BMKG Bantah Musim Hujan Bakal Rampung Lebih Cepat

Meski menyebut puncak El Nino tak lama lagi, BMKG tetap mewanti-wanti potensi banjir. Apa sebabnya?

Daftar Isi



Jakarta, CNN Indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim hujan di Indonesia tak buru-buru berakhir meski ada fenomena El Nino.

“BMKG memprediksi bahwa musim hujan masih akan berlangsung hingga April 2024 di sebagian besar wilayah Indonesia,” demikian paparan BMKG di akun Instagram-nya, Rabu (10/1).

Sebelumnya, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Eddy Hermawan memprediksi musim hujan kemungkinan cuma bertahan sampai akhir Januari.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Musim hujan mestinya Desember, Januari, dan Februari (DJF), sepertinya tidak sampai Februari, hujannya sudah habis karena El Nino itu berawal bulan Mei 2023 dan akan berakhir pada Mei 2024,” ujar dia, Jumat (5/1), dikutip dari Antara.

Menurut dia, hal ini terkait keberadaan fenomena El Nino, yang diprediksinya bertahan hingga 2024, yang bisa mengurangi curah hujan meski angin Monsun Asia, yang adalah pembawa hujan sekaligus penanda awal musim hujan, sudah lebih dominan.

“Walaupun El Nino tidak kuat tetap ada efek mengurangi jumlah curah hujan yang akan masuk ke Indonesia,” kata dia.

Memang benar, kata BMKG, musim hujan terlambat datang di sebagian besar wilayah. Namun, mulai November 2023 beberapa wilayah sudah memasuki musim hujan. Puncaknya terjadi pada Januari dan Februari 2024.

Per minggu ini, BMKG melanjutkan 61 persen wilayah Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim hujan sesuai.

“Musim hujan ini diprediksi mencapai puncaknya pada periode Januari dan Februari 2024, terutama di wilayah Sumatra bagian selatan, sebagian besar Jawa, Bali, sebagian Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan, dan sebagian wilayah Sulawesi,” menurut keterangan lembaga tersebut.

Dalam analisis iklimnya, BMKG mengungkap wilayah-wilayah yang mengalami puncak hujan di Februari.

Misalnya, ZOM Banten DKI 16, yang terdiri dari Jakarta Selatan (Cilandak, Kebayoran Baru, Mampang prapatan, Pancoran, Jagakarsa, Pasar Minggu), dan Jakarta Timur (Cipayung, Kramat Jati, Ciracas, Pasar Rebo).

Awal musim hujannya November dasarian II, puncak musim hujannya Februari, dengan perbandingan puncak terhadap normal (bulan) adalah sama. Panjang musim hujannya mencapai 19 dasarian, yang berarti lebih pendek 2 dasarian dari normalnya.

BMKG juga menjelaskan efek angin monsun Asia pembawa hujan tak bisa dipukul rata di semua wilayah RI imbas keragaman geografis.

“Keragaman morfologi wilayah Indonesia yang terdiri dari perairan dan kepulauan, daratan dan pegunungan, membuat respons dari tiap wilayah terhadap Monsun Asia dan musim hujan juga berbeda-beda,” jelasnya.

Berdasarkan prediksi curah hujan bulanan periode Januari-April 2024, BMKG pun mengungkap kondisi musim hujan di Indonesia. Berikut rinciannya:

Januari

Sebagian besar wilayah Indonesia masih akan mengalami hujan pada kategori tinggi hingga sangat tinggi (300-lebih dari 500 mm per bulan).

Februari

Hujan di wilayah Indonesia diprediksi masih berada pada kategori menengah hingga tinggi (150-500 mm per bulan) kecuali untuk wilayah Sumatra bagian utara, Sulawesi bagian utara, dan Papua Barat bagian utara diprediksi mengalamai hujan bulanan pada kategori menengah (150-300 mm per bulan).

Maret dan April

Curah hujan bulanan di wilayah Indonesia diprediksi masih pada kategori menengah hingga tinggi (150-500 mm per bulan) kecuali untuk sebagian wilayah Nusa Tenggara yang mengalami hujan pada kategori menengah.

Kategori hujan ini (>150 mm per bulan) masih termasuk pada periode musim hujan menurut definisi musim BMKG.

[Gambas:Instagram]

[Gambas:Video CNN]

(arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com