Badai Matahari Hujani Bumi, RI Aman?

Badai Matahari memberi efek berbeda pada tiap bagian Bumi, mulai dari memengaruhi gelombang radio, pemadaman listrik, hingga

Jakarta, CNN Indonesia

Matahari melontarkan semburan kuat tiba di Bumi, Jumat (1/12), dan diprediksi memicu badai geomagnetik kuat. Amankah Indonesia dari serangannya?

Dalam peringatan Badan Nasional Laut dan Atmosfer AS (NOAA), Badai Matahari kelas X, yang merupakan yang terkuat atau sedikit lebih lemah dari ledakan paling dahsyat pusat Tata Surya kita, membombardir Bumi dengan radiasi dan lontaran massa korona (CME).

CME yang meninggalkan Matahari pada 29 November itu memiliki Magnitudo 9,8. Ledakan plasma yang cepat akan bergabung dengan beberapa CME hulu yang lebih lambat yang meninggalkan Matahari sehari sebelumnya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fenomena ini menciptakan ‘Cannibal CME; yang kemungkinan akan memicu badai geomagnetik yang kuat seperti peristiwa 5 November yang menyebabkan aurora dan STEVE menjadi supercharged di seluruh dunia.

Johan Muhammad, Peneliti Pusat Antariksa di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan, di Indonesia, “dampak yang didapat tidak sebesar daerah yang berada di lintang tinggi seperti di sekitar kutub Bumi. Hal ini dikarenakan letak Indonesia yang berada di khatulistiwa.”

Meski demikian, katanya, tidak berarti Indonesia bebas dari dampak badai matahari. Cuaca antariksa akan banyak berdampak pada gangguan sinyal radio frekuensi tinggi (HF) dan navigasi berbasis satelit.

“Di Indonesia, cuaca antariksa akibat aktivitas Matahari dapat mengganggu komunikasi antarpengguna radio HF dan mengurangi akurasi penentuan posisi navigasi berbasis satelit, seperti GPS,” ujar Johan, dikutip dari situs BRIN.

Selain itu, ada potensi gangguan teknologi satelit dan jaringan ekonomi global.

“Gangguan pada satelit dan jaringan kelistrikan di wilayah lintang tinggi seperti kutub akibat cuaca antariksa tentunya juga dapat berpengaruh terhadap kehidupan manusia di Indonesia secara tidak langsung,” terang Johan.

Ia pun menepis istilah kiamat Badai Matahari.

“Tidak ada istilah seperti itu di kalangan masyarakat ilmiah. Kita telah hidup lama berdampingan dengan cuaca antariksa. Aktivitas matahari rutin terjadi. Yang perlu kita pahami adalah bagaimana prosesnya dan memitigasi dampak negatifnya semampu kita,” ujarnya.

Menurut dia, Matahari secara rutin melepaskan energi dalam bentuk radiasi. Beberapa aktivitas Matahari yang berpengaruh besar terhadap kondisi cuaca antariksa diantaranya adalah flare, lontaran massa korona, dan angin surya.

“Aktivitas Matahari secara langsung mengubah kerapatan dan tekanan plasma di medium antarplanet dan ionosfer, serta meningkatkan tekanan magnetik pada magnetosfer Bumi.”

“Akibatnya, berbagai sinyal gelombang elektromagnetik yang biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk keperluan komunikasi dan navigasi dapat terganggu saat terjadi aktivitas Matahari yang ekstrem,” lanjut Johan.

Di samping itu, Matahari punya siklus 11 tahunan yang telah dikenal lama manusia, setidaknya tercatat sejak abad 18. Saat ini, Bumi sedang berada di awal siklus ke-25 yang diperkirakan akan mencapai puncaknya pada 2024-2025.

Pada saat itu, aktivitas Matahari diperkirakan akan meningkat dengan frekuensi kejadian flare dan lontaran massa korona kemungkinan akan bertambah.

“Matahari memiliki siklus sekitar 11 tahun sekali. Siklus ini sifatnya tidak selalu sama di setiap saat. Terkadang, Matahari sangat aktif melepaskan energi eksplosif, sementara di periode lainnya Matahari bersikap sangat tenang,” terang Johan.

Di belahan Bumi dengan lintang tinggi atau mendekati kutub, Badai Matahari ini akan tampak berupa aurora.

[Gambas:Video CNN]

(tim/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com