Autobase Kampus ‘Cape Kuliah’ Ramai di X, Siapa Raup Sentimen Positif?

Mayoritas warganet membicarakan AHY dalam nada negatif sambil mengaitkannya dengan tindakan asal bicara hingga berlindung di bawah SBY.


Jakarta, CNN Indonesia

Lembaga analisis media sosial Drone Emprit mengungkap autobase kampus ‘cape kuliah‘ viral di media sosial X (sebelumnya Twitter) dalam beberapa hari terakhir. Siapa yang mendapat sentimen positif?

Beberapa hari terakhir, ramai di kalangan autobase kampus seperti @UGM_FESS, @itbfess, @UPIfess, dan lainnya. Base-base kampus ramai mengirim ungkapan ‘cape-cape kuliah’ dan mengaitkan dengan kondisi Pilpres 2024.

Drone Emprit kemudian melakukan analisis dengan sumber data Twitter serta kata kunci ‘kuliah’ dan ‘cape’ atau ‘capek. Analisis dilakukan pada periode 22-28 Januari 2024.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit, mengungkap tren ‘cape kuliah’ ini pertama kali muncul dari akun Twitter @fu**ingdustbag tanggal 22 Januari, yang menulis ‘capek capek kuliah S1 eh pas lulus malah milih prabowo. yang bener ajeee rugi dong“.

Cuitan ini menimbulkan pro-kontra selama beberapa hari berikutnya, ada yang setuju ada yang tidak setuju,” cuit Ismail dalam akun X miliknya, Minggu (28/1).

Kemudian, pada 25 Januari 2024, akun @Cintada16 membagikan video dengan teks “Capek-capek kuliah hukum milihnya kosong dua… yang bener aja… rugi dong…. Mkmkmkmk….“. Video ini kemudian viral, termasuk di TikTok.

Mulai viral baru pada hari berikutnya, 26/Jan/2024 setelah akun @UGM_FESS menggunakan ungkapan ini untuk jurusan lain, “Cape cape kuliah di peternakan, dst..”. Puncaknya pada tanggal 27/Jan/2024 yang mencapai lebih dari 28K mention sehari,” kata Ismail.

Lalu, bagaimana sentimen soal tren ‘cape kuliah’ ini?

Dari hasil analisis Drone Emprit menunjukkan, antara sentimen positif dan negatif hampir imbang. Paling banyak negatif 44 persen dan positif 42 persen.

Ismail mengatakan tone negatif ini umumnya menghubungkan ungkapan tersebut dengan “memilih 02, rugi dong“, sedangkan sentimen positif jika “memilih 01, untung dong“.

Dari paparan Drone Emprit, tercatat ada 17.469 mention dengan sentimen negatif, 16.876 mention dengan sentimen positif, dan 5.801 lainnya mention dengan sentimen netral.

Cuitan-cuitan ini mengungkapkan perasaan mereka terkait kesesuaian atau ketidaksesuaian antara pendidikan yang mereka terima dan pilihan politik mereka. Rangkuman dari data tersebut bisa dibagi menjadi beberapa tema utama,” ujar Ismail.

Tema pertama, kekecewaan atas pilihan politik. Sejumlah mahasiswa mengungkapkan kekecewaan karena merasa jurusan yang mereka pelajari di universitas tidak sesuai dengan pilihan politik yang mereka dukung.

Misalnya, mahasiswa arsitektur yang kecewa karena mendukung kandidat yang membangun dengan cara yang mereka anggap tidak sesuai dengan prinsip arsitektur yang mereka pelajari.

Tema kedua, dukungan atas pilihan politik. Sebaliknya, ada juga mahasiswa yang merasa pilihan politik mereka sejalan dengan pendidikan yang mereka terima. Misalnya, mahasiswa kedokteran yang mendukung kandidat dengan visi dan misi yang sesuai dengan kebutuhan tenaga kesehatan profesional.

Selanjutnya, tema dengan isu spesifik terkait jurusan. Ismail menjelaskan beberapa cuitan menyoroti isu-isu spesifik yang berkaitan dengan jurusan tertentu, seperti hilirisasi nikel untuk mahasiswa teknik geologi atau pembangunan infrastruktur untuk mahasiswa arsitektur, dan bagaimana hal ini terkait dengan pilihan politik mereka.

Sentimen Negatif dan Positif: Hampir semua cuitan menunjukkan sentimen yang kuat, baik negatif maupun positif, tergantung pada seberapa baik pilihan politik mahasiswa tersebut sejalan dengan pendidikan dan aspirasi mereka,” cuit Ismail.

Ismail mengatakan banyak cuitan menggunakan frasa “capek-capek kuliah” sebagai cara untuk mengekspresikan rasa frustrasi atau kebanggaan atas pilihan politik mereka. Ini menunjukkan cara kreatif dalam mengungkapkan pendapat politik yang terkait erat dengan kehidupan akademis mereka.

Kesimpulannya, data cuitan ini memberikan wawasan tentang bagaimana mahasiswa di Indonesia menghubungkan pendidikan yang mereka terima dengan pilihan politik mereka. Hal ini mencerminkan kepedulian mahasiswa terhadap isu-isu sosial dan politik, serta bagaimana hal tersebut berdampak pada pilihan mereka di ranah publik,” tutur dia.

(tim/dmi)

[Gambas:Video CNN]



Sumber: www.cnnindonesia.com