Cuaca Ekstrem Jadi Ancaman Paling Ngeri 2024 Versi Pakar, AI Kedua

Survei World Economic Forum mengungkap cuaca ekstrem jadi ancaman terbesar tahun ini, disusul oleh AI. Simak penjelasannya berikut.


Jakarta, CNN Indonesia

World Economic Forum (WEF) mengungkap cuaca ekstrem jadi ancaman terbesar tahun ini, disusul oleh AI dan polarisasi sosial/politik.

Hal itu terungkap dalam Global Risk Report 2024 WEF yang merupakan hasil survei tentang lanskap risiko global terhadap 1.490 para ahli di bidang akademik, bisnis, pemerintahan, komunitas internasional, dan masyarakat sipil.

Risiko global (global risk) sendiri didefinisikan sebagai kemungkinan terjadinya terjadinya suatu peristiwa atau kondisi yang, jika itu memang terjadi, akan berdampak negatif secara signifikan terhadap proporsi pendapatan domestik bruto (PDB) global, populasi atau sumber daya alam.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut 10 risiko global terbesar yang dihadapi di 2024 versi survei WEF:

+ Cuaca ekstrem (66 persen)
+ AI genereted misinformation and disinformation (53 persen)
+ Polarisasi sosial dan/atau politik (46 persen)
+ Krisis biaya hidup (42 persen)
+ Serangan siber (39 persen)
+ Penurunan ekonomi (33 persen)
+ Terganggunya rantai pasokan barang dan sumber daya penting (25 persen)
+ Eskalasi atau pecahnya konflik bersenjata antarnegara (25 persen)
+ Serangan terhadap infrastruktur penting (19 persen)
+ Rantai pasokan makanan terganggu (18 persen)

Kenapa cuaca ekstrem?

WEF mengungkap banyaknya pilihan terhadap cuaca esktrem adalah buntut gelombang panas dan pecahnya sejumlah rekor panas sepanjang sejarah di belahan Bumi utara di 2023.

Dalam periode yang sama, kata WEF, fenomena El Nino, diperkirakan akan menguat dan bertahan sampai Mei tahun ini. Versi BMKG dan Badan Kelautan dan Atmosfer AS (NOAA), El Nino bisa bertahan hingga April 2024.

“[Kondisi] ini bisa terus memicu rekor baru panas, dengan gelombang panas yang ekstrem, kekeringan, kebakaran hutan, dan banjir dapat diantisipasi,” menurut WEF.

Lembaga ini mengungkap fenomena cuaca ekstrem ini terkait dengan pemanasan global yang mendekati “titik kritis iklim.”

Yakni, ambang batas suhu 1,5 derajat Celsius lebih panas dari rata-rata era pra-industri yang memicu perubahan jangka panjang, berpotensi tidak dapat diubah, dan terus berlanjut.

Angka ini diperkirakan akan tercapai pada awal 2030-an.

Gill Einhorn, Head, Innovation and Transformation, Centre for Nature and Climate, World Economic Forum, mengatakan cuaca ekstrem ini dipicu oleh “perubahan mendadak dan tidak dapat diubah pada sistem Bumi.”

Hal ini juga memberi risiko runtuhnya ekosistem yang tidak beradaptasi dengan baik terhadap iklim.

Solusi prioritasnya adalah pengurangan emisi atau pelepasan gas pemicu rumah kaca yang membuat Bumi makin panas.

“Mengurangi emisi manusia adalah cara tercepat untuk menunda atau menghindari perubahan penting pada sistem bumi,” ujar Einhorn, dikutip dari situs WEF.

Efek buruk AI

Benjamin Larsen, Lead, Artificial Intelligence and Machine Learning, World Economic Forum, memaparkan AI dianggap berbahaya lantaran potensi integrasinya dalam pengambilan “keputusan konflik yang menimbulkan risiko eskalasi yang tidak disengaja.”

Selain itu, ada efek “pemberdayaan aktor jahat yang asimetris.”

“Kolaborasi dalam bidang AI dan perang siber dipandang penting untuk mengatasi risiko-risiko ini secara efektif.”

Diskusi baru-baru ini antara Presiden AS Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping, yang mengakui risiko yang terkait dengan sistem AI yang canggih, menandakan semakin besarnya kesadaran global akan perlunya pengelolaan yang bertanggung jawab.

[Gambas:Video CNN]

(tim/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com