BMKG Ungkap Buoy Jawa ‘Almarhum’ di Tengah Ancaman Tsunami Dahsyat

BRIN diduga menonaktifkan program pemantauan tsunami (Ina-Tews) yang menggunakan alat buoy. Bagaimana cara kerja alat tersebut?

Jakarta, CNN Indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap sistem deteksi tsunami buoy di Pulau Jawa sudah tak lagi bisa diandalkan lantaran sudah tidak beroperasi.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan buoy saat ini banyak yang menjadi korban vandalisme sehingga tak lagi dibisa digunakan.

“Buoy itu penting, cuman pada rusak divandalisme di tengah laut dan itu sudah almarhum semua” kata Daryono di kantor BMKG, Jumat (3/11).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Buoy merupakan teknologi pendeteksi tsunami besutan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang kini dilebur ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Peneliti di Pusat Riset Kebencanaan Geologi di BRIN Iyan Turyana mengungkapkan dari enam unit Buoy yang ditebar di laut, kini tak ada pembaruan pemasangan teknologi pendeteksi tsunami buoy.

“Terakhir Desember 2021 ada enam buah Buoy, di-deploy saat instansi kami masih bernama BPPT. Setelah menjadi BRIN kemudian pendanaan untuk buoy itu tidak dilanjutkan oleh BRIN,” kata Iyan beberapa waktu lalu.

Kendati tak ada lagi buoy yang beroperasi, Daryono mengklaim pihaknya masih bisa memberikan peringatan dini tsunami dengan cara modeling level air laut lewat pemanfaatan instrumen tide gauge.

Dia menjelaskan level air laut itu akan diolah sebagai pemodelan sehingga bisa mengetahui gelombang tsunami di berbagai daerah.

“Jadi kita tahu semua berbagai tsunami di berbagai daerah itu. Kalau ada Buoy syukur, tapi kalau tidak ada ya modeling itu sudah cukup representatif itu,” tuturnya.

Lebih lanjut ia mengatakan masyarakat di wilayah pesisir perlu memahami peta ancaman bencana yang telah dibuat oleh BMKG, sehingga bisa mengetahui jalur evakuasi jika terjadi tsunami atau gempa.

Selain itu, masyarakat pesisir juga diimbau untuk rutin menggelar mitigasi bencana minimal tiga kali dalam setahun, agar materi mitigasi bisa terpatri di alam bawah sadar masyarakat.

“Itu tidak sekonyong-konyong bisa, itu harus latihan penyempurnaan. Jadi enggak mungkin ketika ada tsunami sudah dikasih sosialisasi sekali itu bisa selamat itu sulit karena tidak terbangun dalam pemahaman bawah sadar (masyarakat),” katanya.

Di samping itu ia juga meminta masyarakat untuk membentuk komunitas siaga tsunami di wilayah, supaya bisa mengkoordinir mitigasi saat terjadi bencana.

Sebelumnya, para ahli sudah berulang kali mengingatkan warga soal potensi gelombang tsunami dahsyat, ada yang menyebut10 meter, ada pula yang memprediksi hingga 34 meter, di Pantai Selatan Jawa yang bersumber dari megathrust.

Megathurst ini memiliki potensi magnitude maksimum M 8,7. Sumber gempa megathrust ini berada di zona subduksi yang merupakan tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasi di dasar laut Samudra Hindia selatan Kebumen.

Pemodelan Penjalaran Gelombang Tsunami akibat gempa dengan skenario tersebut diperkirakan mencapai 14 – 18 meter di Kabupaten Kebumen, “dengan waktu tiba di pesisir pantai sekitar 38 – 46 menit.”

Manfaatkan alat lain

BMKG mengungkap sistem peringatan dini tsunami tetap bisa beroperasi karena masih ada ratusan alat lain yang masih berfungsi.

Rinciannya, 240 unit alat tide gauge buat deteksi tsunami, 5 unit tsunami gauge, dan 36 data Automatic Weather Station (AWS).

“Kita punya 320 lebih alat sensor yang masih beroperasi. Kalau mati cuma tujuh unit, itu nggak berpengaruh banyak,” kata Koordinator Bidang Informasi Gempa bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Iman Fatchurochman, dikutip dari detikcom, Jumat (3/2).

BMKG mengoperasikan Ina-TEWS atau Indonesia-Tsunami Early Warning System sejak 2008. Di dalamnya, data-data yang dipasok dari alat-alat berbagai instansi, termasuk data-data dari buoy milik BRIN, yang dulunya dikelola BPPT.

“Sejak dibangun buoy itu, banyak terjadi kehilangan buoy, utamanya akibat vandalisme dan kerusakan,” kata Iman.

Buoy-buoy itu ada di lautan dekat Bengkulu, laut dekat anak Gunung Krakatau, Selat Sunda, laut selatan Pangandaran, selatan Jawa Timur, laut selatan Bali, dan laut selatan Waingapu di Sumba Timur.

“Dalam perjalanannya, di BMKG sendiri kita jarang sekali mendapatkan data rekaman tsunami dari buoy itu sendiri sebetulnya. Karena, pas ada tsunami buoy-nya sudah enggak ada (rusak/mati),” aku Iman.

(can/dmi)


[Gambas:Video CNN]



Sumber: www.cnnindonesia.com