BMKG Bongkar Pemicu Angin Kencang dan Banjir Bandang Bandung

Beberapa fenomena atmosfer disebut menjadi pemicu angin kencang plus banjir bandang di Bandung. Berikut penjelasan BMKG.


Jakarta, CNN Indonesia

Bencana hidrometeorologi angin kencang dan banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, di Hari Natal (25/12), dipicu oleh sejumlah dinamika atmosfer.

Sebelumnya, angin kencang melanda Kecamatan Baleendah, Ciparay, dan Anjasari, Kabupaten Bandung.

Selain itu, banjir bandang terjadi di Kecamatan Dayeuhkolot dan Margaasih, Kabupaten Bandung. Banjir juga terjadi di Kota Cimahi akibat luapan sungai Ciputri. Sementara, tanah longsor terjadi di Desa Salammulya, Kecamatan Pondoksalam, Kabupaten Purwakarta.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Kejadian bencana tersebut turut dipicu oleh hujan intensitas lebat hingga ekstrem dalam satuan intensitas per jam,” ujar Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Dwikorita Karnawati, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (27/12).

Menurutnya, curah hujan saat itu terukur hingga 28,8 milimeter per jam pada Senin (25/12) pukul 15.40 hingga 16.40 WIB di Stasiun Geofisika BMKG Bandung.

Di Cimahi, curah hujan terukur mencapai 70 mm per jam pada pukul 15.30-16.30; di Purwakarta, curah hujan mencapai 56,8 mm per jam pada pukul 14.00-15.00 WIB.

Dwikorita menjelaskan hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem tersebut diakibatkan oleh dinamika atmosfer, di antaranya adalah karena “melemahnya pusat tekanan rendah yang membentuk sirkulasi angin di sekitar Laut China Selatan.”

Hal ini, kata dia, menyebabkan aliran massa udara basah dari utara masuk ke wilayah selatan ekuator dan membentuk pola pertemuan angin di sekitar wilayah Jawa Barat sehingga memicu peningkatan pertumbuhan awan hujan yang intens di sekitar Jawa Barat.

Kondisi tersebut, tambah dia, diperkuat dengan adanya aktifitas gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby yang aktif bersamaan di sekitar wilayah Indonesia bagian Barat.

“BMKG telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem di sebagian wilayah Indonesia pada periode NATARU tahun 2023/2024 ini sejak tanggal 18 Desember 2023 dan diperbaharui kembali pada tanggal 23 Desember 2023. Jawa Barat termasuk salah satu wilayah yang masuk dalam kategori peringatan dini selama periode tersebut,” tutur Dwikorita.

Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani mengatakan kondisi cuaca di Jawa Barat dalam sepekan ke depan (27 Desember 2023–3 Januari 2024) masih berpotensi hujan sedang hingga lebat.

Terutama, pada siang hingga malam hari yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang.

Berdasarkan Prakiraan Berbasis Dampak – IBF (Impact Based Forecast), Andri menuturkan beberapa wilayah yang masuk dalam kategori waspada untuk dua hari ke depan antara lain Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Kep. Bangka Belitung;

Selain itu, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Di Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Papua.

Sementara, wilayah yang masuk dalam kategori siaga untuk dua hari ke depan ialah Aceh, Sumatra Utara, dan Riau.

Senada, Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menghimbau masyarakat dan instansi terkait agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat yang disertai dengan kilat atau petir dan angin kencang hingga sepekan ke depan.

Khusus untuk daerah bertopografi curam/bergunung/tebing atau rawan longsor dan banjir, Guswanto meminta masyarakat setempat untuk tetap waspada terhadap dampak yang ditimbulkan akibat cuaca ekstrem.

Contohnya, banjir, banjir bandang, tanah longsor, jalan licin, pohon tumbang dan berkurangnya jarak pandang.

Menurut keterangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), angin kencang dan banjir bandang di Kabupaten Bandung membuat puluhan rumah rusak dan enam warga terluka.

Rinciannya, 96 unit rumah rusak (14 rusak berat, 2 rusak sedang, dan 62 rusak ringan) setelah diterjang angin kencang di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu (25/12). Selain itu, ada enam rumah rusak ringan setelah diterjang banjir bandang.

Beberapa bangunan yang diterjang angin kencang mengalami kerusakan di bagian atap. Di samping itu, ada bangunan yang roboh hingga rata dengan tanah.

Di sisi lain, rumah warga yang berada di bantaran sungai mengalami kerusakan dinding belakang setelah terdampak banjir bandang.

Kejadian yang diawali dengan curah hujan tinggi itu juga mengakibatkan enam warga luka ringan setelah tertimpa material bangunan. Warga yang terluka segera mendapat perawatan intensif. Sementara untuk kejadian banjir bandang nihil korban jiwa.

[Gambas:Video CNN]

(arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com