Cara ‘Mamet’ Lolos dari Godaan Sebar Konten Hoaks

Dennis Adhiswara, pemeran Mamet di Ada Apa dengan Cinta?, mengungkap kunci agar terhindar dari godaan hoaks yang terkutuk.


Jakarta, CNN Indonesia

Pemeran Mamet di film Ada Apa Dengan Cinta?, Dennis Adhiswara, mengaku pernah hampir membagikan berita bohong atau hoaks yang berseliweran di media sosial. Kuncinya agar tak terjebak adalah berpikir tenang, tak emosi.

Kala itu, Dennis mengaku tertarik membagikan berita atau informasi tersebut karena terlihat sangat bombastis dan spektakuler.

“Ada berita yang luar biasa spektakuler dan wah. Hampir saja saya share,” kata Dennis dalam sesi Talkshow Ada Apa Dengan Digital yang merupakan kolaborasi antara Transmedia dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi, di Balai Sarbini, Jakarta Pusat, Rabu (7/2).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Niatan itu untungnya secepat kilat diurungkan Dennis. Alih-alih langsung membagikan informasi bombastis tersebut, Dennis memilih menenangkan diri dan bertanya ke beberapa teman dan mencari tahu melalui akun berita nasional lainnya soal kebenaran informasi tersebut.

Setelah mengetahui duduk perkara bahwa informasi spektakuler itu hoaks dia pun mengurungkan niat untuk menyebarkan berita tersebut. Sebab bisa dipastikan apa yang tadi dianggap spektakuler justru merupakan informasi bohong.

“Kalau disebar, image kita bisa jelek. Dapat sentimen negatif. Tapi ya memang harus diakui manusia selalu tertarik sama hal luar biasa, termasuk berita buruk dan informasi bohong,” kata Dennis.

Dalam kesempatan itu, Dennis juga memberikan tips agar tidak mudah menyebarkan atau bahkan tersulut emosi tentang informasi hoaks yang kadang menjelekkan satu atau beberapa pihak saja.

Diakui Dennis, sebagai manusia biasa dia juga sering tersulut emosi dengan informasi hoaks atau berita-berita melenceng yang menyebabkan kebencian terhadap satu atau beberapa pihak.

Bahkan, dia juga sering ingin membalas komentar buruk atau bahkan memberi komentar buruk terkait satu postingan tertentu. Namun hal itu tak pernah dilakukan.

“Saya emosi gara-gara satu konten. Saya tergerak untuk mengetik, ngomong yang tidak karuan gitu. Ada, itu pasti ada,” kata Dennis.

Dennis memilih menenangkan diri, alih-alih tersulut emosi dan ikut-ikutan mengomentari postingan hoaks di media sosial. Sebab jika dia menuruti emosi sesaatnya, perasaan tidak nyaman, marah, dan emosi akan dia rasakan seharian.

Dia pun merasa rugi, jika seharian merasa emosi. Sebab pekerjaan tidak akan beres dan dia hanya akan menggerutu dan merasa tidak puas.

Selain itu, dia juga takut kata-kata yang ditulis justru salah bahkan typo atau salah ketik. Bukan hanya tidak enak, dia juga bisa merasa malu seumur hidup.

“Jempol saya tuh gendut soalnya. Makanya sering typo. Jadi yang saya lakukan itu ya udah, lihat, sebel, taro (simpan) dulu. Terus mikir, kira-kira bisa komen yang lucu-lucu apa ya. Intinya, ya jangan memanaskan api yang sudah berkobar gitu lho,” katanya.

[Gambas:Video CNN]

(tst/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com