Alat Deteksi Dini Beroperasi Saat Gunung Marapi Erupsi

Erupsi Gunung Marapi memicu kekhawatiran publik. Ahli Mitigasi Bencana Geologi Surono membeberkan karakteristik letusan gunung di Sumbar ini.


Jakarta, CNN Indonesia

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengungkapkan alat deteksi dini erupsi beroperasi normal saat Gunung Marapi, Sumatra Barat, meletus pada Minggu (3/12). Meskipun, aki (accu) alat tersebut sempat hilang dicuri.

Sebelumnya, alat deteksi dini Gunung Marapi yang sempat dicuri disorot usai letusan gunung api itu menelan puluhan korban jiwa.

“Aman, semua alat beroperasi,” kata Kepala PVMBG Hendra Gunawan saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (7/12).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wakil Presiden Ma’ruf Amin sebelumnya mengaku mendengar laporan pencurian alat deteksi di Stasiun Pemantauan Gunung Marapi.

“Seperti tadi dikatakan ada yang dicuri ya, itu supaya pengamanannya [diperketat]. Jadi ke depan hal-hal seperti ini harus lebih dibenahi, hal-hal yang mencegah kemungkinan terjadinya pendakian pada saat situasi berbahaya,” ujar dia di Bali, dikutip dari Antara, Kamis (7/12).

Hendra pun menjelaskan kronologi pencurian alat deteksi dini erupsi Gunung Marapi, Sumatra Barat. Alat tersebut berada di Stasiun Guguak Solang (GGSL), berjarak 8,5 kilometer dari puncak Gunung Marapi.

Temuan terkait pencurian pertama kali diketahui pada 30 Maret saat rekaman seismik dari Stasiun GGSL terputus.

“Tanggal 31 maret 2023 dilakukan pengecekan lapangan. Kondisi stasiun sudah dibongkar,” jelas Hendra.

Kemudian tim PVMBG melakukan pelaporan ke Polres Tanah Datar pada 3 April. Perbaikan baru dilakukan dua pekan setelahnya, yakni pada 17 Mei dengan mengganti baterai ACCU.

Hendra mengatakan bagian yang dicuri dari stasiun pemantau tersebut hanya aki. Hal itu membuat alat jadi tidak bekerja.

“Jadi hanya aki yang dicuri, tapi membuat alat tidak jalan,” ujar Hendra.

Hendra menyebut rekaman seismik dari Stasiun GGSL sempat terputus lagi pada 25 September. Lalu, pada 11 Oktober pihaknya mengirim dua tim, satu tim ke Stasiun GGSL dan satu tim ke Stasiun Sago.

Tim di Stasiun GGSL melakukan pengecekan dan kondisi stasiun tersebut ternyata aman.

Tim di Stasiun Sago yang menjadi repeater dari GGSL ke Pos Pengamatan menemukan masalah pada radio. Penggantian pun dilakukan.

“Kemudian data GGSL jalan kembali,” ungkap Hendra.

Ia mengatakan Gunung Marapi memiliki delapan stasiun pemantauan, dua stasiun repeater, dan lima stasiun infrasound.

Stasiun ini memuat berbagai peralatan dengan fungsi yang beragam, mulai dari seismometer untuk mendeteksi getaran atau gempa vulkanik; GPS dan tiltmeter untuk mengukur tekanan dari dalam tubuh gunung dengan ketelitian tinggi dengan mendeteksi sinyal yang sangat kecil;

Selain itu, CCTV inframerah; detektor gas vulkanik; dan sensor infrasonik.

Erupsi tiba-tiba

Erupsi di Gunung Marapi disebut sebagai erupsi freatik. Hendra menyebut jenis erupsi ini sulit dideteksi karena sinyal yang dihasilkan sangat kecil dan singkat.

“Para ahli gunung api dunia sepakat bila sangat sulit dideteksi awalnya, karena sinyalnya sangat sangat kecil dan singkat (60-an detik) kalaupun bisa terdeteksi,” terang Hendra.

Menurut situs MAGMA Indonesia Kementerian ESDM, erupsi atau letusan freatik, yang punya nama lain letusan ultravulcanian dan letusan ledakan uap, adalah erupsi yang terjadi ketika magma memanaskan air tanah atau air permukaan.

Temperatur magma yang ekstrem (500 hingga 1.170 derajat C) menyebabkan penguapan air yang hampir seketika menjadi uap, menghasilkan ledakan uap, air, abu, batu, dan bom vulkanik).

PVMBG pun mengeluarkan rekomendasi status level II dengan jarak aman 3 kilometer dari kawah. Hal tersebut agar para pendaki punya waktu untuk menghindari erupsi freatik yang terjadi secara tiba-tiba.

Hendra menjelaskan erupsi Marapi yang terjadi pada Minggu (3/12) tidak terdeteksi oleh sistem deteksi dini yang dimiliki PVMBG.

“Tidak terdeteksi, oleh karenanya antisipasinya dengan selalu membuat jarak yg aman (tidak mendekat), jadi bila sewaktu-waktu terjadi kita ada waktu untuk menyelamatkan diri,” katanya.

Erupsi tersebut sebetulnya sesuai dengan batas rekomendasi tersebut, yakni tak sampai 3 kilometer.

Kantor SAR Kota Padang sebelumnya mencatat 75 pendaki berada di Gunung Marapi, Sumatera Barat saat terjadi erupsi.

Dari total 75 pendaki yang terdata berada di Gunung Marapi saat erupsi, tercatat ada 52 orang yang selamat, sementara 23 pendaki lainnya dinyatakan meninggal dunia.

[Gambas:Video CNN]

(lom/dmi)



Sumber: www.cnnindonesia.com