Alasan Ilmiah Cuaca Terasa ‘Sumuk’ di Tengah Musim Hujan

Cuaca panas terik beberapa hari terakhir memicu sejumlah rekor suhu dan hujan. Simak angka-angka dan penyebabnya.


Jakarta, CNN Indonesia

Suhu udara di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jabodetabek, terasa cukup gerah alias sumuk dalam beberapa hari terakhir, meski sudah masuk musim hujan. Kenapa demikian?

Dari keterangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di akun resminya di Instagram, suhu maksimum harian di Indonesia pada 16-17 Januari kemarin ada yang mencapai 35,4 derajat, yakni di daerah Tangerang Selatan, tepatnya di stasiun Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah II.

Sementara, pada periode yang sama, suhu yang tercatat di Stasiun Meteorologi Banten dan Kemayoran masing-masing mencatatkan suhu 34,6 derajat Celsius.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Guswanto, Deputi Bidang Meteorologi BMKG menyebut catatan suhu maksimum itu masih terbilang normal, meski saat ini sudah masuk musim hujan.

“Kalau suhunya di atas 37 derajat C, itu baru bisa disebut itu mungkin panas, artinya di luar dari normalnya. Sedangkan normalnya kita itu, suhu maksimum harian itu berkisar antara 33 derajat C sampai 37 derajat C,” kata dia saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (18/1).

“Kalau dikatakan suhu pada saat sebelum mulai hujan, itu sumuk, itu berbeda dengan panas,” imbuhnya.

Kenapa terasa sumuk?

Menurut Guswanto, suhu yang cenderung sumuk, yang berbeda dengan suhu panas, terkait dengan tutupan awan konvektif atau awan hujan.

“Sehingga panas yang dilepaskan permukaan Bumi itu ke atas, terpantulkan kembali ke bawah karena tidak bisa keluar dari permukaan Bumi,” jelasnya.

“Maka seolah-olah itu panas, padahal itu sumuk,” ujar dia.

Sementara itu, cuaca panas biasanya terjadi karena di udara tidak ada awan, sehingga sinar Matahari langsung ke bumi. Ketika kondisi tersebut, panas Matahari optimal memancar karena tanpa ada penghalang.

Suhu yang terasa

Guswanto pun menyoroti istilah feel-like temperature yang dipakai untuk menggambarkan suhu yang dirasakan oleh manusia di luar angka suhu di termometer.

“Yang dirasakan, di luar cuaca cerah, suhu terasa panas, itu kalau di dalam [istilah] kita ada namanya ‘feel like’, seolah-olah seperti, hanya perasaan yang mengukur, bukan alat ukur, termometer,” papar dia.

Menurut keterangan BMKG di akun Instagram-nya, feel-like temperature atau suhu yang dirasakan adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sensasi suhu yang dirasakan oleh manusia berdasarkan suhu udara, kelembapan, dan faktor lain seperti kecepatan angin dan sinar Matahari.

Saat suhu udara panas ditambah dengan kelembapan udara tinggi, udara sekitar sudah mengandung banyak uap air. Hal ini memicu keringat tidak dapat menguap dengan cepat dan akhirnya “membuat suhu terasa lebih panas.”

Sementara, saat udara panas ditambah kelembapan udara rendah, udara sekitar tidak mengandung banyak uap air. Hal ini membuat keringat menguap dengan cepat sehingga membuat suhu udara terasa lebih dingin.

BMKG juga menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kelembapan yang tinggi sehingga suhu udara di Indonesia terasa lebih hangat.

Masalahnya, wilayah Indonesia punya kecenderungan kelembapan udara tinggi karena merupakan negara kepulauan dan dikelilingi oleh lautan yang hangat.

Kemudian, Indonesia terletak di wilayah tropis dengan pemanasan dari sinar Matahari yang tinggi. Faktor lainnya yakni curah hujan tinggi yang meningkatkan uap air di udara.

Sementara, angin memberikan pengaruh terhadap suhu yang dirasakan melalui proses berikut.

“Angin yang bertiup melintasi permukaan kulit akan membawa panas tubuh yang dikeluarkan saat keringat menguap,” kata BMKG, sambil menambahkan ini “akan membuat suhu terasa lebih dingin.”

Demikian juga “angin yang bertiup dapat menghapus lapisan udara yang menghangatkan tubuh.” Proses ini juga membuat suhu udara akan terasa lebih dingin.

[Gambas:Video CNN]

(lom/dmi)



Sumber: www.cnnindonesia.com