BTPN Ungkap 6 Tantangan yang Dihadapi Bank Digital, Cek Daftarnya

Deputi CEO BTPN Darmadi Sutanto mengungkap sejumlah tantangan yang dihadapi bank digital. Apa saja itu?

Jakarta, CNN Indonesia

PT Bank BTPN mengungkap sederet tantangan yang dihadapi oleh bank digital. Setidaknya ada enam hal yang jadi tantangan bank digital saat ini.

Hal ini diungkap oleh Deputi CEO BTPN Darmadi Sutanto dalam acara Digital Creative Leadership Forum yang diselenggarakan oleh CNN Indonesia pada Kamis (9/11), di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta Pusat.

“Teknologi berubah terus,” ujar Darmadi mengungkap tantangan pertama yang dihadapi oleh Jenius.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Saya itu pusing kalau lihat teknologi. Selalu ada yang baru. Ini bagaimana kita akhirnya harus menyiapkan arsitektur [digital] yang cepat,” tambah Darmadi berkelakar.

“Karena kalau enggak ya kita ketinggalan,” sambungnya.

Tantangan yang kedua, menurut pemaparan Darmadi, adalah persaingan antar ‘talent’ yang saat ini bukan hanya dikuasai oleh perusahaan di industri serupa.

“Kita itu sekarang perangnya bukan sesama bank. Tapi sama OVO, sama Grab. Jadi sudah cross industries,” jelasnya.

Tantangan ketiga adalah serangan siber, yang mana dapat mengancam data diri nasabah tanpa aba-aba. Ia kemudian menceritakan group company mereka dari Amerika Serikat yang mengalami serangan siber.

“Bisnisnya di AS, kebobolnya sama orang yang duduk-duduk di nigeria. Ini kan tantangan bank, agar bisa menjaga kerahasiaan dan kemungkinan diserang sama hacker,” jelas dia.

Kemudian, tantangan keempat adalah kompetisi yang berlangsung di atas dunia perbankan.

Selanjutnya yang kelima, Darmadi juga mengupayakan untuk meningkatkan kesadaran akan perlindungan data nasabah.

“OJK sudah menyusun rancangan UU-nya. Perlindungan nasabah ini penaltinya cukup bisar kalau kita tidak bisa memenuhi itu,” jelas Darmadi.

Tantangan terakhir, yang menurut Darmadi paling krusial, adalah edukasi kepada pihak nasabah yang harus dilakukan secara persisten. Sementara perkembangan zaman itu jauh lebih cepat dari pada pasar itu bisa mencerna.

“Dan fenomenanya juga bukan hanya menyerang kelompok umur generation X atau Y, tapi yang tertipu banyak millenial juga,” pungkas Darmadi.

(far/dmi)

[Gambas:Video CNN]



Sumber: www.cnnindonesia.com