Alasan Selatan Jawa Mulai Basah Saat Belum Ada Sinyal Musim Hujan

BMKG memprediksi Jabodetabek akan diguyur hujan pada hari pertama tahun 2023.

Jakarta, CNN Indonesia

Sejumlah wilayah di bagian selatan Pulau Jawa mulai ‘basah‘ beberapa hari terakhir. Namun demikian, hal itu tidak menunjukkan bahwa musim hujan telah tiba.

Salah satu daerah yang sudah diguyur hujan adalah Kota Depok, Jawa Barat. Beberapa lokasi di Depok sempat diguyur hujan pada Rabu (11/10) sore.

Selain itu, hujan deras juga mengguyur sejumlah wilayah di Kabupaten Sukabumi. Bahkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mengimbau warga mengantisipasi potensi pohon tumbang yang dipicu hujan deras disertai angin kencang.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hujan di beberapa daerah selatan Pulau Jawa itu terjadi di tengah-tengah kondisi musim kemarau terik. Lalu, apa kata pakar mengenai hal tersebut?

Peneliti Klimatologi Pusat Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihasti menjelaskan meski hujan sudah mengguyur sejumlah wilayah di bagian selatan Pulau Jawa, namun bukan berarti ini menandakan berakhirnya musim kemarau.

Tidak ada indikasi berakhirnya musim kemarau karena angin masih didominasi angin timuran yang kering dan panas (kuning) di selatan Indonesia. Hujan lokal yang terbentuk beberapa hari terakhir dipicu oleh pembentukan siklon tropis Bolaven di Samudera Pasifik bagian utara,” kata Erma dalam cuitannya, Rabu (11/10).

Menurut Erma hal ini tak lepas dari peran fenomena El Nino yang menyebabkan musim hujan tertunda 2 sampai 3 dasarian karena melemahkan monsun Asia atau angin baratan.

Ia mengatakan karena monsun Asia melemah, maka efek lokal menguat. Apalagi ketika berinteraksi dengan topografi pegunungan.

“Inilah penyebab hujan lokal terbentuk di selatan Jawa selama periode menuju musim hujan (November-Februari),” kata Erma.

Dalam penelitian berjudul Interaksi ‘El Nino, Monsun, dan Topografi Lokal Terhadap Anomali Hujan di Pulau Jawa’ yang terbit 2016, Erma dan rekannya meneliti soal keterkaitan El Nino dengan monsun Australia dan topografi lokal di Pulau Jawa.

Hasil penelitian ini adalah munculnya anomali positif curah hujan di Pulau Jawa pada saat El Nino terjadi pada bulan Desember, Januari, Februari. Hal ini disebabkan anomali angin monsun selama El Nino.

Pengaruh El Nino pada saat musim peralihan, yakni September, Oktober, November adalah penguatan angin monsun tenggara di Pulau Jawa. Sebaliknya pada saat Desember, Januari, Februari terjadi pelemahan angin monsun barat laut yang menyebabkan kuatnya siklus diurnal baik angin darat-laut maupun angin lembah-gunung sehingga meningkatkan curah hujan di daerah pegunungan yang lebih dekat ke pantai selatan dibandingkan dengan pantai Utara Jawa.

“Oleh karena itu, variabilitas siklus diurnal berhubungan dengan ketidaksimetrisan topografi lokal yang menyebabkan adanya kecenderungan pola: basah untuk daerah selatan dan kering untuk daerah utara,” kata para peneliti dalam studinya.

(tim/dmi)


[Gambas:Video CNN]



Sumber: www.cnnindonesia.com