Benarkah Kiamat Makin Dekat seperti Kata Cak Imin?

Simak deret fakta soal fenomena ekuinoks yang bakal kembali menyapa sejumlah wilayah Indonesia hari ini, Sabtu (23/9).


Jakarta, CNN Indonesia

Para pakar sepakat krisis iklim tanpa tindakan pencegahan signifikan bakal menghancurkan lingkungan Bumi yang sudah rapuh salah satunya imbas pertambangan. Apa itu berarti kiamat segera tiba seperti kata cawapres Muhaimin Iskandar?

Dalam debat cawapres Minggu (21/1), politikus yang akrab dipanggil Cak Imin itu menyerukan ‘tobat ekologis’.

“Saya hanya mengajak Pak Prabowo, Pak Gibran, Pak Mahfud, Pak Ganjar, saya, Mas Anies, dan siapa pun untuk sama-sama tobat ekologis, memperbaiki ke depan menjadi lebih baik lagi,” kata dia, di Jakarta.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Kita saksikan kerusakan iklim dalam beberapa tahun terakhir, kerusakan lingkungan hidup yang mengkhawatirkan, bencana ekologis, banjir, longsor. Kalau mau jujur, kiamat makin dekat,” cetusnya.

Muhaimin pun mengingatkan Indonesia sudah terlalu berlebihan dalam mengeksplorasi nikel, bahan penting buat baterai mobil listrik hingga ponsel, tanpa pertimbangan ekologi serta sosial.

“Masa depan kita tidak jelas. Di sisi lain kita mengorbankan lingkungan dan sosial kita, sekaligus keuntungan yang sangat berbatas bagi negara. Oleh karena itu, bukan soal gegabah, ini soal keberanian dan keberpihakan,” ujar Ketua Umum PKB ini.

Efek krisis iklim

Bicara soal kerusakan iklim, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap prediksi suhu global akan mencapai 3,5 derajat Celsius pada 2100.

“Dari hasil riset BMKG kalau kita tidak segera melakukan mitigasi hutan tidak direboisasi, bahan bakar fosil terus dipakai, diprediksi kenaikan suhu pada 2100 akan mencapai 3,5 derajat celcius,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPR, Kamis (8/6/2023).

Apa efeknya jika suhu itu tercapai?

Sebuah studi di jurnal BioScience, yang diklaim ditandatangani oleh lebih dari 15.000 ilmuwan di 161 negara, memperingatkan “kehidupan di planet Bumi sedang terancam.”

“Selama beberapa dekade, para ilmuwan konsisten memperingatkan masa depan yang ditandai dengan kondisi iklim ekstrem akibat peningkatan suhu global yang disebabkan oleh aktivitas manusia yang melepaskan gas rumah kaca berbahaya ke atmosfer,” demikian menurut makalah itu.

“Sayangnya, kini waktunya sudah habis,” tulis studi bertajuk ‘The 2023 state of the climate report: Entering uncharted territory’ itu.

Para penulis studi, yang merupakan peneliti postdoctoral di Oregon State University (OSU) dan 11 rekan penulis lainnya, memasukkan soal rekor iklim dipecahkan dengan “margin yang sangat besar.”

“Pada akhir abad ini (tahun 2100, red), diprakirakan 3 hingga 6 miliar orang, kira-kira sepertiga hingga setengah populasi global, akan berada di luar wilayah yang layak huni,” simpul para peneliti, mengutip kajian Lenton dkk. (2023).

Populasi ini, kata studi tersebut, akan “menghadapi panas yang ekstrem, terbatasnya ketersediaan pangan, dan meningkatnya angka kematian karena penyakit yang merupakan dampak perubahan iklim.”

Peneliti pascadoktoral Oregon State University dan juga salah satu penulis utama studi, Christopher Wolf, melansir Futurism, menyatakan “kita sedang menuju potensi runtuhnya sistem alam dan sosial-ekonomi dan dunia dengan panas yang tak tertahankan dan kekurangan sumber daya alam, makanan, dan air bersih.”

Hal itu terjadi jika tak ada “tindakan yang mengatasi akar masalah umat manusia yang mengambil lebih banyak dari Bumi daripada yang bisa diberikan secara aman.”

Tak layak huni

Astrofisikawan di Laboratoire d’Astrophysique de Bordeaux di Bordeaux, Prancis, Sean Raymond mengungkap planet-planet bisa menemui ‘ajalnya’ imbas bencana iklim dalam bentuk menjadi tak layak huni, bukan hancur secara masif.

Menurutnya, suhu Bumi diatur oleh jumlah karbon dioksida (CO2) di atmosfer. Karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya di atmosfer (seperti air, metana, dan dinitrogen oksida) bertindak sebagai selimut, menjaga planet tetap hangat dengan memperlambat banyak radiasi matahari yang lolos kembali ke luar angkasa.

Saat karbon dioksida menumpuk di atmosfer, ia menghangatkan permukaan planet, menyebabkan hujan lebih banyak.

Curah hujan kemudian menghilangkan sebagian karbon dioksida dari atmosfer dan menyimpannya di batuan karbonat di dasar laut, dan planet mulai mendingin.

Jika karbon dioksida terakumulasi di atmosfer lebih cepat daripada yang dapat diserap kembali ke bebatuan, karena sesuatu seperti peningkatan aktivitas vulkanik, misalnya, dapat memicu efek rumah kaca yang tak terkendali.

Naiknya suhu dapat memungkinkan atmosfer lepas ke luar angkasa, menghilangkan perisai pelindung yang membelokkan radiasi dari Matahari.

“Pemanasan [efek] rumah kaca adalah fakta kehidupan untuk atmosfer, dan diinginkan sampai taraf tertentu,” tulis Raymond, “Tapi hal-hal bisa menjadi tidak terkendali.”

Menurut Raymond, semua planet yang berpotensi memiliki kehidupan menghadapi risiko bencana iklim dan menjadikannya tak layak huni.

Pasalnya, siklus karbonat-silikat ini sangat bergantung pada keberadaan kehidupan, yang rusak perlahan jika krisis iklim tak dicegah.

“Biologi (kehidupan) memainkan peran penting dalam menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer dan menguburnya dalam batuan karbonat di dasar laut,” ujar Raymond.

“Tanpa biologi, atmosfer kita akan memiliki lebih banyak CO2 dan planet kita mungkin tidak dapat dihuni.”

Sementara itu, Hannah Ritchie, Kepala Penelitian di Our World In Data, mengkritik ramalan kiamat imbas perubahan iklim ini karena malah membuat orang malas gerak.

“Sering ada pesan yang datang bahwa ‘tidak ada yang bisa kita lakukan tentang itu: sudah terlambat, kita dihukum, jadi nikmati saja hidup,'” ujarnya kepada The Guardian.

“Itu pesan yang sangat merusak, karena itu tidak benar, dan tidak mungkin itu mendorong tindakan [untuk membenahi masalah].”




Cara gas rumah kaca memicu pemanasan global. (CNNIndonesia/Basith Subastian)

(tim/arh)




Sumber: www.cnnindonesia.com