Arkeolog Ungkap Bukti Pionir Bahan Mata Uang Perak di Palestina

Para arkeolog menemukan timbunan perak yang dipotong secara acak. Diduga, itu adalah mata uang Zaman Perunggu.

Jakarta, CNN Indonesia

Sejumlah arkeolog menemukan timbunan potongan perak tak beraturan di daerah Tell el-Ajul di daerah yang kini menjadi Israel dan Gaza, Palestina. Potongan-potongan itu diduga menjadi bukti awal penggunaan perak sebagai mata uang.

Penelitian ini dipimpin oleh Tzila Eshel, arkeolog dari University of Haifa, Israel. Hasil penelitian para arkeolog pun sudah mempublikasikan hasil peneltian mereka di Science Direct berjudul The earliest silver currency hoards in the Southern Levant: Metal trade in the transition from the Middle to the Late Bronze Age.

Lewat studinya, para pakar meyakini timbunan perak itu sebagai bukti paling awal penggunaan perak sebagai mata uang pada pertengahan hingga akhir Zaman Perunggu di daerah Levant.

Istilah Levant digunakan untuk menyebut area besar di wilayah Mediterania Timur hingga Asia Barat mencakup ara yang kini menjadi Suriah, Yordania, Lebanon, Palestina dan sebagian besar wilayah Turki.

Dalam penelitiannya, Eshel beserta kolega mempelajari 28 potongan perak dari empat timbunan yang ditemukan di situs arkeologis Zaman Perunggu.

Empat situs itu terletak masing-masing di daerah Gezer (Penggunungan Judaean), pemakaman Megiddo (sebelah utara Israel), Shiloh (Tepi Barat), dan Tell el Ajjul (Gaza, Palestina).

Eshel menemukan timbunan perak dari Gezer, Shiloh, dan Tell el-Ajjul tidak ditemukan bersamaan dengan perkakas dari perak. Mereka pun menyimpulkan timbunan itu hanya digunakan untuk alat tukar, bukan untuk membuat perangkat perak lainnya.

“Penggunaan awal perak sebagai alat pembayaran di daerah Levant umumnya diabaikan dan timbunan perak sebagai mata uang seringnya diperkirakan merupakan fenomena Zaman Besi,” tulis para pakar.

“Berdasarkan konteks, tipologi, kimiawi dan analisa Pb-isotopik perak di Megiddo, Gezer, dan Shiloh, kami menunjukkan untuk pertama kali bahwa bukti material paling awal untuk penggunaan perak sebagai mata uang dan nilai di selatan Levant berasal dari pertengahan ketiga Zaman Perunggu (1770/1650 – 1600/1550 SM),” tulisnya lagi.

Dilansir LiveScience, Eshel lalu berusaha menemukan asal-usul perak di timbunan tersebut. Caranya, mereka menggunakan cairan kimiawi dan isotop -variasi dalam jumlah neutron di dalam inti sebuah elemen, yang berubah dari waktu ke waktu dengan tingkat yang diketahui, karena radiasi-.

Hasil analisis itu menunjukkan tanda penyebaran transisi antara sumber perak pada 1200 SM dari daerah tambang perak di Anatolia -sekarang Turki- ke tambang perak di tenggara Eropa, untuk kemudian dibawa ke wilayah Levant lewat perdagangan.

Para arkeolog juga menemukan, perak yang berada di Tell el-Ajjul secara isotopik mirp dengan perak yang ada di kebudayaan Zaman Perunggu Myceneaean di Yunani.

“Karena ada kemiripan isotopik pada potongan perak dari Tell el- Ajjul dengan Pemakaman Shaft milik Mycenaean, ada kemungkinan mereka berasal dari sumber yang sama,” tulis para arkeolog.

Bukan studi baru

Di sisi lain, arkeolog Raz Kletter dari University of Helsinki mengatakan, hasil penelitian ini “menambah pengetahuan kita”. Namun menurutnya, fakta bahwa perak digunakan untuk keperluan ekonomi bukanlah hal baru.

Menurut dia, sudah ada studi lain yang menunjukkan perak telah digunakan sebagai alat transaksi pada Zaman Perunggu di selatan Levant.

Selain itu menurutnya, belum tentu juga perak yang dipotong tak beraturan itu berperan sebagai alat tukar.

“Kita tidak bisa mengidentifikasi pemiliknya. Selain itu, tempat perak itu disembunyikan tidak benar-benar memberitahu kita asal usulnya,” tandas dia.

[Gambas:Video CNN]

(can/lth)






Sumber: www.cnnindonesia.com