Alasan Google Kalah dalam Kasus yang Dimenangkan Apple

Google kalah dalam kasus monopoli ilegal melawan Epic Games, lawan yang pernah dikalahkan Apple di 2021. Apa sebabnya?


Jakarta, CNN Indonesia

Google kalah dalam persidangan terkait monopoli ilegal melawan Epic Games, pekan lalu, padahal Apple bisa mengalahkannya dalam sidang serupa pada 2021. Simak sebabnya.

Apple diketahui memenangkan sebagian besar persidangan semacam ini pada 2021, mengalahkan gugatan dugaan pelanggaran undang-undang antimonopoli dengan membebankan biaya transaksi dalam aplikasi dan menendang game Epic, Fortnite, dari App Store.

Google baru-baru ini melakukan langkah serupa, tetapi dalam kasusnya, juri menemukan bahwa Google telah mempertahankan monopoli yang melanggar hukum dengan Play Store.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari The Verge, pengadilan telah menjelaskannya sejak hari pertama bahwa Epic melawan Google adalah kasus yang berbeda dengan Epic melawan Apple, dengan bukti yang berbeda dan di depan hakim yang berbeda.

Tidak ada satu pun dari kasus Apple yang secara langsung relevan dengan kasus Google.

Hakim juga melarang kedua belah pihak untuk mengungkit kasus tersebut. Pengacara Google tidak pernah bisa berargumen kepada juri bahwa Apple menang.

Selain itu, Apple disebut belum sepenuhnya menang, dan pengadilan tengah menunggu putusan Mahkamah Agung pada banding terakhir.

Faktor berikutnya yang kemungkinan membuat Google kalah adalah terkait gawai. Apple menjual iPhone dan ini adalah cara Apple beroperasi.

Google tidak menjual jajaran ponsel Samsung Galaxy dan tidak menjual Motorola Droid.

Google membangun ekosistem Google di dalam Android dengan membagikan sebagian dari keuntungan iklan dan toko aplikasinya jika para pembuat ponsel setuju untuk menggunakan aplikasinya (seperti Chrome, Gmail, dan Play), menggunakan API-nya, dan mengeluarkan patch keamanan tepat waktu.

Pengacara Epic dapat memberikan rincian tentang perjanjian ini dan menyatakan perjanjian tersebut menunjukkan Google menggunakan kekuatannya di satu lapisan pasar ponsel untuk mematikan persaingan di lapisan lain.

Dalam sidang ini juga disebutkan bahwa Google mencoba menawarkan penawaran kepada pengembang aplikasi dan game besar agar mereka tetap berada di Google Play Store.

Contohnya Proyek Hug, yang memberikan kredit, pemasaran bersama, dan dukungan kepada para pengembang game papan atas bernilai hingga ratusan juta dolar.

Lebih lanjut, CEO Epic Games Tim Sweeney menggarisbawahi beberapa faktor yang membuat pihaknya menang. Persidangan ini mengungkap bahwa Google diduga telah menghapus atau tidak menyimpan catatan seperti obrolan tentang kesepakatan rahasia dengan pembuat aplikasi.

Selain itu, Sweeney juga mencatat persidangan tersebut merupakan persidangan juri, sementara kasus Apple diputuskan oleh hakim.

“Kelancangan para eksekutif Google yang melanggar hukum, dan kemudian menghapus semua catatan pelanggaran hukum tersebut,” kata Sweeney dalam sebuah wawancara, dikutip dari CNBC.

“Hal itu benar-benar mencengangkan. Ini bukan kasus pengadilan biasa, Anda tidak akan menyangka sebuah perusahaan bernilai triliunan dolar beroperasi dengan cara yang dilakukan Google,” tambahnya.

Kemudian, Sweeney menyebut salah satu perbedaan utama kasus kali ini dan kasus melawan Apple adalah Epic mengalami kesulitan untuk menemukan dokumentasi dari dalam Apple.

Perbedaan lainnya adalah Android Google memungkinkan perangkat lunak diinstal dari internet, sebuah proses yang disebut sideload, sementara Apple melarangnya.

“Perbedaan besar antara Apple dan Google adalah Apple tidak menuliskan apa pun. Dan karena mereka adalah monopoli besar yang terintegrasi secara vertikal, mereka tidak melakukan kesepakatan dengan pengembang dan operator untuk mematikan persaingan, mereka hanya memblokir di tingkat teknis,” kata Sweeney.

Epic Games awalnya menggugat Google pada 2020, menuduh Google menggunakan posisinya yang dominan sebagai pengembang Android untuk membuat kesepakatan dengan pembuat handset dan meraup biaya ekstra dari konsumen.

Google memungut antara 15 persen dan 30 persen untuk semua pembelian digital yang dilakukan melalui tokonya.

Epic mencoba memotong biaya tersebut dengan menagih pengguna secara langsung untuk pembelian di game populer Fortnite. Namun, Google kemudian mengeluarkan game tersebut dari tokonya, yang memicu gugatan tersebut.

Kemenangan Epic Games di pengadilan dapat memberikan para pembuat aplikasi bagian pendapatan yang lebih besar dari pasar aplikasi digital, yang saat ini didominasi oleh Google dan Apple, dan bernilai sekitar US$200 miliar per tahun.

Keputusan pengadilan pada Senin (13/12) muncul setelah persidangan selama empat minggu di pengadilan federal di California.

Juri menemukan bahwa Google memperoleh dan mempertahankan kekuatan monopoli di pasar distribusi aplikasi Android, serta pasar tagihan dalam aplikasi untuk transaksi barang dan jasa digital.

(lom/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com