Daftar Bahaya Kemarau Kering Akibat El Nino di RI

BMKG mengungkap potensi bahaya fenomena El Nino yang diprediksi landa RI hingga enam bulan ke depan.

Jakarta, CNN Indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi Indonesia akan kedatangan fenomena El Nino hingga enam bulan ke depan. Lalu apa saja bahayanya buat Republik Indonesia (RI)

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan pada Maret hingga Mei 2023 beberapa wilayah seperti Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara akan menghadapi pancaroba alias fase transisi dari musim hujan ke musim kemarau.

Dengan demikian masyarakat harus waspada terjadinya angin kencang, puting beliung hingga hujan lebat dengan durasi yang relatif sebentar.

“Yang harus diwaspadai biasanya fenomena cuaca ekstrem yang sering muncul, angin kencang angin puting beliung dan bisa jadi hujan lebat meskipun singkat,” ujar Dwikorita secara virtual, Jumat (27/1).

Ia menjelaskan kewaspadaan yang tinggi perlu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya penurunan curah hujan. Terlebih biasanya kondisi ini dibarengi dengan keadaan kekeringan.

Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kata Dwikorita, kondisi kemarau ini terbilang beda. Itu karena tahun ini terdapat fenomena El Nino yang membuat kemarau lebih cenderung kering.

Hal tersebut bertolak belakang dengan tiga tahun terakhir, yakni saat RI dilanda kemarau basah akibat fenomena La Nina.

Selain itu, dia juga meminta untuk waspada terjadinya bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama yang terjadi di wilayah lahan gambut.

Wilayah yang harus diwaspadai di antaranya Riau, Jambi dan Sumatera Utara. Ketiga wilayah itu kata Dwikorita banyak terdapat lahan gambut yang saat terjadi kebakaran terbilang sulit untuk padam.

“Karhutla rentan di lahan gambut, yang artinya apabila terbakar sangat dalam (titik apinya). Ini berdampak memadamkannya tidak mudah,” ujarnya.

Dwikorita juga mengimbau waspada karhutla pada Mei 2023 di wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Jawa Timur dan Nusa Tenggara.

Tak luput, ia juga mewanti-wanti kepada para pendaki gunung untuk tidak melakukan aktivitas yang bisa menyebabkan terjadinya kebakaran di wilayah pegunungan.

“Misalnya kita hiking di Jawa itu jangan mudah membuang puntung rokok ya, akan terbakar meskipun bukan lahan gambut,” tuturnya.

Kewaspadaan terhadap karhutlah itu, kata dia, masih berlangsung hingga kemarau kering berakhir setidaknya hingga Oktober 2023.

Pangan hingga resesi

Terpisah, Bill McGuire, profesor risiko iklim dan geofisikal di University College, London, Inggris, memperingatkan fenomena El Ninoini akan membuat suhu dunia makin panas dan berdampak pada masalah pangan hingga biaya hidup.

“Terlepas dari apakah cuaca menjadi cukup panas atau tidak dengan berkembangnya El Niño sepenuhnya, tahun 2023 memiliki peluang yang sangat bagus, tanpa pengaruh pendinginan La Niña, untuk menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat,” ungkap dia, dikutip dari Wired.

“Saat panas meningkat lagi di 2023, sangat mungkin kita akan menyentuh atau bahkan melebihi 1,5°C (batas kenaikan suhu yang dianggap masih aman) untuk pertama kalinya,” lanjut McGuire.

Ia pun mengungkap prediksi bahaya jika itu terjadi. “Suhu yang lebih tinggi akan berarti kekeringan parah akan terus terjadi, memangkas hasil panen di banyak bagian dunia.”

“Akibat kekurangan pangan di sebagian besar negara, kerusuhan sipil bisa terdorong, sementara kenaikan harga di negara maju akan terus memicu inflasi dan krisis biaya hidup,” tutup McGuire.

(can/arh)



[Gambas:Video CNN]




Sumber: www.cnnindonesia.com