Bagaimana Cara Ketahui Usia Alam Semesta?

Para ahli punya cara mengukur usia alam semesta. Bagaimana cara mengukurnya?

Jakarta, CNN Indonesia

Jajaran planet bersama bintang-bintang di galaksi Bima Sakti sudah terhampar luas di alam semesta sekitar 13,8 miliar tahun. Tetapi bagaimana cara mengukur usia tersebut?

Kita dapat menentukan usia alam semesta dengan menganalisis cahaya dan jenis radiasi lain yang bergerak dari luar angkasa. Tetapi, tidak semua ilmuwan percaya akan penghitungan itu.

Para peneliti terus menyempurnakan jawaban saat teleskop diperbaharui. Pada 1920-an, astronom Edwin Hubble menemukan cara untuk mengetahui hubungan antara jarak suatu objek, berdasarkan berapa lama cahayanya mencapai Bumi dan seberapa cepat ia bergerak menjauh dari kita.

Metrik ini sekarang dikenal sebagai konstanta Hubble, menggambarkan perluasan alam semesta di lokasi yang berbeda, menurut laporan Live Science.

Menurut NASA, konstanta Hubble menunjukkan perluasan alam semesta semakin cepat. Salah satu konsekuensi dari temuan ini adalah perkiraan usia alam semesta lebih sulit dibuktikan.

Saat ini, alam semesta diperkirakan berusia sekitar 13,8 miliar tahun. Ini ditentukan oleh berbagai kelompok ilmuwan yang mengumumkan temuan mereka pada 2020 setelah mengevaluasi kembali data dari pesawat ruang angkasa Planck, milik Badan Antariksa Eropa.

Ilmuwan juga mengelaborasikan dengan data yang diperoleh dari Atacama Cosmology Telescope (ACT) di Chili.

Hasilnya, semesta berusia kira-kira 100 juta tahun lebih tua dari perkiraan sebelumnya, yang ditentukan oleh data yang dipancarkan kembali dari pesawat ruang angkasa Planck pada 2013.

Baik pesawat ruang angkasa dan teleskop telah memetakan latar belakang gelombang mikro kosmik (CMB), yang merupakan sisa cahaya dari Big Bang.

Big Bang adalah peristiwa yang menyebabkan pembentukan alam semesta berdasarkan kajian kosmologi, untuk mengenai bentuk awal dan perkembangan alam semesta.

Dengan menggabungkan data tersebut, dipadukan dengan model yang ada tentang seberapa cepat jenis materi dan benda langit akan muncul, para ilmuwan dapat memperkirakan seberapa jauh kelahiran alam semesta yang eksplosif itu terjadi.

Para ilmuwan berpikir cahaya dari CMB muncul 400 ribu tahun setelah Big Bang. Alam semesta dimulai sebagai plasma panas, di mana paket cahaya atau foton, melekat pada elektron.

Semesta akhirnya cukup dingin untuk foton melepaskan elektron, meninggalkan plasma dan menyebar ke seluruh ruang, membentuk apa yang sekarang dikenal sebagai CMB.

Jadi, dengan mengukur seberapa jauh jarak cahaya yang tersebar tersebut, para ilmuwan mendapatkan perkiraan berapa umur alam semesta. “Semakin lebar jarak yang kami ukur hingga photon tersebar hingga saat terkini, semakin tua umur semesta. Itu karena CMB harus berjalan pada jarak yang lebih jauh untuk sampai kepada kita,” kata Steve Choi dari National Science Foundation dan seorang pelajar post doktoral di Cornell University.

[Gambas:Video CNN]

(can/lth)






Sumber: www.cnnindonesia.com