BAKTI Kominfo Optimalisasi Satria-1 Sebelum Beroperasi di Akhir 2023

Kominfo mengungkap persiapan Satelit SATRIA-1 yang akan diorbitkan pada 19 Juni mencapai 95 persen.

Jakarta, CNN Indonesia

Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melanjutkan optimalisasi Satelit SATRIA-1 sebelum pengoperasian pada akhir Desember 2023, yakni melalui sesi integrasi, pengujian segmen satelit, dan segmen ruas bumi.

Direktur Utama BAKTI Kominfo, Fadhilah Mathar menjelaskan, sebelumnya telah dilakukan percepatan penyediaan remote terminal ground segment di sejumlah lokasi layanan publik, yang akan diintegrasikan dengan space segment SATRIA-1.

“SATRIA-1 akan menjalani tahapan In-Orbit Testing (IOT) pada awal November 2023. Tahap IOT ini diperlukan untuk memeriksa performa satelit, terutama untuk subsistem payload,” kata Fadhilah.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adapun IOT mencakup tes performa transponder, sistem navigasi dan kontrol, sistem tenaga, dan sistem komunikasi. Setelah IOT, SATRIA-1 bakal menjalani proses integrasi dengan sistem ground dan uji coba end-to-end.

Untuk segmen tuas bumi, Fadhilah menyebut bahwa seluruh proses instalasi Radio Frequency Gateway (RFGW) 13 meter maupun Carrier System Monitoring (CSM) SATRIA-1 di 11 gateway atau stasiun pengendali di bumi sudah tuntas.

Ada 11 stasiun bumi yang tersebar di seluruh Indonesia. Masing-masing ada GW01 Batam, Kepulauan Riau; GW02 Cikarang, Jawa Barat; GW03 Pontianak, Kalimantan Barat; dan GW04 Banjarmasin, Kalimantan Selatan;

Lalu, ada juga stasiun bumi GW05 Tarakan, Kalimantan Utara; GW06 Manado, Sulawesi Utara; GW07 Kupang, NTT; GW08 Ambon, Maluku; GW10 Timika, Papua; serta GW11 Jayapura, Papua.

Fadhilah menambahkan, kegiatan OSAT (on site acceptance test) untuk perangkat RFGW maupun CSM juga sudah selesai. OSAT merupakan kegiatan pengetesan dan pengecekan site yang bertujuan memastikan kesiapan perangkat sebelum dioperasikan.

“Kegiatan OSAT di setiap lokasi dilakukan terhadap perangkat RFGW serta CSM,” ujar Fadhilah.

Kehadiran SATRIA-1 yang pada 31 Oktober telah menempati orbit geostasioner, tepatnya di 146° Bujur Timur atau di atas Pulau Papua, antara lain untuk mendorong konektivitas layanan publik dan layanan pemerintah, termasuk di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).

Selain itu, secara bertahap SATRIA-1 juga akan mengurangi kesenjangan akses broadband internet yang merupakan dampak dari kondisi geografis dan situasi masyarakat Indonesia.

(rea/inh)

[Gambas:Video CNN]



Sumber: www.cnnindonesia.com