Ahli Ungkap Citra Positif Tuyul di Keyakinan Jawa, Risikonya Besar

Antropolog AS Clifford Geertz pernah meneliti keyakinan orang Jawa soal tuyul, cara hingga risiko memelihara makhluk halus ini. Berikut paparannya.

Jakarta, CNN Indonesia

Berdasarkan penelitian di Jawa, Antropolog AS Clifford James Geertz mengungkap tuyul menjadi legenda dengan citra positif lantaran dianggap bisa memberi kekayaan pada yang memeliharanya.

“Mereka tidak mengganggu, menakuti orang atau membuatnya sakit; sebaliknya, mereka sangat disenangi manusia, karena membantu manusia menjadi kaya,” tulis Geertz, berdasarkan keterangan narasumber lokal seorang tukang kayu muda di Mojokuto.

Hal itu terungkap dalam bukunya ‘Agama Jawa, Abangan, Santri, Proyayi dalam Kebudayaan Jawa’, yang diterjemahkan Aswab Mahasin dan Bur Rusuanto, berdasarkan hasil penelitian lapangan pada 1950an di Mojokuto.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Amanah Nurish, penuluis buku Agama Jawa: Setengah Abad Pasca-Clifford Geertz’, dikutip dari situs IAIN Kediri, menyebut Mojokuto merupakan nama fiktif, samaran buat daerah Pare, Kediri, Jawa Timur.

Mojokuto, kata Dosen UI itu, terdiri dari kata ‘mojo’ yang artinya pahit, dan ‘kuto’ yang berarti kota. Jika digabung, Mojokuto berarti kota yang pahit. Menurutnya, istilah ini merujuk pada wilayah Pare, yang diambil dari nama tumbuhan menjalar dengan buah yang pahit.

Geertz juga memberi penafian atau disclaimer pada paparannya terkait makhluk halus ini. Bahwa, “pandangan tukang kayu itu adalah pendapatnya sendiri dan walaupun pendapat ini secara kasar mirip, detail-detail tentang makhluk halus berbeda dari satu orang ke orang lain.”

“Meski terdapat kesepakatan tentang keberadaan dan pentingnya makhluk adikodrati (yang sebagai suatu kelompok, disebut bangsa alus), tetapi setiap orang tampaknya mempunyai pendapat sendiri mengenai sifat dasarnya serta pengalaman pribadi untuk membuktikannya.”

Selain itu, kepercayaan warga lokal juga lebih terkait dengan imajinasi, bukan ilmu pengetahuan konkret.

“Kepercayaan kalangan abangan di Mojokuto terhadap makhluk halus bukanlah bagian dari sebuah skema yang konsisten, sistematis dan terintegrasi.”

“Tetapi lebih berupa serangkaian imaji yang berlainan, konkret, spesifik serta terdefinisikan secara agak tajam-metafora-metafora visual yang tidak terkait satu sama lain memberi bentuk kepada berbagai pengalaman yang kabur dan yang kalau tidak demikian, tidak akan dapat dimengerti,” urai Geertz.

Perjanjian dengan setan

Jika ingin berhubungan dengan tuyul,  ilmuwan Harvard University itu menyebut warga Jawa meyakini pentingnya membuat semacam “perjanjian dengan setan”, termasuk berupa ritual berpuasa serta bersemedi atau meditasi hingga menyerahkan korban berupa empat orang mati tiap tahun.

“Tak lama kemudian, orang itu akan bisa melihat mereka dan untuk selanjutnya, bisa mempekerjakan mereka buat kepentingannya sendiri.”

Walau begitu, ada pula yang meyakini ritual itu tak wajib atau bahkan tak berpengaruh karena “semuanya tergantung dari tuyul itu sendiri.”

“Kalau ia ingin menolong kita, ia akan menolong dan kalau ia tidak mau, ia akan menolak, tak peduli apa pun yang kita lakukan.”

Orang Jawa, katanya, meyakini keuntungan memelihara tuyul adalah berupa mendapat uang dan kekayaan lainnya dengan mudah.

“Kalau orang mau kaya, ia bisa menyuruh mereka (tuyul) mencuri uang. Mereka bisa menghilang dan bepergian jauh hanya dalam sekejap mata hingga tidak akan mengalami kesulitan dalam mencari uang untuk tuannya,” urai Geertz.

Imbalan yang mesti disiapkan buat tuyul hanya menyediakan tempat tidur serta menghidangkan bubur sekadarnya setiap malam, yang merupakan makanan pokok mereka.

“Berhubung mereka ini anak-anak (mereka konon berjalan melompat-lompat dalam lingkaran kecil seperti halnya anak kecil).”

Ciri-ciri orang yang memelihara tuyul di halaman berikutnya…




Sumber: www.cnnindonesia.com