Carbon Capture and Storage Solusi Palsu Cegah Pemanasan Global

Studi mengungkap polusi udara jenis PM 2.5 melanda hampir semua tempat di dunia. Simak penyebabnya berikut.


Jakarta, CNN Indonesia

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyoroti teknologi Carbon Capture Storage (CCS) atau Carbon Capture, Utilisation, and Storage (CCUS) sebagai solusi palsu untuk mencegah pemanasan global dan krisi iklim di Indonesia. 

CSS ini sedang ramai diperbincangkan karena ditanyakan calon wakil presiden Gibran Rakabuming Raka ke cawapres lain Mahfud MD di debat tadi malam. 

Manajer Kampanye Tambang dan Energi WALHI, Fanny Tri Jambore melihat bahwa penerapan teknologi tersebut hanya memperkeruh dampak buruk dari penggunaan bahan bakar fosil sebagai penunjang pemanasan global.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“CCS/CCUS tidak lebih adalah solusi palsu dari upaya mencegah pemanasan global dan krisis iklim,” kata Fanny Tri saat dihubungi oleh CNNIndonesia.com, Sabtu (23/12).

Lebih lanjut, Fanny Tri memaparkan proyeksi kegagalan dari proyek CCS atau CCUS yang dihimpun oleh hasil riset Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA).

Menurut Fanny Tri, hasil riset IEEFA menunjukkan bahwa dari 13 proyek CCS/CCUS berskala besar di seluruh dunia hanya menghasilkan total 39 juta ton CO2 per tahun.

“Angka ini hanya sekitar 1/10.000 dari total 36 miliar ton emisi yang dibuang ke atmosfer pada tahun 2021,” jelas Fanny Tri merangkum temuan IEEFA tersebut.

“IIEFA menunjukkan CCS/CCUS adalah teknologi yang sepanjang sejarahnya gagal mencapai tujuannya, atau gagal memenuhi ekspektasi,” ujarnya.

Walhi pun menegaskan bahwa proyek CCS/CCUS sejatinya tidak lagi layak untuk diterapkan, termasuk di Indonesia. Ia pun menyoroti sikap pemerintah Indonesia yang disebutnya bakal tetap menjalankan 16 proyek berbasis CCS/CCUS di bawah mandat Kementerian ESDM.

“Oleh karena itu, tidak boleh ada lagi proyek-proyek hulu migas baru yang akan beroperasi dalam jangka waktu lama, begitu pula dengan pertambangan batu bara baru, perluasan tambang, atau pembangkit listrik tenaga batu bara baru”.

Mengutip situs Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), CCS merupakan salah satu teknologi mitigasi pemanasan global dengan cara mengurangi emisi CO2 ke atmosfer.

“Teknologi ini merupakan rangkaian pelaksanaan proses yang terkait satu sama lain, mulai dari pemisahan dan penangkapan CO2 dari sumber emisi gas buang, pengangkutan CO2 tertangkap ke tempat penyimpanan, dan penyimpanan ke tempat yang aman”.

Pemisahan dan penangkapan CO2 tersebut dilakukan dengan teknologi absorpsi yang sudah dikenal oleh kalangan industri.

Meski begitu, Fanny Tri tak heran jika kegagalan dan ketidakefektifan teknologi ini tidak menghentikan minat para pelaku industri fosil untuk tidak menggunakannya.

“Karena teknologi ini bisa dipakai sebagai dalih operasi mereka,” cetus Fanny Tri.

“Dengan menyatakan akan menerapkan teknologi CCS/CCUS, industri bahan bakar fosil masih akan meneruskan operasi-operasi mereka bersandar pada perhitungan-perhitungan penyerapan karbon di masa depan yang sudah terbukti gagal di masa sekarang,” imbuhnya.

CCS dorong perekonomian

Sementara itu Deputi Bidang Kedaulatan Maritim dan Energi dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves) Jodi Mahardi mengungkap penerapan teknologi CCS sebagai pendorong perekonomian Indonesia.

Melalui keterangan pers yang diterima oleh CNNIndonesia.com, Sabtu (23/12), Kemenkomarves mewakili pemerintah Republik Indonesia mengungkap kebanggaan dalam penerapan teknologi tersebut.

“Dengan komitmen kuat untuk pembangunan berkelanjutan, Pemerintah Indonesia dengan bangga mengumumkan kemajuan strategis dalam penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS),” ungkap Jodi dalam keterangan resminya.

Ia menambahkan, Indonesia memiliki potensi penyimpanan CO2 hingga 400-600 gigaton melalui penyimpanan depleted reservoir dan saline aquifer. Hal itu membuat “Indonesia beridiri di garis depan industri hijau,” klaim Jodi.

Selain itu, Jodi mengatakan bahwa pemerintah Indonesia berambisi untuk mengembangkan teknologi CCS dan membentuk titik singgah CCS di kawasan. Hal itu selaras dengan inisiatif Indonesia untuk mencapai Net Zero Emission pada 2060.

“Inisiatif ini tidak hanya akan menampung CO2 domestik tetapi juga menggali kerjasama internasional,” ungkap Jodi menjanjikan potensi penerapan teknologi CCS di Indonesia.

“Ini menandakan era baru bagi Indonesia, dimana CCS diakui sebagai ‘license to invest’ untuk industri rendah karbon seperti blue ammonia, blue hydrogen, dan advanced petrochemical,” sambungnya.

“Pendekatan ini akan menjadi terobosan bagi perekonomian Indonesia, dengan membuka peluang industri baru dan menciptakan pasar global untuk produk-produk rendah karbon,” klaim Jodi.

Perbincangan mengenai teknologi CCS ini menjadi ramai usai Calon Wakil Presiden nomor urut 2 Gibran Rakabuming Raka bertanya kepada Cawapres nomor urut 3 Mahfud MD dalam Debat Cawapres, Jumat (22/12) semalam.

“Bagaimana cara membuat regulasi Carbon Capture and Storage?” tanya Gibran ke Mahfud.

Mahfud tidak spesifik menjelaskan soal CCS tersebut saat menjawab. Ia hanya menjawab secara umum soal proses penyusunan regulasi.

“Nah itu yang akan kami buat, bagaimana mengatur Undang-undang karbon, bukan hanya itu jadi itu yang akan dilakukan,” kata Mahfud.

(far/sur)

[Gambas:Video CNN]



Sumber: www.cnnindonesia.com