Beda Temuan Sesar Cugenang Pemicu Gempa Cianjur Versi BMKG dan BRIN

BMKG dan BRIN memaparkan kondisi Sesar Cugenang, yang disebut sebagai sumber gempa Cianjur, berdasarkan analisis masing-masing. Cek bedanya.

Jakarta, CNN Indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) punya analisis berbeda mengenai Sesar Cugenang yang disebut sebagai sumber gempa Cianjur. Berikut hasil studinya.

Sebelumnya, BMKG mengklaim bahwa Sesar Cugenang sebagai pemicu gempa Magnitudo 5,6 yang menimbulkan kerusakan besar di Cianjur, Jawa Barat, November 2022.

BMKG merujuk pada Sesar Cimandiri sebagai pemicu gempa tersebut. Lantaran jalur kerusakan tak sejalan dengan patahannya, ahli mengalihkan kepada kemungkinan lain.

Dalam keterangannya pada 8 Januari, BMKG menyebut pemetaan awal bahaya gempa bumi buntut aktivitas Patahan atau Sesar Cugenang itu sendiri tuntas pada 10 Desember 2022 dan diperbarui 12 hari kemudian.

BMKG memaparkan data-data yang dipakai untuk analisis ‘Peta Bahaya Sesar Cugenang’ ini. Yakni, data hasil monitoring posisi, sebaran dan magnitudo gempa utama dan gempa-gempa susulannya, yang disertai dengan analisis mekanisme sumber gempa bumi (focal mechanism).

Selain itu ada analisis makroseismik terhadap pola sebaran intensitas guncangan dan tingkat kerusakan bangunan; analisis directivity frekuensi gelombang gempa; serta analisis spektrum gelombang seismik dan interpretasi anomali gaya berat (gravity).

Data analisis dari instansi di luar lembaga, kata lembaga, juga menguatkan analisis BMKG. Yakni, analisis deformasi permukaan berbasis satelit (InSAR) yang dilakukan oleh peneliti BRIN dan MAPPIN, “yakni Bapak Dr. Agustan.”

“Hasil analisisnya memiliki arah kurang lebih sama dengan arah Jurus yang ditetapkan oleh BMKG berdasarkan data kegempaan atau focal mechanism, yakni berarah Barat Laut – Tenggara,” kata BMKG.

Data kedua yang menguatkan analisis BMKG ialah data displacement (perpindahan) Global Positioning System (GPS) dari Badan Informasi Geospasial (BIG) yang terpasang di Cianjur.

“Juga menunjukkan arah Tenggara pada saat kejadian gempa bumi utama di Cianjur pada tanggal 21 November 2022 yang lalu.”

Zona bahaya

Verifikasi lapangan pun dilakukan bersama Pemerintah Kabupaten Cianjur, yakni di Kampung Rawacina, Desa Nagrak, Kampung Cisarua, Desa Sarampad, Desa Cijedil, Desa Ciputri, hingga Desa Ciherang.

Dari hasil verifikasi, dihasilkan tiga zona bahaya gempa bumi, yakni Zona Terlarang (Merah), Zona Terbatas (Orange) dan Zona Bersyarat (Kuning).

Pertama, Zona Terlarang (Merah) memiliki kriteria zona dengan “sempadan” Patahan Aktif Cugenang 0 – 10 meter ke kanan dan ke kiri tegak lurus jurus patahan.

Ini merupakan zona kerentanan sangat tinggi akibat deformasi dan getaran gempa dan/atau merupakan zona kerentanan tinggi gerakan tanah (longsor).

“Zona Terlarang ini yakni zona harus dikosongkan/bangunan yang ada direlokasi, dilarang pembangunan kembali dan pembangunan baru. Di prioritaskan juga pada Zona Terlarang ini untuk pemanfaatan ruang sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH), Monumen atau Kawasan Lindung.”

Zona Terlarang ini memiliki luas 2,63 km2 yang meliputi 4 Kecamatan dan 12 Desa. Yakni, sebagian wilayah dari Kecamatan Cilaku khususnya di sebagian wilayah Desa Rancagoong; Kecamatan Cianjur yakni sebagian dari Desa Nagrak;

Kecamatan Cugenang yakni sebagian dari Desa Cibulakan, Benjot, Sarampad, Gasol, Mangunkarta, Cijedil, Nyalindung dan Cibeureum; Kecamatan Pacet yakni sebagian dari Desa Ciputri dan Ciherang.

