Bersiap ‘Jumat Keramat’, Fenomena Solstis Dipepet Duet Jupiter-Bulan

Simak deret fakta soal fenomena ekuinoks yang bakal kembali menyapa sejumlah wilayah Indonesia hari ini, Sabtu (23/9).


Jakarta, CNN Indonesia

Fenomena solstis (solstice) yang menandai awal musim dingin di belahan Bumi utara bakal terjadi pada Jumat (22/12). Pada saat yang sama, Planet Jupiter bersinar terang dekat Bulan yang nyaris purnama.

Bumi mengorbit Matahari (revolusi) setiap 365 hari sambil berputar pada sumbunya yang miring 23,44 derajat. 

Menurut keterangan Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa di Badan Riset dan Inovasi Nasional (ORPA BRIN), solstis adalah fenomena ketika Matahari melintasi Garis Balik Utara atau Garis Balik Selatan.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kedua garis ini adalah garis khayal atau imajiner pada bola Bumi yang terletak pada lintang yang senilai dengan kemiringan sumbu Bumi, yakni 23,44 Lintang Utara dan 23,44 Lintang Selatan.

Fenomena solstis merupakan tanda pergantian musim bagi negara-negara subtropis dan berlintang tinggi. Solstis sendiri rutin terjadi dua kali setiap tahun, yakni tiap Juni dan Desember.

Apa efeknya buat Bumi?

Melansir LiveScience, pada saat solstis atau titik balik Matahari musim dingin Desember, poros utara Bumi miring menjauhi Matahari. Hasilnya, siang dengan durasi paling singkat dan malam terpanjang dalam setahun di belahan Bumi utara (contohnya Kanada, AS, Eropa).

Pada saat yang sama, poros selatan Bumi (seperti Australia, Afrika bagian selatan) mengarah ke Matahari, yang berarti hari dengan jam siang paling banyak dan malam terpendek di belahan Bumi selatan.

Kemiringan Bumi paling terasa di daerah kutub. Pada saat solstis, Matahari tidak terbenam sepanjang hari di Kutub Selatan dan tidak terbit sama sekali di Kutub Utara.

Untuk jadwal lengkapnya, ORPA BRIN mengungkap solstis akan berlangsung pada Jumat (22/12) pukul 04.48 WIB atau 05.48 WITA atau 06.48 WIT.

Duet Jupiter dan Bulan

Dari sisi belahan Bumi utara, Matahari berada pada posisi terendah di langit saat solstis Desember. Hal ini membuat Bulan tampak tinggi di langit selama musim dingin di wilayah ini, sehingga menciptakan peluang pengamatan langit yang menarik.

Saat titik balik Matahari, bulan akan bersinar di sebelah kanan Jupiter. Planet terbesar di Tata Surya ini pun akan menjadi planet paling terang di langit malam itu.

Untuk melihat keduanya bersinar bersama, Anda bisa menggunakan teropong pengamatan bintang atau teleskop kecil yang bagus.

Jika Anda melewatkannya, ada kesempatan kedua pada keesokan harinya saat Bulan berpindah ke sebelah kiri Jupiter.

Momen yang sama juga merupakan H-1 puncak hujan meteor Ursid, salah satu hujan meteor mayor atau besar, yakni pada Sabtu (23/12). BRI menyebut frekuensinya bisa mencapai tiga meteor per jam jika menganati dari Sabang, Aceh.

Masalahnya, Bulan yang terang mendekati purnama diprakirakan akan ‘mengubur’ cahaya hujan meteor itu.

Menurut jadwal BRIN, Jumat (22/12) jadi hari menjelang purnama, atau pertengahan antara Perbani Awal (Bulan separuh) pada 20 Desember pukul 01.39 WIB dan Bulan Purnama 27 Desember pukul 07.33 WIB.

(rfi/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com