Daftar Wilayah Potensi Hujan Lebat Hingga Pekan Depan, Minus Jakarta

BMKG mengungkap sejumlah wilayah berpotensi dilanda cuaca ekstrem pada awal bulan Agustus, meski fenomena El Nino mulai menyapa Indonesia.

Jakarta, CNN Indonesia

Sejumlah wilayah, kecuali Jawa termasuk Jakarta, diprediksi dilanda cuaca ekstrem pada awal Agustus saat fenomena El Nino mulai merangkak naik.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dalam Prospek Cuaca Seminggu ke Depan Periode 4-10 Agustus 2023, memberikan “peringatan dini” cuaca ekstrem.

“Masyarakat dihimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem (puting beliung, hujan lebat disertai kilat/petir, hujan es, dll),” demikian menurut lembaga tersebut.

“Dan dampak yang dapat ditimbulkannya seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin dalam satu minggu kedepan di wilayah,” lanjut keterangan itu.

Berikut rincian daerah potensial cuaca ekstrem itu:

4–5 Agustus: Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kep. Riau, Bengkulu, Jambi, Lampung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua.

6–7 Agustus: Aceh, Sumatra Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Papua.

8–10 Agustus: Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah,Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Papua.

Penyebab

BMKG mengatakan faktor cuaca global dan regional di sebagian besar wilayah Indonesia sangat mempengaruhi cuaca di wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan.

“Berdasarkan prediksi kondisi global, regional, dan probabilistik model diprakirakan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat terdapat di wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat, dan Papua,” demikian tulis BMKG.

Sementara itu, kondisi cuaca di wilayah Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara diprediksi cerah berawan hingga berawan.

“Masyarakat diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem (puting beliung, hujan lebat disertai kilat/petir, hujan es, dll),” kata BMKG.

“Dan dampak yang dapat ditimbulkannya seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin dalam satu minggu ke depan,” lanjut keterangan itu.

El Nino sudah muncul, tapi kenapa masih ada daerah yang berpotensi hujan?

BMKG mengungkap saat ini kondisi El Nino di Indonesia memang mulai menguat tipis, meski masih dalam kondisi lemah.

Merujuk Ikhtisar Cuaca Harian BMKG untuk Kamis (3/8), Indeks NINO 3,4 yang mengindikasikan tingkat El Nino berada pada angka +1,05, naik dari pekan sebelumnya yang masih berada pada angka +1,0.

Penanda El Nino lainnya, Southern Oscillation Index (SOI) ada pada angka -5,6 alias tidak signifikan. Dipole Mode Index (DMI), yang menunjukkan tingkat fenomena pemicu curah hujan di Samudera Hindia, Indian Ocean Dipole (IOD) juga tak signifikan (+0,16).

“Dalam skala global, nilai SOI, IOD, dan NINO 3.4 tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia,” tulis BMKG.

Beberapa aktivitas fenomena atmosfer regional dan lokal juga tidak memengaruhi sebagian besar wilayah Tanah Air.

Menurut BMKG, selama sepekan ke depan, aktivitas gelombang atmosfer Rossby Ekuator diprakirakan aktif di sebagian wilayah Papua.

Sementara, gelombang Kelvin diprakirakan masih akan aktif di sebagian Sumatra bagian timur, Kalimantan bagian utara dan selatan, Sulawesi bagian utara dan tengah, Maluku, Maluku Utara, Papua barat, dan Papua.

Sirkulasi Siklonik yang berada di Teluk Cenderawasih membentuk daerah konvergensi memanjang dari Papua Barat hingga Papua, serta daerah konfluensi di Papua.

Daerah konvergensi lain memanjang dari Perairan barat Bengkulu hingga Sumatra Barat, dari Riau hingga Perairan timur Malaysia, di utara Pulau Kalimantan, dari Laut Banda hingga Sulawesi Tengah, dari Maluku hingga Maluku Utara, di Papua, dan di Samudera Pasifik utara Papua.

Daerah konfluensi lain berada di Laut Sulu dan Samudra Pasifik utara Teluk Cenderawasih.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati sebelumnya sudah mewanti-wanti soal potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir meski El Nino sudah tiba.

“Meskipun kita masuk musim kemarau kering, tetapi karena wilayah Indonesia ini dipengaruhi oleh dua samudera dan juga topografinya yang bergunung-gunung di khatulistiwa, masih tetap ada kemungkinan satu wilayah mengalami kekeringan, tetangganya mengalami banjir atau bencana hidrometeorologi,” kata Dwikorita beberapa waktu lalu.




Waspada El Nino di Indonesia (Foto: CNN Indonesia/ Agder Maulana)

(tim/dmi)





Sumber: www.cnnindonesia.com