Cara ‘Kejam’ Asteroid Bikin Dinosaurus Punah Perlahan

Punahnya dinosaurus tak secara langsung akibat bombardir asteroid. Studi terbaru mengungkap tabrakan benda langit memutus rantai makanan.

Jakarta, CNN Indonesia

Peneliti di Observatorium Kerajaan Belgia mengungkapkan cara dinosaurus punah usai hantaman asteroid. Yakni, menyetop proses fotosintesis.

Zaman dinosaurus berakhir 66 juta tahun lalu, ketika sebuah asteroid menghantam laut dangkal di lepas pantai yang sekarang dikenal sebagai Meksiko.

Namun, bagaimana persisnya kepunahan massal spesies di Bumi terjadi pada tahun-tahun setelah bencana dahsyat itu, masih belum jelas penyebabnya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penelitian sebelumnya menunjukkan belerang, yang dilepaskan selama tumbukan yang menghasilkan kawah Chicxulub selebar 180 kilometer, dan jelaga dari kebakaran hutan memicu musim dingin global dengan suhu yang menurun drastis.

Sebuah studi baru yang diterbitkan di jurnal Nature Geoscience menunjukkan debu halus yang terbuat dari batu yang dihancurkan, terlempar ke atmosfer Bumi.

Debu dari tumbukkan itu menghalangi sinar Matahari sehingga tanaman tidak dapat berfotosintesis selama hampir dua tahun setelahnya.

“Fotosintesis yang terhenti selama hampir dua tahun setelah tabrakan menyebabkan tantangan berat [bagi kehidupan],” kata penulis utama studi dan ilmuwan planet Cem Berk Senel.

Senel yang juga peneliti pascadoktoral di Observatorium Belgia mengatakan tabrakan itu meruntuhkan rantai makanan sehingga menciptakan reaksi berantai kepunahan.

Untuk mencapai temuan mereka, para ilmuwan mengembangkan model komputer baru untuk mensimulasikan iklim global setelah hantaman asteroid.

Model ini didasarkan pada informasi yang telah dipublikasikan tentang iklim Bumi saat itu, serta data baru dari sampel sedimen yang diambil dari situs fosil Tanis di North Dakota yang menangkap periode 20 tahun setelah hantaman.

Situs fosil Tanis memberikan catatan unik tentang apa yang mungkin merupakan peristiwa paling penting dalam sejarah kehidupan di planet kita.

Fosil ikan yang ditemukan di situs tersebut menunjukkan asteroid menghantam Semenanjung Yucatán, Meksiko, pada musim semi. Fosil-fosil lain yang ditemukan di sana menunjukkan bagaimana hari yang penuh bencana itu terjadi dengan sangat rinci.

Sampel dari situs yang dianalisis untuk studi baru ini mengandung partikel debu silikat yang terlontar ke atmosfer dalam bentuk ejecta sebelum kembali ke Bumi.

Tim peneliti menyimpulkan debu halus ini bisa bertahan di atmosfer hingga 15 tahun setelah hantaman asteroid. Para peneliti menduga bahwa iklim global mungkin telah mendingin sebanyak 15 derajat Celcius.

Penelitian mereka menandai pertama kalinya partikel debu ini dipelajari secara rinci.

“Sudah lama diasumsikan bahwa mekanisme pembunuhan utama adalah suhu dingin yang ekstrem setelah tumbukan Chicxulub, tapi tentu saja berhentinya fotosintesis setelah tumbukan adalah mekanisme itu sendiri,” kata Senel dikutip dari CNN.

“Dalam beberapa minggu, beberapa bulan (setelah tabrakan), planet ini mengalami penghentian fotosintesis secara global, yang berlangsung selama hampir dua tahun di mana fotosintesis benar-benar hilang,” sambung Senel.

Misteri kepunahan massal

Senel mengatakan bahwa model tersebut mengungkapkan bahwa terhentinya fotosintesis secara langsung terkait dengan debu halus yang terlontar ke atmosfer yang menghalangi sinar matahari.

Ahli paleontologi Alfio Alessandro Chiarenza mengatakan penelitian ini membantu menguak beberapa misteri seputar peristiwa kepunahan massal.

“Kesimpulan utama dari penelitian ini adalah memberikan batasan yang lebih tepat mengenai komposisi, sifat, dan durasi komponen debu halus yang terlontar dari lokasi tumbukan, yang berkontribusi pada kegelapan global selama musim dingin saat tumbukan terjadi,” ujar Chiarenza, peneliti pascadoktoral di Universitas Vigo, Spanyol yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Penelitian ini, kata dia memungkinkan peneliti untuk menyelidiki proses dan durasi secara lebih ketat, menjelaskan mekanisme di balik penyumbatan radiasi matahari.

Proses ini mengakibatkan terhentinya fotosintesis dan penurunan suhu yang signifikan di bawah kondisi yang dapat ditinggali, misalnya untuk dinosaurus non-unggas.

[Gambas:Video CNN]

(can/dmi)




Sumber: www.cnnindonesia.com