibat dari efisiensi memakai AI.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada November lalu, Bos X (sebelumnya Twitter) Elon Musk menegaskan bahwa kecerdasan buatan akan membawa manusia ke titik di mana “tidak ada pekerjaan yang dibutuhkan.”

Meski saat ini banyak laporan PHK yang terinspirasi oleh AI, banyak ahli yang tidak setuju dengan pandangan Musk tersebut.

Julia Toothacre, ahli strategi resume dan karier di ResumeBuilder, mengakui angka-angka dari penelitiannya mungkin tidak secara akurat mencerminkan lanskap bisnis yang luas.

“Masih ada begitu banyak organisasi tradisional dan bisnis kecil yang tidak merangkul teknologi seperti yang dilakukan oleh beberapa perusahaan besar,” kata Toothacre, dikutip dari CNBC.

PHK adalah sebuah kenyataan yang harus dihadapi mereka yang tergantikan AI, tetapi teknologi AI juga memungkinkan para pemimpin bisnis untuk merestrukturisasi dan mendefinisikan ulang pekerjaan yang kita lakukan.

Alex Hood, kepala bagian produk di perusahaan perangkat lunak manajemen proyek dan kolaborasi Asana, memperkirakan separuh dari waktu yang kita habiskan di tempat kerja adalah untuk melakukan apa yang disebutnya “pekerjaan tentang pekerjaan.”

Dalam hal tersebut, dia merujuk pada pembaruan status, komunikasi lintas departemen, dan semua bagian lain dari pekerjaan yang tidak menjadi inti dari alasan kita berada di sana.

“Jika hal tersebut dapat dikurangi karena AI, hal tersebut dapat menjadi pembuka jalan yang bagus,” ujar Hood.

Hood mengatakan tanpa penjelasan di balik angka-angka tersebut, statistik yang menandai dan memprediksi PHK yang disebabkan oleh AI lebih mencerminkan ketakutan daripada kenyataan.

Sementara itu, menurut Marc Cenedella, pendiri Leet Resumes and Ladders. Dengan AI yang menangani pekerjaan berbasis tugas, manusia sebetulnya memiliki peluang untuk naik tingkat.

“Untuk seluruh perekonomian, [para pekerja akan dapat fokus pada] mengintegrasikan atau menyusun atau mendefinisikan apa itu pekerjaan berbasis tugas,” katanya.

Dia membandingkan pergeseran ini dengan budaya kantor di abad pertengahan, ketika ada banyak juru ketik di seluruh lantai, sesuatu yang telah dihilangkan oleh efisiensi pengolah kata.

[Gambas:Video CNN]

(lom/dmi)



Sumber: www.cnnindonesia.com