Kedua, Zona Terbatas (Orange). Area ini memiliki kriteria dengan sempadan Patahan Aktif Cugenang 10 meter hingga 1 kilometer ke kanan dan ke kiri tegak lurus jurus patahan.

Ini juga merupakan zona kerentanan tinggi akibat deformasi dan getaran gempa, dan/atau merupakan zona kerentanan menengah gerakan tanah (longsor).

Rekomendasi BMKG terhadap Zona Terbatas tersebut adalah “dapat dibangun konstruksi dengan penerapan PERSYARATAN yang sangat ketat untuk Standar Bangunan Tahan Gempa dan/atau Tahan Gerakan Tanah.”

“Pada zona ini juga dilarang pembangunan fasilitas sangat penting dan berisiko tinggi, misalnya rumah sakit dan sekolah bertingkat, fasilitas energi (kilang minyak), dan fasilitas sejenisnya,” menurut BMKG.

Ketiga, Zona Bersyarat (Kuning) memiliki kriteria dengan sempadan Patahan Aktif Cugenang lebih dari 1 kilometer ke kanan dan ke kiri tegak lurus jurus patahan.

Ini merupakan zona kerentanan menengah hingga rendah akibat deformasi dan getaran gempa, dan/atau merupakan zona kerentanan rendah hingga sangat rendah (aman) gerakan tanah (longsor).

BMKG merekomendasikan Zona Bersyarat ini “dapat dibangun dengan konstruksi tahan gempa dan/atau tahan gerakan tanah/longsor.”

35 meter

Sementara, BRIN memaparkan hasil studi berbeda berdasarkan hasil studi lapangan pada akhir Juli.

“Sesar Cugenang dari korespondensi BMKG, kementerian dan lembaga terkait juga sudah disampaikan tapi kita belum confirmed satu suara,” kata Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN Bambang Sugiarto, di Cianjur, Jawa Barat, Kamis (27/7).

BRIN mendasarkan pada pemantauan lapangan ke lima titik di empat desa di Cugenang, Cianjur, selama empat hari pekan lalu.

Di sana, tim peneliti melakukan pemetaan dugaan jalur sesar menggunakan dua perangkat deteksi, Geolistrik Multichanel Resistivity dan Ground Penetrating Radar, hingga kedalaman 50 meter.

Sejauh ini, kata dia, pihaknya belum menemukan indikasi sesar aktif. Menurutnya, Sesar Cugenang hingga kini belum ditemukan lantaran tidak ada data komprehensif dari patahan itu.

“Belum ditemukan [lokasi patahan]. Karena disebut ditemukan itu kalau data parameter sesar aktifnya sudah jelas, panjangnya di mana, titik koordinatnya di mana, lewati area mana, miringnya ke mana, kedalamannya berapa, itu yang sedang kita lakukan penelitian,” jelas dia.

Di samping itu, BRIN menemukan jalur patahan atau sesar baru sepanjang 35 meter di Kampung Rawacina, Desa Nagrak, Kabupaten Cianjur pada akhir Juli lalu.

Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Adrin Tohari menjelaskan patahan sesar temuan itu memiliki kedalaman sekitar 15 cm jika dilihat dari permukaan tanah.

Dengan rekahan ini, pihaknya meyakini temuan patahan tersebut dapat menyebabkan kerusakan bangunan cukup parah.

Tim peneliti belum bisa memastikan berapa panjang jalur rekahan tersebut karena tertutup reruntuhan puing rumah dan longsoran tanah akibat gempa.

Adrin dan tim peneliti akan melakukan pemetaan sesar di wilayah tersebut dengan menggunakan dua metode pengindraan bawah tanah yaitu dengan Geolistrik Multichanel Resistivity dan Ground Penetrating Radar.

Kini, tim peneliti rekahan gempa di lima wilayah Cianjur BRIN masih berlangsung. Hasil riset ditargetkan rampung Desember 2023.

(can/dmi)





Sumber: www.cnnindonesia.com