BRIN Ungkap Sesar Aktif Berkekuatan Besar Kepung Sumedang

Pakar mengungkap bahwa wilayah Sumedang dikepung sejumlah sesar aktif dengan kekuatan magnitudo besar. Masyarakat diminta waspada.


Jakarta, CNN Indonesia

Pakar mengungkap bahwa wilayah Sumedang dikepung sejumlah sesar aktif dengan kekuatan magnitudo besar. Masyarakat diminta waspada.

Hal tersebut diungkap peneliti gempa bumi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Mudrik R. Daryono dalam sebuah diskusi bertajuk ‘Kupas Tuntas Gempa Sumedang’, Kamis (11/1).

“Sumedang berada di antara sesar aktif yang besar-besar yang sudah kita pelajari dengan baik,” kata Daryono, mengutip Antara.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Magnitudo di atas 6,5 semua. Ini sesuatu yang harus kita waspadai,” imbuhnya.

Daryono menjelaskan sesar-sesar aktif yang besar tersebut berada di kota-kota besar di Jawa Barat, seperti Cirebon, Bandung, Karawang, Indramayu, hingga Jakarta. Menurutnya kota-kota vital itu menyimpan energi berupa swarm earthquake (gempa swarm) atau foreshocks.

Gempa swarm adalah serangkaian gempa bumi yang terjadi di kawasan sangat lokal, dengan magnitudo relatif kecil, memiliki karakteristik frekuensi kejadian sangat sering, dan berlangsung periode waktu tertentu.

Aktivitas gempa swarm merupakan cerminan berlangsungnya proses pelepasan tegangan pada batuan kulit Bumi yang berlangsung karena karakteristik batuan yang rapuh. Jika medan tegangan yang tersimpan di dalam sudah habis, maka aktivitas gempa swarm ini dengan sendirinya akan berakhir.

Lebih lanjut, Daryono membeberkan deretan sesar aktif yang mengepung Sumedang, yakni Sesar Baribis Segmen Tampomas yang berada di sisi utara, Sesar Baribis segmen Ciremai pada sisi timur, Sesar Lembang pada sisi barat, Sesar Cileunyi Tanjungsari dan Sesar Garsela pada sisi selatan.

Sesar Baribis yang menerus dari Surabaya hingga ke sekitaran Jakarta memiliki kekuatan hingga mencapai 7 magnitudo, Sesar Lembang 7,0 magnitudo, Sesar Tampomas berkekuatan 6,7 magnitudo, Sesar Ciremai 1 sebesar 6,5 magnitudo, dan Sesar Ciremai 2 berkekuatan hingga 6,9 magnitudo.

Menurut Daryono, keberadaan sesar-sesar besar itu harus dikaji lebih dalam agar bisa beradaptasi dan memitigasi potensi gempa bumi di masa depan.

Pada tahun 1847, di segmen Tampomas pernah terjadi gempa bumi. BRIN telah melakukan survei morfologi rinci menggunakan drone untuk mengetahui dampak gempa bumi darat tersebut.

Data drone memperlihatkan ada sebuah robekan khas dari sesar aktif yang menimbulkan pergeseran sekitar empat meter. Pergeseran empat meter itu dapat menimbulkan gempa berkekuatan 7,0 magnitudo.

“Jadi di sisi sebelah situ ada indikasi kuat pernah terjadi gempa magnitudo 7,” kata Daryono.

Lebih lanjut dia menyampaikan bahwa masyarakat harus bersiap dengan kemungkinan terburuk dengan melakukan mitigasi terhadap ancaman gempa bumi di masa mendatang.

(Antara/dmi)

[Gambas:Video CNN]



Sumber: www.cnnindonesia.com