Alami Erupsi, ‘Komet Setan’ Kehilangan Tanduk dan Jadi Hijau

Komet kriovolkanik 12P/Pons-Brooks, yang dijuluki komet setan, kehilangan tanduk ikoniknya dan berubah jadi hijau. Cek penjelasannya.

Jakarta, CNN Indonesia

Letusan terdahsyat dari komet kriovolkanik 12P/Pons-Brooks menunjukkan objek es tersebut kemungkinan kehilangan tanduk ikoniknya, yang membuatnya dijuluki ‘komet setan’, untuk selamanya.

Letusan di komet vulkanik raksasa yang melaju menuju Matahari itu terjadi pada pekan lalu. Selain membuat kehilangan tanduknya, letusan itu terlacak memicu warna hijau langka dan ‘bayangan’ misterius.

Komet 12P/Pons-Brooks (12P), dikutip dari LiveScience, adalah komet raksasa selebar 10,5 mil (17 kilometer) yang akan melakukan pendekatan terdekat ke Bumi selama lebih dari 70 tahun tahun depan.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Komet ini adalah komet kriovolkanik, atau gunung berapi dingin, yang terdiri dari cangkang es, atau inti, berisi es dan gas. Ketika komet menyerap cukup banyak radiasi Matahari, bagian dalam komet yang membeku, atau cryomagma, menjadi sangat panas.

Tekanan meningkat di dalam inti hingga cangkangnya retak dan isi komet yang sedingin es menyembur ke luar angkasa.

Setelah letusan, koma komet (awan kriomagma dan debu yang tidak jelas dan memantulkan cahaya) mengembang dan membuat komet tampak lebih terang bagi para astronom karena memantulkan sinar matahari.

Sebelum ini, 12P mengalami tiga letusan besar: pada 20 Juli, ketika terlihat meledak untuk pertama kalinya dalam 69 tahun; pada 5 Oktober, ketika letusannya bahkan lebih dahsyat; dan pada Halloween (31 Oktober), yang ledakannya tidak terlalu intens.

Setiap kali komet meledakkan bagian atasnya, komanya meluas menjadi bentuk tidak beraturan dengan “jalur gelap” yang membuatnya tampak seperti tumbuh sepasang tanduk.

Pada 14 November, 12P kembali mengalami letusan besar, letusan paling ekstrem sejauh ini.

Para astronom menyaksikan komet tersebut untuk sementara menjadi 100 kali lebih terang dari biasanya pada hari-hari berikutnya seiring dengan meluasnya komanya, dikutip dari Spaceweather.com. Namun kali ini, tanduk khasnya tidak terlihat lagi.

“Koma kali ini tampak melingkar sempurna,” kata Nick James, direktur bagian komet Asosiasi Astronomi Inggris (BAA).

Asal mula tanduk

Tanduk komet adalah hasil dari ketidakteraturan bentuk inti 12P, kata astronom BAA Richard Miles. Menurut dia, gas yang keluar kemungkinan sebagian terhalang oleh lekukan yang menonjol pada inti.

Saat ini tidak jelas mengapa cula tersebut menghilang. Namun, letusan yang sering terjadi mungkin telah menghancurkan takik yang menghalangi aliran keluar cryomagma.

Selama letusan ketiga pada Halloween, tanduknya tidak begitu jelas dibandingkan dua letusan pertama, yang menunjukkan bahwa takik mungkin telah rusak setelah dua ledakan pertama komet tersebut.

Astronom amatir dan fotografer Eliot Herman, yang telah mengambil foto komet tersebut setiap hari sejak letusan pertamanya, mengaku terkejut ketika koma tersebut meluas tanpa menumbuhkan tanduknya.

“Sang iblis mungkin akan pergi [untuk selamanya],” kata dia.

Gambar yang diambil Herman juga mengungkap kejutan lain, yaitu warna hijau pada komet koma.

Pewarnaan langka ini dihasilkan oleh komet yang mengandung dikarbon tingkat tinggi, bahan kimia yang memancarkan cahaya hijau ketika diurai oleh sinar matahari, menurut majalah Science.

Beberapa komet hijau telah terbang melintasi Bumi tahun ini, termasuk “komet hijau” C/2022 E3 (ZTF), yang mencapai jarak terdekat ke Bumi selama 50 ribu tahun pada Februari; dan Komet Nishimura, yang terbang melintasi planet kita untuk pertama kalinya dalam 430 tahun pada September.

Dalam gambar lanjutan dari komet tersebut, Herman juga melihat bercak gelap aneh lainnya dalam koma warna-warni komet tersebut, yang tampak seperti celah melengkung.

Namun, tidak seperti jalur gelap yang salah bentuk yang sebelumnya menjadi ciri koma, para ahli percaya bahwa bentuk yang tidak biasa ini adalah bayangan yang dihasilkan oleh cryomagma yang keluar, menurut Spaceweather.com.

12P saat ini melaju menuju matahari dengan kecepatan sekitar 40.000 mil per jam (64.300 km per jam) saat mendekati akhir 71 tahun orbitnya mengelilingi matahari.

Pada 24 April 2024, komet tersebut akan mencapai titik terdekatnya dengan Matahari, atau perihelion, sebelum terlempar mengelilingi bintang asal kita dan masuk ke tata surya bagian luar di mana ia menghabiskan sebagian besar orbitnya.

Kemungkinan besar, ia tidak akan kembali ke tata surya bagian dalam hingga 2094. 12P akan mencapai titik terdekatnya dengan Bumi pada 2 Juni tahun depan dan diharapkan dapat terlihat dengan mata telanjang.

[Gambas:Video CNN]

(rfi/arh)



Sumber: www.cnnindonesia.com