AI Jadi Kurikulum Wajib di Binus University

Rektor Binus University Dr Nelly mengatakan kecerdasan buatan (AI) jadi kurikulum wajib di kampusnya sebagai bentuk adaptasi di era digital.

Jakarta, CNN Indonesia

Rektor Binus University Dr Nelly mengatakan kecerdasan buatan (AI) jadi kurikulum wajib di kampusnya. Apa alasannya?

“AI menjadi kurikulum wajib setiap mahasiswa dan embeded materi AI di materi lain. Mata kuliah universitas sebetulnya AI, character building, dan entrepreneur,” kata Nelly saat berbicara di Digital Creative Leadership Forum di Kempinski Grand Ballroon, Jakarta, Kamis (9/11).

Baginya, pengenalan teknologi ini penting di saat AI sudah jadi bagian kehidupan saat ini, sementara kurikulum, “dipakai untuk empat, lima tahun.”


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nelly mengatakan Binus sudah memiliki learning management system sejak 1990 yang disebut sangat membantu proses pembelajaran. Namun, saat itu kesiapan di lapangan belum siap karena internet belum semasif saat ini.

Menurut dia, sebagai kampus dengan cikal bakal sebagai lembaga kursus komputer, Binus terus membuat strategi untuk memanfaatkan teknologi untuk memberikan pengabdian kepada masyarakat.

“Dari awal pun kita dalam melakukan aktivitas itu semua kita berusaha memanfaatkan teknologi, kita berpacu dengan teknologi,” ujarnya.

Pihaknya mengaku saat itu melihat kesiapan di lapangan, termasuk dalam hal fasilitas internet. Namun, kewajiban melakukan pengabdian kepada masyarakat mendorong universitas tak menyerah.

“Waktu Tokopedia sudah ada, tetapi manusia belum siap memanfaatkannya, sehingga pengabdian masyarakat mengajak UMKM di dekat kampus bagaimana memanfaatkan teknologi dulu.”

“Memang harus dikenalkan dulu diketahui dulu manfaatnya baru bisa disebarkan di lapangan,” lanjut Nelly.

Pada kesempatan yang sama, Head of Program Study Visual Communication Sampoerna University Tombak Matahari mengungkap kampusnya sudah memasukkan sejumlah pembelajaran teknologi.

“Saya masukin kurikulum belajar kreatif coding, belajar operator reality VR, di mana 20 tahun atau 25 tahun yang lalu saya belajar sekolah itu tidak diajarkan.”

Sejalan dengan Nelly, ia menyebut ada hambatan fasilitas.

“Nah, masalahnya adalah talenta yang sebenarnya kreatif tapi dia tidak punya fasilitas yang ada di kampusnya,” tukas dia.

Untungnya, Tombak menyebut ada program Kampus Merdeka Kemendikbud. “Ada juga namanya dosen, kita ada pertukaran dosen, ada pertukaran mahasiswa,” imbuh dia.

Memberi fasilitas

Head of Program Study Media Production Universitas Indonesia Ngurah Rangga Wisesa mengatakan mengatakan kurikulum UI saat ini tak sekaku dahulu.

“Kalau dulu kurikulum di UI sangat rigid. Nah, sekarang per semester bisa di-adjust sesuai kebutuhan dan dunia yang sangat dinamis,” ucapnya.

“Jadi memang benar-benar apa yang dibutuhkan oleh mahasiswa. Saya bersyukur juga kurikulum sekarang sangat menyesuaikan, jadi bisa dinamis.”

Rangga pun menyebut masalah pengajaran soal teknologi ini pada dasarnya bergantung pada dosen.

“Universitas itu bukanlah seperti dulu yang jadi sumber ilmu; mahasiswa mendengar semua dari dosen dan lain-lain. tTapi dosen hanyalah fasilitator, mentor,” jelasnya.

“Mereka bahkan lebih canggih dari saya, jadi saya hanyalah agregator, yang didasarkan pada minat mereka.”

Digital Creative Leadership Forum digelar CNN Indonesia di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta hari ini. Event ini adalah ajang berbagi pengalaman para pimpinan lembaga negara dan perusahaan dengan topik terentang mulai soal peran teknologi industri hingga kecerdasan buatan (AI).

Diskusi terbagi dalam empat sesi, yang didahului dua pembicara kunci, yakni Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi dan Kepala Otorita Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara Bambang Susantono.

(far/rfi/pua)



Sumber: www.cnnindonesia.com