Cerita Karyawan Makin Kerja Rodi Karena AI: Seperti Kelinci Percobaan

Pengalaman sejumlah perusahaan dan survei menunjukkan AI justru membuat pekerjaan makin banyak. Sementara, tak ada peningkatan gaji pegawai.

Jakarta, CNN Indonesia

Alih-alih mempermudah, kecerdasan buatan (AI) membuat sejumlah orang bekerja lebih banting tulang. Apa pemicunya?

Neil Clarke, seorang editor dan penerbit, menceritakan baru-baru ini harus menutup sementara formulir pengiriman online untuk fiksi ilmiah dan majalah fantasinya, Clarkesworld, setelah timnya dibanjiri dengan kiriman tulisan buatan AI yang “secara konsisten buruk”.

“Itu adalah cerita-cerita terburuk yang pernah kami lihat, sebenarnya,” kata Clarke tentang ratusan konten produksi AI yang harus diuraikan secara manual. “Tapi ini lebih ke masalah volume, bukan kualitas. Kuantitasnya ‘mengubur’ kami.”

“Ini hampir menambah beban kerja kami,” tambahnya, menggambarkan alat AI terbaru sebagai “duri di pihak kami selama beberapa bulan terakhir.”

Sejak platform AI ChatGPT diluncurkan akhir tahun lalu, banyak tokoh terkemuka di dunia teknologi berbicara tentang bagaimana AI memiliki potensi untuk meningkatkan produktivitas, membantu manusia bekerja lebih sedikit, dan menciptakan pekerjaan baru serta lebih baik di masa depan, mengutip CNN.

“Dalam beberapa tahun ke depan, dampak utama AI pada pekerjaan adalah membantu orang melakukan pekerjaannya dengan lebih efisien,” kata salah satu pendiri Microsoft, Bill Gates, dalam sebuah blog baru-baru ini.

Namun seperti yang sering terjadi pada teknologi, dampak jangka panjangnya tidak selalu jelas atau sama di seluruh industri dan pasar.

Favorit perusahaan teknologi 

Perusahaan-perusahaan teknologi besar kini bergegas untuk ikut tren AI; menjanjikan investasi signifikan ke dalam alat bertenaga AI baru yang diklaim merampingkan berbagai pekerjaan.

Alat-alat ini dapat membantu orang dengan cepat menyusun email, membuat presentasi, dan meringkas kumpulan data atau teks.

Dalam studi terbaru, para peneliti di Institut Teknologi Massachusetts (MIT) menemukan akses ke ChatGPT meningkatkan produktivitas pekerja yang diberi tugas seperti menulis surat lamaran, email yang “rumit” dan analisis biaya-manfaat.

“Saya kira penelitian kami menunjukkan teknologi semacam ini memiliki aplikasi penting dalam pekerjaan kerah putih. Ini adalah teknologi yang berguna,” kata Shakked Noy, seorang mahasiswa PhD di Departemen Ekonomi MIT, yang ikut menulis makalah tersebut, dalam sebuah pernyataan.

“Namun masih terlalu dini untuk mengatakan apakah teknologi ini akan menjadi baik atau buruk, atau bagaimana tepatnya teknologi ini akan membuat masyarakat menyesuaikan diri,” imbuhnya.

Mathias Cormann, sekretaris jenderal Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) baru-baru ini mengatakan organisasi antar-pemerintah menemukan bahwa AI dapat meningkatkan beberapa aspek kualitas pekerjaan. Nmaun, ada pengorbanannya.

“Para pekerja melaporkan intensitas pekerjaan mereka telah meningkat setelah penerapan AI di tempat kerja mereka,” kata Cormann merujuk pada temuan laporan yang dikeluarkan oleh organisasi tersebut.

Laporan tersebut juga menemukan untuk spesialis non-AI dan non-manajer, penggunaan teknologi ini hanya memiliki “dampak minimal pada upah sejauh ini” – yang berarti untuk rata-rata karyawan, pekerjaannya meningkat, tetapi gajinya tidak.

Kelinci percobaan di halaman berikutnya…


Merasa Seperti Kelinci Percobaan

BACA HALAMAN BERIKUTNYA



Sumber: www.cnnindonesia.com