Amarulla Octavian, Jenderal Profesor yang Jadi Wakil Kepala BRIN

Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian merupakan Rektor Unhan yang punya riwayat panjang karier militer. Simak detilnya di sini.

Jakarta, CNN Indonesia

Rektor Universitas Pertahanan (Unhan) Amarulla Octavian resmi dilantik menjadi Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Kamis (3/8).

Pelantikan pejabat baru BRIN ini dilakukan oleh Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Megawati Soekarnoputri di Auditorium Gedung BJ. Habibie, BRIN, Jakarta.

Amarulla dilantik berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 93/TPA Tahun 2023 tentang Pengangkatan Pejabat Pimpinan Tinggi Madya di Lingkungan BRIN.

Usai Amarulla menyebut prioritas awalnya di BRIN adalah untuk melakukan penataan organisasi, terutama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA).

“Prioritas ya sesuai dengan organisasi dan tata kerja di BRIN ini. Maka saya akan menyesuaikan dengan program-program terkait dalam tugas-tugas untuk penataan organisasi ke dalam. Jadi untuk internal BRIN, tadi juga ada penataan soal BRIDA. Tapi itu semuanya tetap sesuai dengan arahan dari Pak Kepala,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (3/8).

Karier akademik

Amarulla merupakan tentara yang juga ‘nyemplung’ di dunia akademis. Pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 24 Oktober 1965, punya gelar panjang.

Situs Unhan mencantumkannya di profil pimpinan sebagai “Laksamana Madya TNI Prof. Dr. Ir. Amarulla Octavian, M.Sc., DESD., ASEAN Eng.”. Sementara, CV-nya di situs DPR (2020) adalah “Dr. Amarulla Octavian, S.T., M.Sc., DESD., CIQnR., CIQaR.”

Laksamana Madya merupakan pangkat setara Letnan Jenderal (TNI AD) dan Marsekal Madya (TNI AU), atau satu tingkat di bawah pangkat tertinggi militer.

Mulanya, Amarulla menempuh Akademi Angkatan Laut XXXIII (1984-1988). Berbagai kursus dan pelatihan kemudian dilakoninya. Contohnya, di sekolah pelaut AL Prancis, Jeanne d’Arc (1991-1992) dan Pendidikan Spesialis Anti Kapal Selam (1993).

Di sela karier militernya, Amarulla menempuh pendidikan S1 Sekolah Tinggi Teknologi TNI AL (1998-2001). Dia kemudian menamatkan Sekolah Staf dan Komando TNI AL pada 2003.

Tak cukup S1, Amarulla menempuh S2 di Université Paris 2, Pantheon-Assas, Prancis (2005-2006). Di negara yang sama, dia menempuh Collège interarmées de Défense (2006).

Usai meraih gelar Doktor (S3) Bidang Ilmu Pertahanan di Universitas Indonesia (2012), Amarulla diangkat jadi dosen tetap di Unhan pada 2014.

Pernah menduduki jabatan Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan (2016-2018), dia diangkat jadi Rektor Universitas Pertahanan pada 9 April 2020.

Saat menjabat Rektor Unhan, Amarulla memberi gelar Profesor Kehormatan, gelar yang menuai kontroversi kalangan akademis, kepada Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.

Lulusan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Program Pendidikan Reguler Angkatan 54 (2016) ini kemudian ditetapkan sebagai Guru Besar Tetap alias Profesor di Unhan, pada Juni 2021.

Dikutip dari laman Kemendikbud, Amarulla juga terbilang rajin menerbitkan publikasi ilmiah. Science and Technology Index (SINTA) Score totalnya mencapai 808. Untuk tiga tahun terakhir, skornya adalah 488.

SINTA Score merupakan bentuk nilai yang menunjukkan kinerja dari publikasi ilmiah yang terindeks di laman SINTA.

Jabatan militer

Amarulla juga pernah menduduki beberapa jabatan penting, di antaranya Ajudan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2009-2012.

Kemudian, dia juga pernah menjabat posisi Kepala Gugus Tugas Tempur Laut Wilayah Barat (Guspurlabar) pada 2012-2013.

Sebelum diangkat jadi Rektor Unhan, ia pernah menjabat posisi penting sejenis, yakni Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Danseskoal) pada 2018.

Selama berkiprah di dunia militer, Amarulla juga pernah mencatat beberapa prestasi mulai dari Bintang Dharma, Bintang Yudha Dharma Nararya, Satya Lencana Kesetiaan, Satya Lencana Wira Nusa, hingga Satya Lencana Wira Karya.

Karier Riset

Dengan segenap pengalaman Amarulla di bidang akademik dan militer itu, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko memprediksi beban tugasnya bakal berkurang di lembaga riset raksasa ini.

“Ya kalo kami sebenarnya sudah berdiskusi beberapa kali. Dan kami akan kembali berdiskusi untuk memilah-milah, karena BRIN itu sangat besar. Makanya saya sangat senang sekali ada Waka, sehingga lumayan lah untuk mengurangi, bagi beban,” ujar dia.

Meski demikian, Handoko mengatakan tidak akan ada pembagian pengawasan pada organisasi riset tertentu antara dirinya dan Amarulla.

“Kalau secara spesifik menurut saya tidak perlu membagi seperti itu. Karena kami berdua mestinya harus bisa masuk di semua organisasi riset,” tandas dia.

(lom/arh)





Sumber: www.cnnindonesia.com