Buaya Lebih Cerdas dari yang Dibayangkan, Bisa Dapat Makan Pakai Umpan

Pakar dari BRIN, Amir Hamidy menjelaskan fakta dari video viral yang memuat buaya

Jakarta, CNN Indonesia

Sebuah studi menyebut buaya ternyata lebih cerdas yang dibayangkan. Hal ini dibuktikan salah satunya dengan penggunaan umpan untuk menangkap mangsa.

Studi dari University of Tennessee yang diterbitkan dalam jurnal Ethology Ecology and Evolution pada 2013 menunjukkan betapa canggihnya teknik berburu buaya.

Studi ini menemukan buaya menggunakan ranting dan tongkat untuk memikat burung, terutama saat periode membangun sarang.

Asisten profesor di Departemen Psikologi Vladimir Dinets melakukan observasi pada dua spesies buaya, yakni buaya rawa dan aligator Amerika.

Dinets pertama kali mengamati perilaku tersebut pada 2007 ketika dia melihat buaya tergeletak di perairan dangkal di sepanjang tepi kolam di India dengan tongkat atau ranting kecil ditempatkan di moncongnya.

Perilaku tersebut berpotensi membodohi burung yang akan membuat sarang karena mengira tongkat tersebut mengambang di atas air.

Buaya tetap diam selama berjam-jam dan jika seekor burung mendekati tongkat itu, buaya akan menerjang.

Untuk melihat apakah pertunjukan tongkat adalah metode berburu yang cerdik, Dinets dan rekan-rekannya melakukan pengamatan sistematis reptil selama satu tahun di empat lokasi di Louisiana, termasuk dua lokasi rookery dan dua nonrookery. Rookery sendiri adalah tempat berkembang biak burung.

Para peneliti mengamati peningkatan yang signifikan pada aligator yang memperlihatkan tongkat di moncongnya dari Maret hingga Mei, saat burung membangun sarang. Secara khusus, reptil di rookeries memiliki tongkat di moncongnya selama dan setelah musim membangun sarang.

Di lokasi non-rookery, reptil menggunakan umpan selama musim membangun sarang.

“Penelitian ini mengubah cara melihat buaya secara historis,” kata Dinets, seperti dikutip Science Daily.

“Mereka biasanya terlihat lesu, bodoh, dan membosankan, tetapi sekarang mereka diketahui menunjukkan cara berburu yang fleksibel, pola pengasuhan yang canggih, dan taktik berburu kelompok yang sangat terkoordinasi,” tambahnya.

Pengamatan ini mengindikasikan perilaku tersebut tersebar lebih luas dalam kelompok reptil dan juga dapat membantu menjelaskan bagaimana kerabat buaya yang telah punah seperti dinosaurus berperilaku.

“Penelitian kami memberikan wawasan yang mengejutkan tentang kompleksitas perilaku reptil punah yang sebelumnya tidak diketahui,” kata Dinets.

“Penemuan ini menarik bukan hanya karena mereka menunjukkan betapa mudahnya meremehkan kecerdasan bahkan hewan yang relatif familiar, tetapi juga karena buaya adalah saudara dari dinosaurus dan reptil terbang,” lanjutnya.

Berburu Berkelompok

Studi lain dari Dinets pada 2014 juga menjelaskan kecanggihan buaya dalam berburu, yakni mereka melakukannya dalam tim.

Dinets dan rekan-rekannya memanfaatkan kekuatan media sosial untuk mendokumentasikan perilaku tersebut. Buaya dan aligator diamati melakukan perburuan yang sangat terorganisir.

Salah satu contoh perburuan terorganisir yakni buaya akan berenang dalam lingkaran di sekitar kawanan ikan, secara bertahap membuat lingkaran semakin rapat hingga ikan dipaksa menjadi “bola umpan.” Kemudian buaya akan bergiliran memotong di tengah lingkaran, menyambar ikan.

Dilansir dari laman University of Tennessee, buaya yang berbeda ukuran memiliki tugas yang berbeda. Aligator yang lebih besar akan mendorong ikan dari bagian danau yang lebih dalam ke perairan dangkal, di mana aligator yang lebih kecil dan lebih gesit akan menghalangi pelariannya.

Dalam satu kasus, seekor buaya air asin yang besar menakut-nakuti seekor babi untuk lari dari jalan setapak dan masuk ke laguna di mana dua buaya yang lebih kecil sedang menunggu untuk menyergap.

Keadaan tersebut menunjukkan ketiga buaya telah mengantisipasi posisi dan tindakan satu sama lain meski tanpa melihat satu sama lain.

“Semua pengamatan ini menunjukkan bahwa buaya mungkin termasuk kelompok pemburu yang sangat terpilih-hanya sekitar dua puluh spesies hewan, termasuk manusia-yang mampu mengoordinasikan tindakan mereka dengan cara yang canggih dan mengambil peran yang berbeda sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Faktanya, mereka mungkin nomor dua setelah manusia dalam hal kehebatan berburu,” kata Dinets dalam studi yang diterbitkan di jurnal Ethology Ecology and Evolution pada 2014.

(lom/lth)






Sumber: www.cnnindonesia.com