Ahli Ungkap Alasan Konten Ngemis Online Sempat Viral di TikTok

Sempat meresahkan publik akibat menyeret lansia, konten mengemis online di TikTok menjamur tak secara instan. Simak penjelasan pakar.

Jakarta, CNN Indonesia

Pakar mengungkap tren ngemis online terkait dengan masalah algoritma di TikTok hingga faktor ekonomi dan kemudahan akses media sosial. Lalu bagaimana cara menangkalnya?

Sebelumnya, viral konten siaran langsung di TikTok yang bertajuk ‘ngemis online’ lantaran berharap gift alias hadiah dari penonton. Salah satu yang menyedot perhatian adalah konten mandi lansia.

Pakar Komunikasi dari Universitas Padjadjaran Dandi Supriadi dan Dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Muhammadiyah Surabaya Radius Setiyawan pun menjelaskan soal penyebab tren ini dan cara menangkalnya.

Pemicu

Pertama, masalah saringan atau filter konten tertentu pada algoritma TikTok.

“Menurut saya alangkah baiknya pihak platformnya sendiri punya algoritma yang menyaring hal-hal yang berpotensi meresahkan seperti itu,” kata Dandi kepada CNNIndonesia.com lewat sambungan telepon, Selasa (31/1).

Algoritma adalah sebuah sistematis yang kerap disukai atau dicari pengguna sehingga menampilkan konten-konten yang sesuai dengan interest pengguna.

Singkatnya, platform media sosial menyuguhkan konten yang sesuai dengan preferensi pengguna, supaya pengguna bisa lebih lama menggunakan aplikasi.

Dandi melanjutkan TikTok harusnya bisa menangkal tren negatif itu dengan membuat algoritma tertentu. Ia mencontohkan Facebook dan YouTube yang secara otomatis memblokir konten yang tidak sesuai aturan perusahaan atau pemerintah.

Facebook, misalnya, memblokir pembicaraan soal radikalisme atau yang berhubungan dengan kelompok agama tertentu. Sementara, YouTube sangat selektif dengan konten yang tidak jelas hak ciptanya.

“Saya pikir TikTok bisa kalau mau mulai mengembangkan algoritma untuk menyaring konten-konten tertentu,” ujarnya.

Kendati demikian ia juga tak menampik jika aturan yang diberlakukan oleh TikTok harus juga menjunjung tinggi kebebasan berekspresi dan kultur di tiap negara.

“Bisa jadi di Indonesia buka dada langsung diblur, sedangkan di Finlandia buka dada hal yang biasa. ini kan sangat cultural dan sektoral ya,” ujarnya.

Radius menambahkan aturan yang lebih bijaksana soal konten diperlukan untuk mengontrol kualitas medsos itu.

“Apabila hal ini dibiarkan, platform media sosial akan dipenuhi konten-konten yang tidak bermutu dan berdampak pada kualitas generasi ke depannya,” ujarnya, Kamis (19/1), dikutip dari situs UM Surabaya.

Kedua, akses mudah terhadap internet dan media sosial.

“Ternyata akses atas media sosial yang terbuka untuk semua kalangan dan secara otomatis mempermudah orang memperoleh banyak uang, menyisakan persoalan serius. Keterbukaan akses informasi ternyata mengakibatkan sebagian dari kita kehilangan nalar empati” kata Radius.

Ketiga, faktor ekonomi. Radius menyebut, di zaman yang serba instan ini, demi mendapatkan popularitas dan uang banyak orang yang akhirnya kehilangan nalar empatinya.

“Kita harus melihat hal ini dengan kacamata yang berbeda, nenek-nenek dan ibu yang mandi lumpur itu adalah korban. Di tengah kondisi ekonomi yang berat, terkadang orang rela melakukan aksi-aksi konyol,” tutur dia.

Dandi menambahkan ada motivasi ekonomi dari para kreator konten ‘ngemis online’ dengan jalan mendapat popularitas secara instan lewat viral.

Semakin cepat terkenal, kata Dandi, semakin banyak mempengaruhi orang untuk melakukan hal serupa. Terlebih, platform juga memfasilitasi fitur pemberian hadiah yang bisa ditukarkan dengan uang tunai.

Dandi berkaca pada pengumpulan koin bagi Prita Mulyasari yang menuai simpati luas netizen pada 2009. Hal itu terjadi usai Prita, yang mengungkap buruknya layanan kesehatan. digugat oleh Rumah Sakit Omni Internasional dalam kasus pencemaran nama baik.

Cara meredam tren negatif di halaman berikutnya…



Cara Setop Tren Ngemis Online

BACA HALAMAN BERIKUTNYA



Sumber: www.cnnindonesia.com