BMKG Ingatkan Suhu RI Bisa Naik 3,5 Derajat Celsius Jika Nihil Usaha

El Nino, yang membuat cuaca jadi lebih kering, diperkirakan bakal menghampiri Indonesia pada musim kemarau tahun ini. Simak penjelasannya.
Jakarta, CNN Indonesia

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan suhu udara permukaan di Indonesia diproyeksikan akan terus naik sebesar 1,3 derajat Celcius sebagai dampak dari perubahan iklim dan emisi gas rumah kaca.

“Kenaikan suhu diproyeksikan semakin meningkat hampir di seluruh wilayah Indonesia dalam periode 2020-2049, bisa mencapai 1,3 derajat Celcius dibandingkan suhu rata-rata tahunan periode sebelumnya selama 1976-2005 sebagai baseline-nya,” kata dia, saat memberikan sambutan secara daring di Jakarta, Rabu (15/11).

Bahkan, suhu di pulau-pulau besar di Indonesia bisa naik 3,5 derajat C jika tindakan semua pihak gini-gini aja.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Proyeksi suhu maksimum hampir di seluruh pulau besar di Indonesia hingga akhir abad ke-21 naiknya bisa mencapai 3,5 derajat Celcius bila kita tetap menjalankan bisnis seperti biasa tanpa ada mitigasi laju kenaikan suhu. Namun, bila ada mitigasi, maka diproyeksikan kenaikan suhu tidak akan melampaui 1,5 derajat Celcius,” paparnya.

Kenaikan suhu global alias pemanasan global itu sendiri dipicu penggunaan sejumlah materi yang melepaskan atau emisi gas yang membuat efek rumah kaca yang memicu Bumi makin panas.

Misalnya, BBM pada kendaraan bermotor, industri, serta batu bara pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Untuk mencegahnya, para ahli sejak lama menyarankan pembatasan kendaraan bermotor, peralihan PLTU ke pembangkit ramah lingkungan seperti energi Matahari, peralihan sumber energi industri ke energi non-fosil. Masalahnya, kebijakan pemerintah-pemerintah dunia tak banyak berubah.

Dwikorita mengingatkan pentingnya melakukan mitigasi untuk menekan laju kenaikan suhu di Indonesia demi kehidupan yang lebih baik bagi generasi berikutnya.

Pihaknya sudah berupaya untuk mengatasi kenaikan suhu udara tersebut melalui kebijakan klimatologi dan peran literasi iklim komunitas untuk mendukung adaptasi dan mitigasi global.

“BMKG bukan sebatas penyedia data, tetapi juga melakukan analisis dan proyeksi, dan memiliki informasi, pengetahuan, serta wisdom (kebijakan) terkait perubahan iklim di Indonesia serta wilayah sekitarnya yang dapat digunakan untuk perencanaan pembangunan nasional,” tuturnya.

Informasi dan pengetahuan tersebut, sambung dia, diharapkan dapat mendukung aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim oleh berbagai sektor terkait, yang tentu juga melibatkan BMKG.

Menurut Undang-Undang nomor 31 tahun 2009, tugas BMKG adalah memberikan informasi dan peringatan dini terkait cuaca, iklim, gelombang tinggi, dan tsunami.

Sayangnya, menurut Dwikorita, saat ini masih ada batasan atau gap antara teknologi yang semakin canggih, dengan masyarakat yang belum bisa memahami teknologi tersebut dengan baik.

“Gap-nya adalah bagaimana membuat teknologi yang canggih itu mudah dipahami masyarakat. Oleh karena itu, kami mengembangkan rekayasa sosial untuk memastikan efektivitas informasi yang disebarkan bisa berdampak kepada masyarakat, agar masyarakat mampu melakukan early actions atau respons yang tepat dari peringatan dini yang diberikan BMKG,” kata dia.

Ia juga menekankan pentingnya kerja sama antara BMKG dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, lembaga riset, dan berbagai kelompok yang ada.




Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian

[Gambas:Video CNN]

(Antara/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com