Cermin Sekunder Terpasang, Kapan Observatorium Timau Rampung?

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan cermin sekunder dari Observatorium Nasional Timau sudah terpasang.

Jakarta, CNN Indonesia

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan cermin sekunder dari Observatorium Nasional Timau sudah terpasang. Namun kapan teropong bintang raksasa itu mulai bisa beroperasi?

Koordinator Stasiun Observatorium Nasional Kupang BRIN Abdul Rachman menjelaskan status terakhir pembangunan Obnas Timau saat ini telah dilakukan pemasangan cermin sekunder pada 26 Juli 2023.

“Tidak lama lagi pemasangan cermin primer dan tersier juga akan segera dilakukan,” ujar dia seperti dikutip situs BRIN, Senin (31/7).

Abdul melanjutkan instrumen utama yakni teleskop 3.8 meter beserta bangunannya termasuk kubah berdiameter 14 meter sudah terbangun sekitar 55 persen.

“Instrumen utama ini ditargetkan akan rampung dalam dua hingga tiga bulan ke depan,” tuturnya.

Menurutnya tahun 2023 menjadi momentum bersejarah dalam riset antariksa di Indonesia, lantaran tahun proyek Observatorium Timau di kaki Gunung Timau, Nusa Tenggara Timur rencananya rampung dibangun.

Menurutnya, sebelum ada Observatorium Timau, Indonesia baru punya observatorium Bosscha di Bandung, Jawa Barat. Namun selain lokasi, instrumen utamanya menjadi pembeda dari kedua observatorium tersebut.

“Timau dipilih sebagai lokasi Obnas karena langitnya sangat rendah polusi cahaya dan akses ke lokasi yang relatif mudah,” tuturnya.

Lokasi Obsrvatorium Timau itu berada di kawasan hutan lindung lereng Gunung Timau di ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut.

Kawasan obnas berdekatan dengan Desa Bitobe yang masuk dalam Kecamatan Amfoang Tengah. Selain itu juga ada Desa Honuk dan Desa Faumes yang berada di wilayah Kecamatan Amfoang Barat Laut dialokasikan untuk pembangunan Observatorium Nasional Timau.

[Gambas:Instagram]

Observatorium ini pun digadang-gadang bakal jadi yang terbesar di Asia Tenggara.

Sebelumnya, Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN Robertus Heru menjelaskan bangunan Obnas Timau memiliki kesamaan dengan bangunan Observatorium Bosscha. Bedanya, teleskop yang digunakan lebih besar.

“Bangunannya nanti menyerupai Observatorium Bosscha, namun teleskopnya jauh lebih gede daripada di Bosscha. Ini akan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara,” tuturnya kepada CNNIndonesia.com lewat sambungan telepon, Senin (10/1).

Robertus menjelaskan alat yang akan dirakit itu merupakan teropong dan frame penggerak yang berdiameter 3,8 meter. Pengangkutannya ke lokasi pun dilakukan dengan menggunakan beberapa truk kontainer.

Setelah tiba di kawasan Obnas Timau, cermin itu dilakukan perakitan ke teleskop dan dilakukan kalibrasi. Heru menjelaskan spesifikasi teropong di observatorium itu memiliki diameter selebar 3,8 meter membuat teleskop itu bisa menghasilkan penglihatan bintang yang lebih terang meskipun asalnya hanya redup.

[Gambas:Video CNN]

(can/dmi)


[Gambas:Video CNN]




Sumber: www.cnnindonesia.com